
Aku memiliki teman yang begitu cantik dan lucu. Ia persis sepertiku berambut oranye dan bermata biru. Ia sangat suka memakai rok berwarna putih dengan renda warna peach. Aku sangat senang ketika bersamanya.
Setiap pagi kami selalu bermain bersama di taman sebentar sebelum dia berangkat ke sekolahnya. Saat siang hari selepas dia pulang kerumah, kami bermain ayunan bersama, lalu kami berdua makan makanan yang sudah disiapkan di teras rumah.
"Bubby, aku mau makan roti sandwich sama teh aja. Kamu mau makan apa?"
tanya perempuan itu. Tentu saja aku hanya diam, karena aku tak bisa makan makanan itu.
"Eummm.. Gimana kalau roti selai stroberi aja? sama minum teh sepertiku?"
aku hanya tersenyum melihat keramahannya.
Gadis sederhana berpipi gembul itu membuatkan aku roti selai stroberi lalu menuangkan air teh ke dalam gelas mungil. Aku hanya bisa menatapnya dan tersenyum. Kami lalu mengobrol banyak hal, dia menceritakan pengalaman sekolahnya hari ini.
__ADS_1
Senja beranjak dari tempatnya menuju malam. Tak terasa kami harus melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.
Aku menemaninya mengerjakan tugas sekolahnya sembari duduk di kursi yang menghadap balkon depan kamar. Sinar bulan purnama begitu terang hingga suara hewan malam berbunyi dengan lantang nan merdu.
"Woaahhhh..."
"Bubby, aku sudah selesai nih. Ngantuk banget ya rasanya. Aku ingin besok kita pergi jalan-jalan ke danau belakang yuk,"
ucapnya senang sambil meregangkan badannya yang mungil.
Hari itu, temanku tiada. Semua orang menangis tak henti-hentinya. Mamanya yang jarang meluangkan waktu hanya mengatakan kalau dirinya menyesali waktu. Sedangkan papanya hanya menatap tak percaya, sesekali dia menatap ke arahku menahan amarah. Aku hanya bisa menatapnya dan menahan rasa sakit kehilangan tuan pemilik. Amarahku membludak, namun desir hatiku hanya bisa diam tak bisa melakukan apapun kecuali menangis.
Aku melihat darah segar dimana-mana dan temanku tewas mengenaskan. Di samping tempatku duduk, terdapat sebuah pisau tajam berlumuran darah. Jejak kaki kecil meninggalkan bekas di setiap sudut ruangan. Jejak tangan panjang nan runcing meninggalkan jejak di sprei tempatnya tidur.
__ADS_1
"Dasar pembunuh ****. Sudah untung tinggal bersama dan bermain bersama, kenapa kau membunuhnya huh?"
teriak mamanya sambil menunjuk ke arahku.
" Sudah Ma, sekarang kita lebih baik mengurus mayat anak kita, supaya dia bisa di makamkan dengan layak,"
ucap papanya menengahi, namun tersirat amarah yang memburu terlihat di matanya.
Sejak tangisan itu, terdapat sosok yang hanya berdiri mematung di sudut ruangan. Senyumnya yang menyeringai, Mata merah menyala, dan tangan panjangnya menatapku tajam seakan-akan dialah pembunuhnya. Namun, mama dan papa tak bisa melihatnya. Sosok itu lalu menjilati tangannya yang penuh darah segar.
Pemakaman tersebut terlaksana dengan baik, aku bisa melihatnya karna aku duduk di teras rumah. Panas terik matahari tak kuhiraukan, mama dan papa tak mengajakku masuk. Mereka hanya berlalu dan seakan menganggapku tak ada.
Sejak kematian temanku, orang tuanya selalu membenciku dan mereka membawaku ke tempat ini.
__ADS_1
Tempat yang menjadi saksi, dimana semua memori tentang kisah masa lalu datang perlahan menggerogoti ingatanku.
Aku memang menginginkan seorang tuan pengganti temanku, namun apa daya semua hanya melewatiku dan tak mau sedikitpun mengajak ngobrol denganku.