Buka Pintu!

Buka Pintu!
2 ~ Nenek Tua


__ADS_3

"Berhati-hatilah engkau dalam bertindak nona"


--


Setelah beberapa lama perjalanan yang menegangkan itu. Akhirnya mereka sampai di tujuan pertama.


Mereka berjalan menuju pos loket untuk membeli tiket sebelum pendakian.


"Maaf tetapi adiknya yang ini belum bisa ikut untuk mendaki gunung" Ujar petugas loket tersebut menunjuk Eno.


"Saya tahu, tapi saya bisa memastikan bahwa Eno akan baik baik saja" Elak Arga yakin.


"Maaf pak, tapi medan pendakian sangat berbahaya untuk anak kecil" Larang petugas itu lagi.


Arga mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu dari sakunya lalu menyerahkan kepada petugas loket.


"Semua akan aman"


Dengan mata berbinar petugas loket mengambil uang tersebut. "Jika sesuatu terjadi segera hubungi pusat informasi"


Sebenarnya di dalam hati kecil Sinta ada rasa was was dan tidak enak karena Eno harus ikut mendaki.


Tapi Sinta yakin, anaknya itu bukanlah anak biasa. Banyak yang akan menjaganya disana.


Sebelum memulai pendakian semuanya mengecek barang barang yang mereka bawa.


"Lengkap semua?" Tanya Arga bersemangat, semuanya mengangguk sebagai jawaban.


"Renita, kamu yang sopan! jaga tingkah laku dan ucapan kamu. Kita disini sebagai tamu, paham?" Ujar Nita memperingatkan.


"Iya iya bawel" Cibir Renita acuh.


"Jangan gitu!" Alvin menyenggol lengan adiknya lalu mulai berjalan mengikuti yang lainnya.


Mereka mendaki tanpa ditemani tour guide, bahkan mereka tetap kukuh bahwa Eno dapat ikut dalam pendakian.


Belum lama perjalanan Renita sudah mengeluh lapar.


"Ayah, kita istirahat sebentar ya. Waktu makan siang sudah lewat. Renita laper nih!" Rengek Renita mengehentak hentakkan kakinya.


"Yaudah kita istirahat sebentar untuk makan siang" Jawab Arga memaklumi.


Mereka semua duduk diatas rumput tanpa tikar, membuka bekal makanan yang mereka bawa.


Eno yang duduk di sebelah Sinta sangat asyik dengan makananya.


Lauk paha ayam yang berada di tangannya ia arahkan ke mulutnya, lalu ia arahkan ke samping tubuhnya.


Hal itu Eno lakukan berkali kali hingga paha ayam tersebut habis tak tersisa.


Renita menatap Eno dengan raut kebingungan.


"Eno! kamu makan tulang?" Tanya Renita penuh selidik.


Eno menggeleng sebagai jawaban, lalu meminum sekotak susu yang Sinta bawa.

__ADS_1


"Lah itu, tulangnya kok engga ada?" Tanya Renita heran.


"Bukan aku yang makan teh, tapi om ini" jawab Eno menunjuk sesuatu di sebelahnya.


Semua terdiam, melihat Eno yang seperti menunjuk sesuatu tapi mereka semua tak melihatnya.


"Halu nih bocah" Cibir Renita acuh lalu membuka makanan ringan yang ia bawa.


"Teteh sampahnya masukin pastik ya, nanti omnya marah kayak tante jelek tadi" Ujar Eno memperingatkan.


"Apasih? tante sama om nya cocok deh. Sukanya marah marah, sekalian nikah aja" Canda Renita dengan kekehan nyaringnya.


"Renita!" Sentak Nita karena tingkah anaknya yang kelewatan.


"Bunda omnya marah" bisik Eno pada Sinta.


"Terus gimana sayang?" Tanya Sinta khawatir.


"Teteh harus minta maaf katanya" bisik Eno lalu melirik Renita yang sedang asik memakan jajannya.


"Renita sayang, kamu minta maaf ya. Bilang kamu engga bermaksud ngomong gitu" Ujar Sinta yang membuat Renita tak paham.


"Kenapa minta maaf tante?" Tanya Renita bingung.


"Bilang aja 'saya tidak bermaksud, maaf jika perkataan saya menyinggung anda' " Jawab Sinta lembut.


"Aneh, anak sama bundanya sama. Aku gak mau!" Renita tetap bandel untuk tidak meminta maaf atas apa yang telah ia katakan.


