Boneka Pembunuh

Boneka Pembunuh
Kota yang tenang


__ADS_3

Mataku bergerak membuka katupan kelopak mata. Cahaya yang menembus dari luar ke dalam bis membuatku semakin melebarkan mataku.


Entah berapa lama aku tertidur. Semua seakan sebentar tapi juga terasa sedikit lama. Bubby yang sudah sedikit merilekskan badannya kemudian menoleh kursi sampingnya.


(Tunggu, sepertinya ada yang hilang tapi apa?) batin Bubby sembari mengingat.


Sekian detik,sekian menit, dan satu jam berlalu Bubby tak mengingat apapun. Dia hanya ingat dirinya yang tertidur di bus merah ini.


Sembari mengingat kejadian apa yang terjadi, Bubby menoleh kanan, kiri, depan, dan belakang. Namun tak ada yang berubah, sosok yang tak beda jauh dengan dirinya.


Mereka juga terkejut serta heran ada dimana mereka sekarang. Namun, Bubby menangkap sosok yang terasa familiar. Bertopi baret dan satunya berambut di kuncir. Tak salah lagi itu Bonni dan Burry.


(Tapi kenapa mereka disini?) lirik Bubby sembari membalikkan badannya.


krietttt....


Suara pintu bus terbuka perlahan. Tulisan di palang tepat di atas supir dengan gaya modernnya berjalan lalu menghilang. Aku memahami maksudnya. Ku putuskan turun dari bus itu sembari mengenal penduduk di kota yang tak pernah aku tahu sebelumnya.

__ADS_1


Sebuah bangunan bergedung tinggi dengan desain abstrak. Pepohonan dengan bentuk yang berbeda dengan dunia manusia. Langit yang berwarna ungu serta awan yang berbentuk tak biasa ini ku sebut Kota Metropolitan. Tak asing bukan namun ini jauh lebih maju.


Ku berjalan menelusuri setiap jalan kearah tak tentu. Aku hanya melihat dansesekali menyapa penduduk di jalan yang kutemui. Dan tak lupa aku bertanya kepada mereka tentang bagaimana aku tinggal.


Salah satu warga bersedia menceritakan semuanya kepadaku. Di kota ini jika ingin mendapatkan rumah itu sangat mudah, mendaftarkan diri di sebuah gedung terbesar dengan simbol angka 7. Sebenarnya kota ini dimiliki oleh seorang CEO terpandang di kota dengan uangnya sendiri.


Bubby memutuskan berjalan menuju gedung terbesar itu. Sebuah gedung dengan bentuk spiral yang entahlah berapa lantai. Gedung itu sangat tinggi seperti gedung pencakar langit. Simbol angka 7 terpampang jelas di tengah-tengah gedung.


Bubby berjalan menuju gedung tersebut setelah mendapat ijin dari ruang pertemuan. Bubby memasuki lift berbentuk oval berwarna putih terlihat seperti kapsul. Kecepatan lift tersebut begitu cepat. Baru saja Bubby berdiri sekitar 3 detik lift sudah terbuka dan menunjukkan lantai paling tinggi.


Seorang laki-laki duduk di sebuah kursi yang menurutku itu sebuah singgasana. Yang mengejutkan buatku adalah dia sesosok manusia dewasa. Aku baru menemukan sesosok manusia di sebuah kota Metropolitan ini. Semua penduduk adalah sosok yang tak beda jauh dari Bubby. Meskipun ada sosok manusia itu hanyalah sebuah boneka robot yang sangat mirip dengan manusia, namun dari gerakan gestur tubuh itu berbeda ya dia tak bisa melakukannya persis seperti manusia asli.


"Hai nona manis, ada perlu apakah dirimu?" tanya manusia itu.


"Hai tuan, maaf mengganggu aku hanya ingin mendaftarkan diriku disini dan mendapatkan tempat tinggal," ucap Bubby menjelaskan.


"Oh kau si tamu itu, tak kusangka aku akan bertemu dengan Bubby,"

__ADS_1


"Da-darimana tuan tahu jika aku Bubby," tanya Bubby curiga.


"Kau ini, bukankah dirimu yang memperkenalkan tadi di ruang pertemuan. Dan kabar tentang bus merah membawa penumpang luar juga terpampang di berbagai penjuru kota, jadi siapa yang tak mengenalmu Bubby," ucap pria itu menjelaskan.


"Oh ya namaku adalah Seokjin CEO di gedung 7 Senang berkenalan denganmu Bubby dan selamat datang di kota ini" ucap pria itu yang bernama Seokjin sembari memberi sebuah kapsul putih berbentuk pipih sebesar ibu jari manusia.


"Ini adalah kunci rumahmu, dan kamu hanya perlu mendesain rumahmu sendiri. Caranya mudah kok hanya membayangkan rumah impianmu," ucap Seokjin seakan tahu isi pikiran Bubby.


"Ohhh aku kira mendesain sendiri. Aku kan tidak bisa menggambar dnegan baik. Oh ya.. bagaimana caraku membayar," tanya Bubby sembari memencet tombol kapsul pipih itu.


"Tenang saja, kamu hanya perlu pergi ke luar kota setiap satu bulan sekali. Kamu hanya perlu membayarnya dengan darah manusia," ucap lelaki itu datar dan tajam.


"Da-darah.. Bagaimana caranya? apakah aku harus melukai mereka?" ucap Bubby keheranan.


"Pintar juga kamu By, tak hanya melukai membunuh jika itu perlu. Kamu akan keluar kota pada bulan ke 4 sebab, dirimu sudah membayar darah dengan 3 ornag korban,"


Bubby terhenyak dan terkejut. Ternyata semua memang Bubby yang melakukannya. Pasti ketika aku datang semua masa lalku akan terpampang dilayar.

__ADS_1


__ADS_2