Boneka Pembunuh

Boneka Pembunuh
Reaksi pertama


__ADS_3

Cahaya matahari sudah menyinari alam semesta hingga ke kota metropolitan. Tak sedikit para penduduknya sudah berhamburan menuju jalanan.


Warga yang ramah tak jarang yang kutemui. Aku sudah menyiapakan segala hal setelah semalaman bergelut dengan rasa yang mengganjal di hati.


"Bubby, beneran kamu mau melakukan itu?" tanya Mona sembari mengusap-usap kepalanya yang lembek.


"Lebih baik melakukannya, toh jika aku masih ada di lingkungan mereka aku tetap membunuh bukan?" jawab Bubby tersenyum tipis.


"Iya si, tapi berhati-hatilah karena tak sepenuhnya dirimu yang menjalankannya." Ujar Mona turun dari ranjang.


"Maksud kamu? Iblis yang merasukiku?" ujar Bubby.


"Iblis? Hei Bubby, kota ini terbebas dari iblis ada sebuah penghalang yang menyebabkan para iblis tidak bisa masuk," jelas Mona.


(Sebab perlakuan penduduk yang suka melukai manusia itulah iblis yang sebenarnya) batin Mona.


"Serius kamu?" tanya Bubby.


"Menurutmu? Emang selama kamu disini, kamu pernah merasakan apa yang kamu rasa di luar sana?" ujar Mona.


"Emm.. Aku tak tahu," ujar Bubby singkat.


(Benar juga aku tak pernah melihat atau merasakan kehadiran Vully, tapi kenapa aku merasa hatiku selalu bergejolak seperti merasakan ada kegiatan jahat.) ujar Bubby dalam hati.

__ADS_1


Setelah sedikit perbincangan, Bubby memutuskan untuk keluar rumah. Tak lupa si kucing Mona mengikutinya kemana Bubby pergi, seperti seorang mata-mata.


"Hai, warga baru ya?" ujar wanita itu.


"Eh iya, baru kemarin aku di sini," ujar Bubby.


"Aku Siska, terkenal dengan cara membunuh paling apik," ujar Siska sombong.


"Aku Bubby, salam kenal Siska." Ujar Bubby tak menanggapi kesombongan Siska.


"Kalau butuh apa-apa, panggil saja aku. Rumahku di belakang rumahmu lho," ujar Siska sedikit sinis.


"Iya Siska," ujar Bubby tersenyum.


Namun peringkatnya tak beda jauh dengan para penghuni rumah hitam. Dirinya terkenal hanya karena sebuah insiden pembunuhan secara halus alias pelakunya selalu menunjuk ke orang lain, dimana Siska akan membunuh seseorang jika orang itu sedang bertengkar. Jadi para warga mengira jika pembunuhan itu terjadi karena pertengkaran.


"Oh ya Bubby, kamu mau kemana?" ujar Siska sedikit menggerutu.


"Aku mah ke kota asalku. Entahlah, tapi firasatku mengatakan aku harus kesana." Ujar Bubby sembari melihat bus-bus yang menuju ke arah kotanya.


"Pembunuh suci pasti memiliki insting para korban, aku iri denganmu By," ujar Siska membuang nafasnya berat.


Setelah beberapa saat, bus itu datang juga. Bus yang sama seperti sebelumnya yaitu merah.

__ADS_1


"Aku duluan ya Sis," ujar Bubby tersenyum.


"Ya," ujar Siska cuek.


Setelah mendapat tempat duduk yang kosong, Bubby merebahkan dirinya karena lelah dan kalut terhadap isi hati dan pikirannya.


Sebuah pembunuhan yang tak ada di hatinya, namun setelah pertemuan dengan arwah temannya, Bubby memutuskan untuk menjadi pembunuh.


Tentu saja Mona tak setuju. Sebab kucing memiliki insting yang lebih kuat dan tajam. Secara insting pembunuhan Bubby hanyalah karena tak tega. Bubby memanglah pelaku pembunuhan terhadap temannya, tetapi itu dilakukannya karena Bubby tak ingin temannya mati di tangan Vully.


"Dasar wanita itu. Sombong sekali dia, hanya karena insiden itu. Padahal dirinya hanya melakukannya satu kali. Dia juga sering kali mengarang sebuah cerita tentang pembunuhan secara halus." Ujar Mona sembari melingkarkan tubuhnya.


"Bukankah emang benar dia melakukannya seperti itu, kurasa dia pembunuh yang santai," ujar Bubby sembari melihat pisau tajam di genggaman tangannya.


"Insting para kucing tak pernah berbohong Bubby. Memangnya kamu tak tahu jika hanya dia di kota ini yang tak memiliki kucing?" ujar Mona menatap Bubby yang kebingungan.


"Iya juga ya, terus kenapa?" ujar Bubby.


"Kau benar-benar payah Bubby. Tentu saja itu aneh, sebab kucing peliharaan Siska selalu melaporkan kejadian kepada tuan Seokjin. Hal itu membuat Siska geram, karena hutangnya menumpuk. Sehingga memutuskan Siska untuk membunuh para kucingnya. Namun dia lalai jika kucing itu di bunuh kehidupannya tak akan aman. Satu lagi, dia adalah warga termiskin di kota ini. Sebab meskipun rumahnya silver tetapi dia tak tercukupi secara ekonomi." Jelas Mona panjang lebar.


"Tuan Seokjin ternyata menakutkan juga ya," ujar Bubby.


"Ya begitulah kehidupan Bubby. Jika tak mengikuti aturan maka akan susah, namun jika dirimu selalu mengikuti aturan maka kehidupan yang akan mencengkerammu erat-erat dalam belenggu kesesatan,"ujar Mona.

__ADS_1


[AUTHOR MENGATAKAN MAAF YANG SEBESAR-BESARNYA KEPADA PARA PEMBACA BONEKA PEMBUNUH🙏. MAAF AUTHOR SUDAH TELAT 5 HARI DI KARENAKAN AUTHOR SEDANG FOKUS MENGERJAKAN NOVEL BARU AUTHOR. JIKA KALIAN SUKA NOVEL INI ATAU ADA KRITIK DAN SARAN SILAHKAN YA🤗]


__ADS_2