Arga dan Nita hanya bisa geleng geleng kepala melihat anaknya yang sangat angkuh itu.


"Jaga bicaramu"


Renita terdiam untuk mencerna apa yang dia dengar, tetapi tetap saja Renita si angkuh itu tidak peduli terhadap sekitarnya.


"Yaudah, sekarang beresin. Ayo lanjut pendakian" Ujar Arga yang mulai membereskan barang barangnya.


Semua ikut membantu kecuali Renita, ia malah menambah nambahi sampah dengan bungkus permen yang bawa.


Pendakian dilanjutkan, hingga tak terasa hari mulai gelap.


Setelah kurang lebih 7 jam pendakian, akhirnya mereka sampai di puncak pukul 7 malam.


"Ayo semuanya saling bantu pasang tenda" Ujar Arga agar semua keluarganya tolong menolong untuk membangun tenda.


"Ayah, Renita kebelet pipis" Rengek Renita yang masih menahan agar tidak mengompol.


"Berani cari kamar mandi sendiri?" Tanya Arga.


"Berani, Renita bawa senter kok!" Jawab Renita yang langsung lari untuk mencari kamar mandi sendirian.


Renita terus mengedarkan matanya, mencari letak toilet umum di minimnya pencahayaan.


"Aduh.. ini dimana sihhh!!" Kesal Renita karena belum menemukan toilet umum.


Sraaakk!!

__ADS_1


Langkah Renita terhenti, karena terdengar suara seperti langkah kaki yang di seret.


Bulu kuduknya meremang, hingga sesuatu yang dingin menempel di bahunya.


Dengan perlahan, Renita memberanikan diri untuk berbalik badan untuk melihat siapa yang menyentuh bahunya.


"Aaaaaaaaa.. Ne-nenek ngapain?" Tanya Renita terkejut karena seorang nenek nenek yang menyentuh bahunya.


"Toilet umum ada di sebelah sana" Ujar nenek tersebut dengan ekspresi datar.


"Ngagetin aja!" Kesal Renita lalu melangkahkan kaki menuju kearah toilet umum.


"Berhati-hatilah engkau dalam bertindak nona"


Langkah Renita kembali terhenti.


"Ga jelas banget sih, dasar ne.." Perkataan Renita tercekat saat nenek nenek tersebut sudah tidak ada.


Karena ketakutan Renita berlari terbirit-birit menuju toilet umum.


Renita merasa lega karena di toilet ada beberapa orang, setidaknya ia tidak sendirian.


"Akan ada korban disini" Ujar salah satu diantara mereka.


Renita memutuskan untuk menguping pembicaraan tersebut dengan berpura pura membetulkan tali sepatunya.


"Anak pertama mereka akan celaka! ini semua karena ulah anak keduanya"


Kegiatan Renita terhenti, ia memutuskan untuk bertanya kepada mereka tentang apa yang mereka bicarakan.


"Siapa yaa.. Aaaaa kok ngga ada orang??" Teriak Renita terkejut.


Dengan cepat ia masuk ke dalam kamar mandi untuk buang air kecil.


"Semua yang ada di sinu nggak beres, semua aneh!" Batin Renita di dalam toilet.


"SEMUA SETAN GA AKAN BERANI SAMA AKU!" Teriaknya cukup keras untuk meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik baik saja.


Namun karena itulah semua hal buruk akan menimpa dirinya dan keluarganya.


Renita berlari dengan cepat untuk menuju tenda dimana keluarganya berada.


"Aduhhh tadi jalannya yang mana? belok ke kanan atau belok ke kiri?" Gumamnya bingung.


Ia memutuskan untuk mengambil arah kiri. Sudah lama ia berjalan, tapi ia tetap berhenti di tempat semula.


Ia memutuskan untuk berbelok ke arah kanan, tapi semua sama. Ia terus kembali ketempat semula.


Karena ketakutan, Renita merogoh ponsel di sakunya. Ia menelpon nomor ayahnya, namun sudah berkali kali telpon tersebut tidak terhubung.


"Kalian jangan macem macem sama aku! Ayahhh! Renita takut!!" Ujarnya pasrah. Renita menelungkupkan kepalanya di tangan yang menumpu pada kakinya.


"Ayaaahhh!!" Teriaknya terkejut karena melihat sekelebat bayangan hitam di depannya.


**

__ADS_1


***Jangan lupa untuk vote,share, and komen cerita ini ya.


-All***


__ADS_2