
"Itu kan..." kata Allira menghentikan ucapannya.
Aldo yang heran pun langsung memalingkan wajahnya ingin melihat apa yang membuat Allira menjadi gugup dan tak tenang.
"Itu kan Radit,mantan pacar kamu" kata Aldo menoleh pada Allira.
"Baru kemarin dia memohon untuk kembali,dan sekarang sudah bersama wanita lain lagi" kata Allira sedikit sedih.
Allira memang sudah putus dengan Radit,dan tak ingin berpacaran lagi. Namun tak bisa di pungkiri, bahwa sebenarnya di dalam hatinya masih ada secuil rasa cinta untuk sang mantan kekasih.
"Apa kamu masih mencintainya?" tanya Aldo penasaran.
"Saya sudah memaafkan,tapi tak semudah itu untuk melupakan"kata Allira menjeda ucapan nya.
"Saya tidak tahu,mengapa saya bisa di buta kan oleh cinta, hingga selama ini tak bisa menyadari bahwa saya lah yang tidak di inginkan" curhat Allira kepada sang bos.
"Sudah lah, lupakan saja pria br*ngsek seperti dia. Masih banyak lelaki lain yang menantimu"
"termasuk aku" lanjut Aldo dalam hatinya.
Dan hanya di jawab anggukan oleh Allira.
Mengapa ketika bersama Allira Aldo begitu lembut dan perhatian? Bahkan mau mendengarkan curhatan nya?
Ya karena Aldo ingin mendekati Allira. Aldo sudah menyukai nya sejak masa SMA,bahkan Aldo tak pernah tertarik dengan wanita manapun selama itu, hingga akhirnya ia bisa bertemu kembali dengan wanita pujaan nya.
Aldo teringat ucapan adik perempuan nya yang mengatakan bahwa sebenarnya mendekati Allira itu mudah. Kuncinya hanya mencari perhatian nya.
Itu penyebab nya,mengapa pria yang dingin nya sedingin kulkas seperti Aldo bisa menjadi lunak bahkan mencair di hadapan Allira.
Setelah selesai berbincang dan makan siang,Aldo kemudian mengantarkan Allira kembali ke rumah kontrakan nya.
Sepanjang perjalanan,tak ada obrolan antara keduanya, mereka hanyut dalam pikiran nya masing-masing.
"Bagaimana ini, rasanya ingin sekali aku segera memiliki wanita yang ada di samping ku ini" gumam Aldo dalam hati.
"Sikat bos"lagi-lagi sang otak ikut campur dalam kegundahannya.
"Tapi, bagaimana caranya? Aku bahkan belum pernah mengatakan cinta kepada wanita manapun kecuali mama" curhat Aldo kepada otak nya.
"Katakan saja, kalau sebenarnya aku mencintaimu. Gitu saja kok susah" kata sang otak dengan santai nya
"Kan kamu tahu sendiri,Allira tak mau berpacaran. Dia kan sudah mengatakan nya tadi. Aku malah takut nanti dia menjauh lagi dariku" kata Aldo berdebat dengan isi otak nya.
"Ya kalau begitu nikahin langsung d*dol" caci sang otak.
"Dasar b*doh,mana mungkin dia mau" caci Aldo kepada otak nya
"Kalau dia tidak mau,carikan dukun yang hebat,untuk menjampi-jampi nya" kata sang otak memberi solusi.
"Sudah sudah, tak ada untung nya berdebat dengan mu" kata Aldo kemudian kembali memfokuskan pandangan pada jalanan di depan nya.
Sementara Allira,hanyut dalam bayangan masa kecil nya.
Dimana saat itu ia sedang bermain seorang diri. Dia yang masih menjadi putri seorang bos besar,mengharapkan memiliki suami yang tampan.
"Kalau aku sudah besar nanti,aku ingin memiliki suami yang kaya dan tampan" kata Allira saat itu.
