Boneka Pembunuh

Boneka Pembunuh
1. Hari ke 29


__ADS_3

Pagi menjelang siang menandakan langit semakin membiru. Aku bosan hanya duduk tegak disini. Tubuh yang tak dapat kugerakkan, ingin rasanya ku merentangkan tanganku sejenak dan menghirup wangi bunga di taman. Tentu saja aku tak bisa melakukannya, ruangan sempit berukuran 20cm x 20cm x 30cm ini membuatku tak bisa bergerak bebas. Jangankan merentangkan tangan, kaki bergeser sedikit pun tidak bisa kulakukan.


Mungkin memang akan seperti ini dan terus seperti ini. Ingin rasanya aku dijemput tuanku. Hari ini adalah hari ke-29 aku di tempat ini, 1 hari menjelang hari ke-30. Ya... peraturan disini begitu membingungkan, bagi siapa pun disini pada hari ke-30 yang belum bertuan, maka akan dipindahkan ke ruangan pojok itu. Ruangan itu menjadikan ruangan yang menyeramkan, itu adalah ruang kegelapan. Tak seorang pun tahu ruang seperti apa itu, namun selalu senyap dan sunyi. Tentu saja aku tahu, meskipun aku tak bisa menoleh karena ruangan itu berada disampingku.


Bubby, itulah namaku. Aku tak pernah tahu seperti apa wajahku, rambutku, mataku, dan seluruh tubuhku. Aku berada di ruangan sempit yang berdinding transparan ini. Semuanya sama sepertiku. Pada bawah dinding transparan ini terdapat kertas berbentuk pita yang tak kutahu warnanya.


Bonni dan Burry itulah temanku disini. Tentu saja mereka berada di ruangan yang berukuran sama sepertiku. Bonni ialah sosok lelaki tampan, bertopi baret berwarna hitam, memiliki rambut pirang sebahu, memakai jaket jeans berwarna hitam dengan kaos berwarna serasi, tak lupa sepatu botnya berwarna hitam dengan hiasan seperti duri dari logam. Sedangkan Burry ialah sosok perempuan manis nan imut, berambut panjang sepinggang dan dikucir dibelakang tak lupa hiasan di rambutnya berbentuk kupu-kupu berwarna pink muda, memakai jaket jeans berwarna biru tua dengan kaos putih polos, menggunakan rok bawahan jeans berwarna hitam selutut, tak lupa sepatunya yang imut yaitu sepatu boots cokelat berhak tinggi 5 cm.

__ADS_1


Temanku sangat baik dan humoris. Bonni sudah berada disini 10 hari dan Burry 8 hari. Meskipun aku dan mereka berbeda selisih hari, namun kami sangat senang. Mereka mengatakan kepadaku bagaimana bentuk tubuhku ini. Kata mereka aku berwajah bulat, memiliki warna mata biru tua, berambut oranye di kepang dua, dengan tubuhku yang sedikit gemuk, aku memakai rok berwarna putih selutut dan bersepatu oranye tanpa hak.


Kami bersenda gurau dari tempat kami masing-masing. Setiap pagi hingga sore selalu saja ada cerita apapun yang kami lontarkan.


Kata mereka, aku imut dan lucu. Namun, aku begitu menyeramkan saat malam hari. Setiap pukul 00.00 aku menjerit dan berusaha merusak dinding transparan ini, saat semakin berontak tubuhku semakin terasa panas sekali, mereka hanya menatapku tanpa berbicara sedikit pun. Aku kesal dan tidak tahu kenapa aku begini, mereka bilang dinding atasku terdapat kertas kuning bertuliskan simbol-simbol aneh yang mereka tidak ketahui. Namun, aku tak pernah tahu apakah aku benar-benar melakukannya.


"Bubby, tenangkan dirimu. Sinar itu semakin membuatmu marah,"

__ADS_1


ucap Burry yang ketakutan melihatku.


"Bubby, ingat kami dan sadarlah,"


timpal Bonni mengingatkanku.


perkataan mereka hanya membuatku semakin memberontak dan marah setiap kali.

__ADS_1


__ADS_2