Buka Pintu!

Buka Pintu!
1 ~ Permulaan


__ADS_3

"Bersiaplah, perlahan kalian akan hancur!"


--


Pagi ini keluarga besar Pramoedya akan pergi berlibur.


Liburan kali ini bukan hanya liburan biasa yang hanya mengunjungi satu tempat.


Ini adalah liburan termewah yang keluarga itu rencanakan sejak lama. Mereka akan mengunjungi Gunung, Pantai, dan Camping di hutan.


"Untuk liburan kali ini, pokoknya Renita pengen seru seruan. Ayah sama bunda enggak boleh larang larang Renita!" Ujar Renita Pramoedya, anak kedua dari Arga Pramoedya.


"Apasih yang enggak buat anak ayah tersayang" Jawab Arga memanjakan anaknya itu.


"Tapi di sana kamu nggak boleh kelewatan" Ujar Nita memperingatkan anaknya yang bandel.


"Tuh kan! belum apa-apa aja Renita udah di larang sama bunda" Rajuk Renita bersedekap.


"Udah, ayo masuk mobil. Kita berangkat!" Tengah Alvin Pramoedya, kakak dari Renita.


Semuanya sudah bersiap di dalam mobil.


Bagian depan ada Arga dan Nita, bagian tengah ada Alvin dan Renita, sedangkan bagian belakang ada Sinta adik Nita dan Eno anaknya.


"Semua siap?" Tanya Arga bersemangat.


"Siaaapp dong!!" Jawab yang lainnya kompak.


Arga melajukan mobil kijangnya secara perlahan, keluar dari permukiman kecil di daerah pedesaan.


Jalan yang cukup terjal membuat mobil yang mereka tumpangi bergerak kesana kemari.


Pepohonan yang rimbun berjejer di kanan kiri jalan. Untung saja sekarang pagi hari, mungkin jika malam suasananya akan mencekam.


Minimnya pencahayaan di daerah tersebut membuat semua terlihat gelap, banyak bunyi serangga serangga kecil yang membuat bulu kuduk berdiri.


"Kak bukain kaca mobilnya dong, berat nih" Keluh Renita yang kesusahan membuka kaca mobil.


"Manja!" Ketus Alvin lalu membuka kaca mobil sebelah adiknya.


"Bodoamat!" Kesal Renita lalu membuka sebungkus permen ditangannya.


"Renita! yang sopan sama kakak kamu!" Nita menolah dengan tatapan tajamnya, sedangkan Renita hanya mengendikkan bahu acuh.


Renita menggerakkan tangannya keluar jendela, membuang bungkus permen begitu saja.


"Jangan" Celetuk Eno dari belakang, sontak semua menoleh kearahnya.


"Kenapa sayang?" Tanya Sinta mengelus rambut Eno.


"Teteh jangan buang sampah sembalangan" Jawab Eno dengan suara cadelnya.


"Orang cuma sampah secuil" Kesal Renita karena dinasihati anak berumur empat tahun.


"Jangan bandel kamu!" Sentak Nita marah "Sabar bun" Ujar Arga mengelus bahu istrinya.

__ADS_1


"Nanti ada teteh jelek yang ikut"


Semua terdiam, siapa yang dimaksud 'teteh jelek' oleh Eno?


Semenjak perkataan Eno tadi, tidak ada lagi percakapan dalam mobil tersebut.


Semuanya hening, sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Renita sedang memainkan ponselnya, ia menggerutu pelan karena pesan dari teman temannya.


Renita menceritakan apa yang di katakan Eno saat ia membuang sampah dari luar kaca mobil.


Teman temannya begitu heboh dan antusias menanggapinya.


"Mungkin ada setan kali" ~Ananda


"Iya kali tuh, kuntilanak?" ~ Echa


"Apaan sih? kalian jangan aneh aneh deh. Setan dan lain sebagainya itu takut sama gue. Apa lagi kuntilanak? dia minder sama kecantikan princess Renita" ~ Renita


"Hati hati aja! kecerobohan lo, sekecil apapun itu akan membawa malapetaka bagi keluarga lo!" ~Rein


"Eh anak aneh muncul" ~Ananda


Renita mengerutkan dahi bingung setelah membaca pesan dari Rein, si anak misterius yang memiliki banyak teman dari dunia lain.


"Maksud lo apaan sih nenek sihir?" ~Renita


Dengan perasaan bingung dan kesal, Renita mematikan ponselnya begitu saja.


Renita bergerak gelisah dalam tidurnya, banyak peluh membanjiri dahinya.