Namun kini ia sadar,bahwa tak mungkin lagi untuk mendapatkan lelaki seperti itu.Karena Allira sadar,bahwa dirinya hanya lah seorang gadis biasa,bukan dari kalangan orang kaya.
Allira tersenyum kecut dalam lamunan nya.
...****************...
1 jam perjalanan terlewati. Tak terasa kini mereka sudah sampai di depan kontrakan Allira.
"Sekali lagi terima kasih banyak, bapak sudah menolong saya tadi. Dan terima kasih juga untuk makan siang nya hari ini" ucap Allira sedikit sungkan.
"Baiklah,saya pamit dulu. Masih ada banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan" kata Aldo sambil mengangguk
"Baik pak,besok saya langsung masuk bekerja dan menyelesaikan pekerjaan saya yang sempat tertunda hari ini" kata Allira kemudian
"Apa kamu yakin sudah bisa bekerja? Jika kamu ingin istirahat, istirahat lah dahulu" ucap Aldo
"Tidak pak,saya akan istirahat sel
telah ini. Dan besok saya sudah bisa bekerja lagi" kata Allira meyakinkan sang bos.
__ADS_1
"Baiklah,saya permisi dulu" kata Aldo kemudian kembali melajukan mobil miliknya.
Di dalam mobil,Aldo tampak menelepon seseorang.
"Halo. Awasi gadis itu dengan baik,ikuti kemana pun jika dia tampak meninggalkan kontrakan nya. Dan laporkan kepada saya setiap ada pergerakan. Saya tidak mau hal serupa terulang lagi" kata Aldo kepada orang kepercayaan nya.
"Baik bos" jawab anak buah Aldo.
Ia pun kemudian melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang menuju kantor nya.
"Masih pukul 14:00, masih ada waktu untuk mengurus wanita itu" ucap Aldo kemudian.
Ia pun melajukan mobil nya menuju ke kantor nya.
Setiba nya di kantor,Aldo langsung menuju ke ruangan milik nya. Sebelum sempat memasuki ruangan,Ana yang sejak tadi gelisah memikirkan apa yang terjadi refleks memanggil nya.
"Pak Aldo" sapa Ana
"Iya,ada apa Ana?" tanya Aldo.
"Ee anu pak" kata Ana gugup
"Ada apa? katakan saja"
"Anu pak, sebenarnya apa yang terjadi kepada Allira? Dan bagaimana keadaan nya saat ini?" tanya Ana dengan gugup.
"Kamu tenang saja,gadis itu baik-baik saja" jawab Aldo singkat. Kemudian masuk ke dalam ruangannya.
Ana yang belum puas dengan jawaban Aldo terlihat sedikit kesal.
"Iih,untung saja dia bos ku. Jika tidak sudah ku gecek-gecek tu orang jadi dendeng balado" gumam Ana kesal.
Di dalam ruangan nya,Aldo tampak sibuk dengan laptop milik nya. Ia tampak sedang mengerjakan sesuatu.
"Ah,dapat! M*mpus kamu. Siapa suruh berani macam-macam dengan gadis ku. Tunggu saja,kamu pasti akan menyesal " gumam Aldo seorang diri.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu tak membuatnya menghentikan aktifitas nya dengan laptop di hadapan nya.
Tampak Ricki memasuki ruangan Aldo
"Haah,sudah beberapa hari aku tak mengunjungi mu. Rasanya aku rindu dengan ruangan ini. Ruangan yang selama beberapa tahun ini cukup menyiksaku " kata Ricki menyindir sang mantan bos.
Namun tak di indahkan oleh Aldo. Jangan kan menanggapi,mendengarkan saja tidak.
"Hei bro,sedang mengerjakan apa sih? Kok serius amat" Kata Ricki sambil mendekat ke meja Aldo.
Aldo pun kemudian refleks langsung menutup laptop milik nya.
"Ini masalah perusahaan ku. Kamu orang luar jangan ikut campur" kata Aldo mengingatkan Ricki.
