Black Dress

Black Dress
Kontrak Nikah


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu semenjak Nessa bertemu dengan Axel. Dan semenjak itu pula, dia merasa hidupnya tidak tenang lantaran selalu didatangi oleh sekretaris Axel yang memintanya untuk keluar dari butiknya sendiri karena tempat yang Nessa sewa untuk saat ini sudah di beli oleh perusahaan Axel.


"Aku sudah bicara dengan pemilik tempat ini. Sekarang tempat ini sudah resmi milik perusahaan MoonGroup. Jika kau masih ingin menggunakan tempat ini, ada syaratnya," jelas pria berdasi itu kepada Nessa.


Telinga Nessa rasa terbakar mendengarnya. Dia tau jika Axel melakukan ini semua untuk membuatnya tunduk dan tidak berkutik lagi. Dan pria itu menggunakan uang dan kuasanya untuk mewujudkan rencana busuknya itu.


"Bisakah kau memberiku waktu paling lama satu minggu? aku akan segera mencari tempat baru, tapi sebelum itu, tolong biarkan barang-barang ku disini," Nessa memohon. Tidak mungkin dia bisa menemukan tempat sewaan baru dalam waktu cepat. Apalagi uang untuk menyewa tempat yang mungkin harganya sangat tinggi itu akan menguras tabungannya dan Nara. Sebenarnya Nessa benar-benar tidak punya pilihan lain selain menuruti syarat itu. Tapi dia juga tidak mau berada di bawah kekuasaan Axel.


"Jika kau masih ingin menggunakan tempat ini. Maka kau harus menyetujui ini." Pria itu bersikeras.


Nessa melemaskan bahunya. Dia memijit pelipisnya yang terasa nyeri. "Bisakah aku bicara dengan atasanmu?" tanya Nessa. Dia harap Axel dapat memberinya keringan walaupun harapannya untuk itu sangat kecil.


Pria itu terlihat berpikir sebelum mengambil handphone dan menghubungi Axel. Sedetik kemudian panggilan pun tersambung dan Nessa segera merebut handphone pria itu tanpa menunggu persetujuan darinya.


"Bisakah kau memberiku waktu satu Minggu? aku akan segera pergi dan mencari tempat baru setelahnya," tawar Nessa dengan nada sedikit kesal. Ya, semenjak bertemu dengan Axel, emosinya benar-benar dipertanyakan padahal sebelumnya Nessa adalah orang yang tidak mudah marah.


"Apa kau pikir aku sebodoh itu? Membiarkan mu satu Minggu lagi dan setelahnya kau mencari tempat baru? Hei, aku melakukan ini agar kau mau menuruti permintaan ku untuk menikah denganku. Dan seenaknya kau memintaku untuk memberimu waktu? Oh tentu tidak sayang. Bahkan jika saat ini kau menemukan tempat baru untuk di sewa pun aku akan segera membelinya lagi!" Ujar Axel di seberang sana. Dia bahkan terkekeh menertawakan tawaran Nessa.


Nessa mendengus kesal, " Bagaimana jika aku ini orang lain? Apa kau akan tetap menggunakan trik yang sama untuk menguasainya?" selidik Nessa kesal.


"Jika orang lain itu adalah pujaan hatinya Garel. Tentu saja aku akan melakukan hal yang sama untuk mendapatkannya."


Nessa menghela nafas panjang mendengar penuturan Axel. Sepertinya dia memang tidak bisa melakukan apapun lagi untuk menyelamatkan diri.

__ADS_1


"Apa yang kau inginkan dariku? Kau ingin menikahi ku karena apa? aku bahkan bukan orang kaya yang bisa kau nikmati hartanya. Kau akan rugi jika menikah denganku, Axel!" Nessa mencoba merendahkan dirinya sendiri berharap Axel mau berpikir ulang dan tidak mau menikahinya.


"Aku tidak menginginkan harta mu sayang. Aku sudah bergelimang harta semenjak aku kecil. Aku tak butuh hal seperti itu lagi," jawab Axel dengan nada bangga.


