
Ku putuskan untuk pergi dan menghilang dari mereka. Ucapan maafku sudah tak mereka hiraukan lagi.
Ku menelusuri jalan sunyi di lorong ujung kota. Sunyinya sore berganti malam mengundang semilir angin yang kencang. Gonggongan anjing di rumah-rumah warga menyalak begitu keras.
Aku yang hanya seorang boneka mengerti maksud mereka. Menyuruhku pergi dan jangan pernah kembali lagi.
Aku berjalan sembari menangis menelusuri jalan keluar kota. Namun rasa sakitku berubah menjadi rasa takut.
Derap langkah kaki yang berat, dengan irama yang sama seakan mengikutiku dibelakang.
Lampu yang menyala tak begitu terang berubah menjadi kedipan yang seakan-akan lampu itu rusak.
Gesekan ranting pohon dan semilir angin menambah suasana malam itu begitu menyeramkan.
Gonggongan anjing yang menyalak kasar menghilang bak di telan bumi. Suara serangga malam yang menyeruak di pohon-pohon menggelapkan suaranya.
drapp..drapp..drapp...drapp
Suara langkah kaki yang berirama mengikuti langkahku begitu mengganggu. Aku sudah berkeringat dingin, ragaku seakan melemah. Suara itu semakin membuatku kalut, untuk berlari saja aku sudah tak kuat.
Ku putuskan menoleh siapa itu. Ku tolehkan kepalaku perlahan untuk melihat siapa di belakangku. Tatapan mataku tak bisa menyeimbangkan kepalaku. Aku ingin mengetahui siapa itu namun, mataku seakan mengatakan jangan melihatnya.
Baru ku putarkan kepalaku 90° dari ujung ekorku menampakkan sosok. Bayangan hitam dengan mata hitam legam seakan tanpa bola mata. Senyum yang menyeringai dan sebuah tanduk di kepala. Wanita itu begitu menyeramkan. Entah mengapa aku merasa familiar akan sosok itu.
__ADS_1
Ku ingat lagi apakah dia wanita diragaku, tentu tidak. Tangan panjang wanita itu tidak sama dengan sosok itu.
Tubuhku refleks mengahadap wanita itu. Saat itulah aku terkejut dengan apa yang aku lihat.
"Kaaa-kau..." Ucapku kaget
Bagaimana tidak, wanita itu adalah temanku yang mati ditanganku. Sosok itu seakan penuh amarah dan dendam. Namun aku merasakan ketenangan saat melihatnya.
"*H**ei kamu... Sudah lama tak jumpa*," tanyanya dengan menyeringai
Aku seakan ingin memeluknya, karna aku sangat merindukannya. Teman wanitaku yang baik hati tewas begitu saja karena ulahku, bukann itu karena jiwa sosok wanita bertangan panjang.
"Tentu kamu tak melupakan aku bukan? aku sudah mendengar semuanya tentangmu," ucapnya dengan santai
"*A**ku tau itu bukan kamu, tapi aku gak yakin itu bukan hanya darinya*,"
"Apa maksudmu?"
"*K**amu akan tahu jawabnnya jika kamu berusaha mencarinya*,"
ucapnya sembari menghilng bersama angin yang kencang.
"Temanku.... jangan kai pergi tinggalkan aku lagi. Aku mohon temani aku... Aku sudah tak punya siapa-siapa lagi... hikss..."
__ADS_1
Aku menangisi kepergiannya dan sebuah pertanyaan darinya yang penuh teka-teki. Tak kusangka temanku juga tak mempercayaiku tentang kejadian itu.
Aku berlari dan terjatuh karena hatiku merasa hancur. Teman yang aku kira akan menolongku tapi ternyata juga menuduhku.
*P*agi hari
Aku sudah tiba diujung kota, dengan derai air mata yang sudah habis. Jalanan yang belum ramai namun sudah beraspal itu juga menunjukkan kesunyian serta rasa kasihan.
Suara hewan liar sudah mulai menampakkan suara perihnya. Rasa lelah yang sudah tak kuat ku tahan seakan ingin memangsa siapapun dan apapun.
Hahahahhahaha..
Suara tawa memenuhi kepalaku.
"Siapa kau.." Ucapku mencari keberadaan sosok suara ini
"Sudah ku duga memang bukan aku penyebab teman-temanmu tewas. Tapi itu dirimu sendiri,"
ucapnya yang seakan menjauh dari tempatnya.
《 HAI SEMUA... TERIMA KASIH BUAT KALIAN YANG SUDAH BERMINAT MAMPIR UNTUK MEMBACA NOVEL INI. SEBELUMNYA AUTHOR MENGUCAPKAN TERIMA KASIH BANYAK 💜💜. JIKA KALIAN MENYUKAI NOVEL INI ATAU ADA KRITIK DAN SARAN BOLEH DI KETIK DI KOLOM KOMENTAR YA. AUTHOR AKAN SANGAT BERTERIMA KASIH ATAS SEMUANYA 🙏
SELAMAT BERSENANG-SENANG 》
__ADS_1