"Jika aku ingin,sudah ku alih namakan perusahaan mu atas nama ku sejak lama" kata Ricki mengancam
"Berani kamu melakukan itu,ku geprek kamu. Biar jadi ayam geprek" ancam Aldo.
"Yaa baiklah" kata Ricki mengalah.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Aldo kemudian.
"Aku ingin mencari mu. Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu" Kata Ricki berubah menjadi serius.
"Apa?" tanya Aldo cuek dengan sikap Ricki yang sok serius.
"Apa benar,kamu berpacaran dengan asisten pribadi mu sendiri?" tanya Aldo serius.
"Oh itu" ucap Aldo gugup namun tetap mencoba untuk tenang.
"Sebenarnya,aku dengan nya hanya berpura-pura pacaran agar mama dan papa tak menjodohkan aku dengan Clara terus. Kamu tau sendiri kan,aku tak pernah menyukai wanita itu" kata Aldo mencoba mencari alasan yang tepat.
"Lalu,kamu manfaat kan wanita polos ku itu?" tanya Ricki tak percaya.
"Tunggu,apa? wanita mu?" tanya Aldo sengaja menekan kan kalimat terakhir nya.
"Yaa tentu saja" jawab nya santai
"Wanita mu? Akan ku tempeleng kau jika berani mengatakan nya lagi" gumam Aldo dalam hati.
__ADS_1
"Sudah lah Rick,jika kamu tak ada niat untuk serius,tak perlu kamu mendekati nya. Jika hanya untuk bersenang-senang,cari saja wanita malam mu itu" jeda Aldo.
"Aku hanya kasian saja kepada Allira. Wanita polos seperti dirinya tak pantas dengan mu yang barbar" lanjutnya kemudian.
"Apa maksud mu? Bagaimana kau bisa mengatakan itu padaku? Meskipun setiap malam aku ke diskotik untuk melahap wanita-wanita yang ada di sana,tapi aku masih waras. Tidak mungkin wanita alim dan polos seperti asisten mu itu ku jadikan mangsa juga" kata Ricki membela diri.
"Baiklah,tapi jika kamu berani macam-macam dengan nya,aku yang akan menghajar mu" ancam Aldo
"Wow wow wow ada apakah dengan bos garang nan dingin kita ini? Mengapa tiba-tiba menjadi sensi sekali? Apa jangan-jangan kamu menyukai asisten mu itu?" tanya Ricki mengintimidasi.
"Eh tidak. Dia adalah asisten ku,pegawai ku,karyawan ku, aku tidak mau saja karyawan ku terlibat hal seperti itu. Aku dan perusahaan ku juga yang akan malu" kata Aldo mencari alasan.
Memang,selama ini Aldo ketat memberi peraturan. Jika ada karyawan nya yang melakukan hal-hal di luar norma,maka ia tak kan segan untuk memecatnya.
Tapi,bagaimana dengan Ricki yang terlampau barbar? Hanya Ricki yang tau dan mampu membujuk dan merayu sang mantan bos.
"Yaa baiklah" kata Ricki singkat.
"Oh iya,apa kamu kesini hanya ingin membahas Allira itu saja?" tanya Aldo kemudian.
"Tidak"
"Lalu? Apa tujuan kamu sebenarnya datang kesini?"
"Sebenarnya aku kesini mau memberi tahu mu,bahwa ada seorang karyawan mu yang menjadi pengkhianat" kata Ricki mendadak serius dan di tanggapi serius pula oleh Aldo.
"Siapa? Bagaimana bisa?" kata Aldo bertanya-tanya.
"Kamu tidak percaya? Lihat lah. Di sini ada bukti-bukti yang cukup untuk sekedar meyakinkan mu. Tapi belum cukup kuat untuk membawa nya ke jalur hukum" kata Ricki sambil menyerahkan flashdisk yang di bawanya.
Aldo kemudian membuka laptop nya dan melihat isi dari flashdisk itu.