"Enggak!! jangann!! Jangan bunuh kita!!" Teriak Renita yang mulai menangis meraung-raung.


"Pergi kamu! dasar wanita jelek berbau busuk!"


Semua kaget dan bingung melihat Renita yang meraung-raung dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Renita! Kamu kenapa dek?" Ujar Alvin panik berusaha membangunkan adiknya.


"Aaaaaaaaa!!!" Tariak Renita lalu terduduk dengan sempurna.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Arga khawatir.


"Aku nggak suka perempuan jelek!" Teriak Renita ketakutan.


"Siapa? siapa yang kamu maksud wanita jelek? kamu mimpi apa sayang?" Tanya Arga beruntut.


"Renita nggak tahu ayah, dia bau busuk, mukanya hancur.. Renita takut, dia mau bunuh Renita" Jelasnya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Itu salah teteh!" Celetuk Eno yang membuat Renita tambah kesal.


"Kamu jangan aneh aneh kalau ngomong! ini mesti salah kamu! kamu penyebab mimpi buruk aku!" Teriak Renita menuding Eno.


"Renita jaga omongan kamu! anak kecil seperti Eno tidak tahu apa apa! Mana mungkin dia penyebab semua ini?" Nita menarik tangan anaknya agar kembali terduduk.

__ADS_1


"Eno sayang, siapa tante jelek itu?" Lanjut Nita menatap Eno dengan lembut.


"Bunda apa apaan? ngomong sama aku aja kasar! kenapa sama Eno lembut!? Bunda ga adil!" Teriak Renita yang membuat Nita tambah murka.


"Diam kamu!" Sentak Nita yang masih berusaha sabar.


Tidak ada yang berani menyela pertengkaran antara ibu dan anak itu.


Semua tahu bahwa Renita adalah anak angkuh yang selalu bertindak sesukannya, tanpa memikirkan akibat dari perbuatannya.


Sedangkan Nita sebagai bunda dari Renita berhak menegur jika anaknya melakukan kesalahan. Namun itu semua hanya angin lalu bagi Renita.


"Eno, kenapa sayang?" Tanya Sinta karena sedari tadi anaknya itu melihat kearah kaca mobil di samping Renita tanpa berkedip.


"Teteh kacanya ditutup aja" Ujar Eno tanpa memalingkan wajahnya.


"Enak aja, gerah tau!" Sungut Renita kukuh tidak mau menutup kaca mobil.


"TETEH TUTUP NANTI TANTE JELEKNYA MASUK!" teriak Eno ketakutan menutup wajahnya.


"Renita tutup!" Pinta Arga tegas.


"Ayah! udaranya panas Renita ger.." Uacapan Renita tercekat karena ia merasakan cekikan di lehernya..


"Ahh, ayahh tollooonghh.." Ujar Renita susah payah dengan tangan di lehernya yang berusaha menghilangkan tangan yang menyekiknya.


Dengan cekatan Arga memberhentikan mobilnya di tepi jalan dan langsung membantu anaknya yang berteriak kesakitan.


Alvin mematung melihat leher adiknya yang dikelilingi oleh rambut perwarna hitam, rambut itu terus bergerak melingkar yang membuat lilitan semakin kencang.


Renita tak lagi minta tolong, pasokan oksigen yang berkurang membuatnya tak sadarkan diri.


"Renita kamu kenapa!" Teriak Arga panik berusaha melepaskan tangan Renita dari lehernya.


Namun nihil, tangan Renita ikut terbelit dengan rambut tak kasat mata yang hanya bisa dilihat oleh Eno dan Alvin.


"Tante pergi ya, kasian teteh. Maafin teteh yang udah bikin kotor lumah tante" Ujar Eno dengan suara gemetar ketakutan.


Perlahan lilitan tersebut melonggar, sosok tersebut menghilang bak tertiup angin.


Alvin tersadar dari lamunannya, rambut yang membelit leher adiknya sudah menghilang entah kemana.


"Renita gapapa kok yah, dia pingsan. Nanti dia juga sadar, kita lanjut perjalanan aja ya" Ujar Alvin yang membuat semuanya kembali tenang.


"Makasih Eno" Lanjut Alvin tersenyum kearah Eno, sedangkan Eno hanya tersenyum menanggapinya.


"Semua akan baik baik aja kan?" Tanya Nita yang tiba tiba merasakan sesuatu yang janggal.


"Tenang bun, kita lanjut aja ya" Jawab Arga yang kembali melajukan mobilnya.


**


***Jangan lupa untuk vote,share, and komen cerita ini ya.


-All***

__ADS_1


__ADS_2