Nessa mengepalkan tangannya. Kesal.


"Jika kau menikah denganku, tempat dan gedung itu bahkan akan menjadi milikmu jika kau mau."


Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Nessa. Dia benar-benar tidak tau lagi menghadapi Axel. Pria itu sangat cerdas dalam bicara.


"Tapi aku yakin orang tuamu pasti tidak setuju!" Akhirnya Nessa menemukan alasan lain. Dia menggigit bibirnya, alisnya terangkat menunggu jawaban Axel. Dalam diam dia berharap Axel berubah pikiran.


"Orang tuaku juga bukan tipe yang pemaksa. Mereka bahkan membantuku untuk mendapatkan apa yang aku mau."


Kali ini Nessa benar-benar menyerah. Dia menutup panggilan itu dan memberikan handphone itu kepada pemiliknya.


Nessa menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. Dia terlihat berpikir keras. Ingin sekali dia menolak, tapi jika dia menolak itu berarti dia akan siap-siap mengalami kerugian dan kehilangan usaha butiknya. Padahal ini adalah sumber utama penghasilannya yang membantu dia untuk membiayai kuliah adiknya.


"Aku tidak punya pilihan lain selain setuju," balas Nessa kemudian mengambil pulpen yang terletak di meja. Dia membaca semua persyaratan pernikahan kontrak yang diajukan oleh Axel tanpa minat.


Nessa mendengus. Dia berpikir Axel terlalu kekanak-kanakan. Tapi Nessa akan mengikuti permainan cowok itu hingga dia mendapat celah untuk bercerai.


Dengan berat hati, Nessa menandatangani kontrak itu. Nessa mendengus kesal sedangkan pria di depannya itu tersenyum puas.

__ADS_1


"Aku yakin kau tidak akan menyesal menikah dengan tuan Axel. Dia kaya dan tampan. Bahkan banyak gadis yang ingin menjadi istrinya. Tapi kau beruntung karena tuan Axel sendiri yang menginginkan mu menjadi istrinya," ujar pria itu kemudian setelah penandatanganan kontrak selesai.


Nessa melipat tangannya, dia mendengus geli mendengar kata 'beruntung' itu keluar dari mulut pria yang menjabat sebagai sekretaris Axel.


"Dan aku berpikir dialah yang beruntung mendapatkan aku," sindir Nessa tak terima.


Pria itu juga mengangguk singkat dan tersenyum, "Dia juga beruntung mendapatkan istri secantik dirimu," pujinya kemudian.


Nessa kembali menghela nafas. "Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?" tanya Nessa.


"Tanggal pernikahan mu akan segera di atur. Kau tenang saja, tuan Axel tidak akan meminta dana sepersen pun darimu. Kami akan mengabari mu secara berkala," ucap pria itu sembari bangkit dari duduknya.


"Kalau begitu saya pamit dulu nona." Pria itu mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Nessa. "tempat ini resmi menjadi milikmu."


"Terimakasih," ucapnya dan membiarkan pria itu pergi dari butiknya.


"Apa yang harus aku lakukan Nara?!" rengek Nessa pada karyawan yang sudah seperti sahabatnya itu.


"Aku tidak memiliki cara lain untuk menyelamatkan usaha kita. Kau bahkan mendengarnya, kan? Mereka bahkan ingin membeli tempat yang nanti kita temukan." Nessa menghela nafas panjang.


"Sudahlah. Mungkin ini takdirmu juga. Setidaknya dia pria kaya dan tampan seperti yang sekretarisnya bilang," gurau Nara diiringi kekehan.


"Kau bahkan sama saja seperti pria tadi," umpat Nessa kesal.

__ADS_1


Nara kembali terkekeh. Sebenarnya dia juga merasa kasihan kepada sahabatnya itu. Tapi dia juga bukan dari keluarga kaya yang dapat membantu Nessa keluar dari masalahnya.


...----------------...


__ADS_2