Di dalam nya terdapat dokumen-dokumen penting yang rasanya tak pernah ia tanda tangani,namun heran nya di sana terdapat tanda tangan dirinya.
"Sepertinya aku tak pernah menanda tangani dokumen ini. Kenapa tiba-tiba ada tanda tangan ku di sana? Dan.. Astaga" kata Aldo terkejut.
"Proyek besar ini,aku belum ada meeting dengan mereka. Tapi,mengapa sudah ada tanda tangan ku?" tanya Aldo terkejut.
"Ya. Itulah yang ingin ku katakan padamu. Bagaimana kamu bisa seceroboh ini?" tanya Ricki kemudian.
Aldo pun kemudian mengingat kejadian beberapa bulan lalu ketika ia dan Ricki ke Singapura untuk mengadakan pertemuan dengan salah satu rekan bisnisnya.
Sekaligus ingin mengunjungi adik nya yang melanjutkan studi di sana.
Saat itu ia berpesan kepada Pak Arman agar mengatakan kepada rekan-rekan meeting yang lain untuk menunda meeting dengan perusahaan Putri Seroja itu.
"Pantas saja mereka tak pernah menghubungiku untuk meeting" lanjutnya kemudian.
"Yaa,karna mereka memang sudah mendapatkan tanda tangan mu" kata Ricki melengkapi ucapan Aldo.
"Tapi,siapa dalang di balik ini semua? Apa mungkin pak Arman?" tanya Aldo penasaran
"Entah lah. Itu lah yang jadi tugas mu. Aku tak mungkin terlalu dalam lagi ikut campur dalam urusan perusahaan mu" kata Ricki.
"Baiklah,aku pergi dulu. Kalau kamu butuh bantuan,hubungi saja aku" lanjut Ricki kemudian pergi meninggalkan Aldo yang masih fokus pada layar laptop nya.
"Baiklah. Terima kasih atas informasinya " kata Aldo kemudian kembali fokus pada layar laptop nya.
Aldo kemudian meraih gagang telepon yang ada di atas meja,kemudian menghubungi pak Arman.
"Halo pak Arman,keruangan saya sekarang" perintah Aldo kemudian kembali meletakkan gagang telepon ke meja.
Tak lama kemudian,pak Arman tampak mengetuk pintu ruangan Aldo
"Masuk" kata Aldo kemudian mempersilahkan bawahan nya itu untuk duduk.
"Ada apa bapak memanggil saya?" tanya pak Arman tak mengerti.
"Saya mau tanya hal penting sama kamu. Dua bulan lalu,ketika saya dan Ricki akan ke Singapura,saya menyuruh bapak untuk menunda meeting dengan perusahaan Putri Seroja. Apa kamu sudah mengerjakan perintah saya?" tanya Aldo serius dengan wajah garang nya.
"Sudah pak" jawab pak Arman mantap.
"Tapi,mengapa di kontrak kerja sama sudah ada tanda tangan saya? Siapa yang mengadakan pertemuan dengan mereka?" tanya Aldo terbuka terhadap orang kepercayaan nya itu.
Selain Ricki,Aldo memiliki pak Arman sebagai orang kepercayaan di perusahaan nya. Yang mana pak Arman sudah mengabdi kepada perusahaan selama 15 tahun lebih,dan tak pernah ada kesalahan yang di lakukan nya.
"Akan saya selidiki perihal ini pak. Sebenarnya setelah mendengar penjelasan bapak,saya mencurigai seseorang. Tapi akan saya selidiki dulu kebenaran nya" kata pak Arman
"Baiklah. Kalau begitu kamu boleh keluar" kata Aldo kepada pak Arman yang langsung berdiri dan meninggalkan atasan nya itu.
__ADS_1
"Astaga.. Kenapa masalah selalu datang bertubi-tubi. Masalah Allira belum selesai,datang lagi masalah ini. Argh" teriak Aldo frustasi.