
Bubby kemudian jatuh pingsan di jalan. Suara itu semakin membuatnya pusing.
Suara gema di raganya begitu saling beradu. Tak henti-hentinya sebuah kilasan kejadian semakin membuatnya kebingungan. Bubby si sosok pendiam kini semakin mengerikan dengan kisahnya yang tak begitu elok.
Tetesan air hujan dari pelindung langit menitikkan airnya ke Bubby yang masih pingsan. Suara-suara hinaan yang hilang membuatnya sudah tenang dan sedikit demi sedikit dia mencoba bangkit. Berjalan menuju keluar kota yang tak lama lagi akan sampai.
Hujan mengguyur jalanan kota begitu deras. Lampu-lampu bertiang tinggi tak begitu terang menerangi jalanan. Mobil lalu lalang sudah bisa dihitung jari. Rumah dan toko di sepanjang jalan sudah menidurkan cahayanya.
Bubby yang bingung dan bimbang hanya berhenti pada sebuah halte dengan seorang nenek tua di pojok kursi.
Entah kenapa nenek itu selalu melihat kearahnya. Bahkan sesekali dia seakan menelan ludah. Dia seperti melihat Bubby. Keadaan yang sunyi membuat Bubby tak mau lagi bercengkerama dengan orang lain.
Drap..drap...drap...
"Hei kau, sedang apa kau di sini?" tanya seorang wanita tua
"Hei, kau tuli ya!" Ucap wanita itu keras.
"Apa kau melihatku?" tanya Bubby penuh curiga.
"Tentu saja aku melihatmu bodoh. Kau kira aku buta," ujar nenek itu yang semakin tak enak didengar.
__ADS_1
"Serius nenek bisa melihatku? Tapi kenapa?" ucap Bubby curiga.
"Tentu saja bodoh. Kau kira aku buta total apa. Meksipun mataku sudah sedikit rabun, namun makhluk sepertimu bisa ku lihat dengan jelas tau," ujar nenek.
" Baiklah aku percaya Nek," ucap Bubby engalah.
"Kau hanya sebuah boneka seharusnya tak merasakan apa-apa. Tapi...." Ucap nenek berhenti.
"Tapi apa Nek"
"Apakah kamu sudah ingat tentang masa lalumu wahai boneka merah?" ujar Nenek sembari duduk disamping Burry.
"Bubby, namamu Bubby bukan?" tanya Nenek.
"I-Iya Nek, kok Nenek tahu padahal kan Bubby belum bilang siapa namaku," ucap Bubby
embari mengelap air mata di pipi
"Tentu saja Nenek tahu, karena ada yang memberitahu," ucap Nenek santai dengan suara sedikit seraknya.
"Tunggu, bagaimana Nenek bisa melihatku? seharusnya tidak ada yang bisa melihatku sejak kejadian itu?" kejadian pembunuhan Bubby di toko membuatnya menjadi mode hilang, karena jati diri Bubby yang tak semestinya ada.
__ADS_1
"Nenek dulu juga sama sepertimu, bedanya nenek adalah manusia dan kamu boneka. Kejadian seorang yang melakukan sekutu engan iblis membuat kita menjadi hilang arah, apakah kamu tahu dari tadi bus-bus yang datang tak berhenti bukan? itu karena di halte ini tak ada siapapun apalagi ini adalah halte yang terbengkalai."
Benar juga apa yang dikatakan nenek tua ini. Semenjak perbincangan kedua makhluk beda raga ini banyak bus yang berlalu lalang, namun tak satupun dari mereka berhenti.
Sebuah bus merah dengan cahaya lampu ruangan bus yang redup sudah mendekati mereka. Bus itu terlihat berbeda dari bus-bus tadi.
"Nha, ayo naik bus itu," ajak Nenek itu kepada Bubby.
"Buat apa Nek, Bubby sepertinya hanya numpang duduk di halte ini karena Burry ingin mencari tempat yang pas," ujar Bubby.
"Ikut Nenek saja Bubby, bus ini akan membawa kita ketempat yang semestinya," ucap Nenek menyalurkan tangannya.
"Bener Nek?" ujar Bubby ragu.
"Nenek jamin di tempat itu kamu akan melihat sesuatu yang hampir sama dengan kita," ucap Nenek.
"Baiklah Nek," ucap Bubby.
Namun entah mengapa Bubby merasakan ketidaknyaman di bus itu. Dia seakan merasa bahwa tujuan dari bus ini bukanlah pertanda yang baik.
Saat itulah Bubby sudah tertidur, efek perjalanan bus itu membuat penumpang yang duduk tertidur terkecuali Nenek tua itu.
__ADS_1