
Keesokan paginya, aku terbangun dan tubuhku pulih seperti semula. Tanpa sayatan, tanpa adanya robekan pada rokku. Tangan dan kakiku pun sudah tidak terikat tali rantai lagi.Tali rantai tampak putus tak utuh lagi.
Namun, yang membuatku terkejut ialah terdapat darah yang berceceran dimana\-mana. Seluruh badanku terdapat percikan darah seseorang.
"Tanganku..." Oh ya benda tajam itu ada di genggaman tanganku. Pemilik itu tertidur dilantai dengan posisi tengkurap. Lalu, darah siapa ini?. Ruangan gelap ini membuatku tak bisa melihat segalanya begitu jelas. Semuanya nampak begitu samar-samar.
Aku melangkahkan kakiku ke arah pintu. Aku membuka pintu. Namun, semuanya begitu membuatku bergidik ngeri sekaligus rasa takut menjalar ditubuhku. Semuanya terlihat hancur berantakan.
Dinding transparan yang ada di toko ini sudah terkoyak dan berhamburan dimana-mana. Dinding-dinding terdapat darah yang membekas. Terdapat goresan bentuk abstrak seperti sebuah sayatan benda tajam.
Sosok mereka ada yang berdiri mematung, menangis, berpelukan dan ada pula yang menggantung di langit-langit atap. Semua melihatku ketakutan, aku yang masih bingung mencoba mencari temanku.
__ADS_1
"Bonni, Burry, dimana kalian?"
ucapku sembari melihat kanan-kiri dan atas bawah kolong meja.
Aku menemukan mereka berdiri di tempat yang sama tanpa dinding transparan yang sudah terkoyak tak beraturan itu.
Bonni bersembunyi dibelakang punggung Burry. Burry hanya menatapku marah dan mulutnya mengucapkan sesuatu yang singkat.
Sekilas kejadian beberapa tahun lalu terlintas di pikiranku. Ingatan itu kembali.
Pada tahun 1980'an sebuah kisah kelam itu dimulai. Dulu sebelum aku bersama temanku yang sudah tewas, aku adalah teman dari seorang wanita tua. Dia seorang wanita berusia 40 an. Memiliki wajah blasteran Belanda dan Jepang membuatnya nampak masih awet muda seperti usia 25 tahun.
Dia begitu menginginkan anaknya kembali. Untuk menemani rasa kesepiannya, dia memutuskan membeli sebuah boneka yang mirip dengan anak perempunnya. Dia begitu memperlakukannya begitu lembut, seakan jiwa anaknya ada di dalamnya.
Namun entah mengapa, pada suatu hari dia melakukan sebuah ritual pemindahan roh anaknya ke tubuhku. Semuanya hanyalah ilusi, yang kenyataannya bukan anaknyalah yang ada di ragaku. Kenyataan yang sebenarnya ialah sebuah makhluk berjari panjang itulah yang ada di dalamku. Namun, dia begitu licik. Dia menirukan sifat anak si wanita tua itu.
__ADS_1
Aku yang selalu berubah setiap pagi dan malamnya seakan memiliki dua roh di dalam diriku. Saat pagi sampai sore aku menjadi gadis periang namun saat malam aku menjadi gadis yang menyeramkan.
Aku bisa membunuh hewan peliharaannya satu per satu. Dia begitu menikmati hal itu, seakan anaknya hanya ingin bermain saja.
Tanpa dia sadari, dia semakin lama semakin rapuh dan wajahnya berubah menjadi tua seperti usia manusia yang berumur 70 an.
Pembangkitan roh iblis membuatnya harus memberikan darahnya untuk di jadikan santapan iblis dalam diriku.
Suatu ketika, dia melanggar perjanjiannya untuk memberikan darah pada malam itu, aku yang sudah dirasuki iblis itu merasa marah dan melukai wanita tua itu.
"Hei kau wanita j*****, mana perjanjianmu!" Seru iblis laknat itu
"Maafkan aku tuanku, aku sudah rapuh dan aku semakin lemah sehingga tak bisa memberimu darahku," ucap wanita itu yang terbaring lemah di kasur.
"Dasar penipu, ku habisi saja kau!!"
__ADS_1
Aku membunuh wanita tua itu dengan membabi buta. Teriakan ampunanya membuatku semakin muak. Aku berhenri saat wanita itu sudah tak bisa berteriak lagi. Kejadian itu membuat gempar penduduk sekitar, yang mengira adanya sebuah perampokan yang tanpa orang lain tahu bahwa sebuah bonekalah yang melakukannya..
Dan kejadian pembunuhan ith juga menimpa temanku yang tewas karena perlakuanku saat dimalam hari. Dimana saat dia sakit, aku selalu mengajak dia bermain. Dia hanya menggelengkan kepalanya sambil meminta maaf kepadaku. Namun aku yang merasa kecewa hanya selalu membuat sayatan ditubuhnya sebanyak 3x setiap malamnya. Kejadian itu membuatnya mati secara pelan-pelan.