
"Anak yang ceroboh akan celaka"
--
Renita terbangun dari tidurnya, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar.
Jam dinding sudah menunjukan pukul delapan pagi, namun keluarganya belum juga terbangun.
"Yahhh, bunn, bangun ih!" Ujar Renita menggoyang goyangkan lengan Arga dan Nita.
Karena kesal tidak mendapat respon, Renita melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Apaan sih, udah siang gini masih aja tidur" Gerutu Renita lalu mulai dengan kegiatan membersihkan tubuhnya.
Tak lama kemudian Renita keluar dari kamar mandi.
Renita melihat keluarganya yang sedang sibuk membereskan barang barang.
"Baru bangun kok udah beresin barang? mau pulang?" Tanya Renita.
"Kamu tuh yang baru bangun, Kita sudah jalan jalan di sekitar pantai tadi pagi. sekarang beres beres kan mau lanjut camping ke hutan" Jawab Nita tanpa berpaling dari barang barang di hadapannya.
Renita terdiam, lalu siapa yang tidur dengannya tadi pagi?
"Kok.. Renita enggak di bangunin?" Tanya Renita gugup.
"Kamu yang susah bangunnya sayang" Jawab Arga lalu terkekeh.
"Tapi Renita tadi pagi lihat kalian masih tidur" Renita masih tidak yakin dengan apa yang ia lihat tadi pagi.
"Ada ada saja kamu ini, jelas jelas kamu kita tinggal di kamar sendirian" Kekeh Sinta.
"Terus yang tadi pagi itu siapa dong?" Renita bergidik ngeri mengingat kejadian saat ia bangun tidur.
"Itu temennya abang apin" Celetuk Eno menunjuk Alvin yang terdiam di dekat jendela.
"Temennya kakak? emang temennya kakak bisa sama persis seperti ayah, bunda, tante Sinta,kamu, dan bahkan disitu ada kakak." Tanya Renita tak percaya kepada Eno.
"Bisa.. kan-"
"Eta ngan ukur perasaan anjeun"
(*"Itu cuma perasaan kamu")
"Gatau deh" Ujar Renita mengendikan bahunya acuh.
"Ayo keluar, kita main main sebentar di pantai. Sekalian ngembaliin kalung yang diambil Renita" Ujar Nita bersiap untuk keluar.
Renita hanya mendengus pasrah karena ia harus mengembalikan kalung yang ia temui karena paksaan keluarganya, terutama sang bunda.
"Have fun guys, karena hari ini terakhir kita di sini" Ujar Sinta yang membuat semua tertawa bahagia.
Mereka mulai melangkah keluar dari homestay, diiringi dengan canda tawa yang membuat lorong menggema.
"Kalian duluan, ayah mau check out homestaynya" Ujar Arga lalu berjalan memisah dari yang lainnya.
__ADS_1
"Renita ayo kita kembalikan kalung itu" Ajak Nita menggandeng tangan putrinya itu.
"Tapi bun.. Renita lupa tempatnya di mana" Ujar Renita berbohong.
"Bunda tau, deket batu karang besar yang diduduki kakak kamu kan. Kan waktu itu kamu sama dia" Ujar Nita menyelidik.
"Iya iya bun" Dengus Renita pasrah.
Mereka mulai melangkahkan kaki menuju tengah laut, menuju ke arah batu karang untuk mengembalikan kalung yang Renita ambil.
"Sekarang lepas kalung itu" Perintah Nita membantu anaknya untuk melpas kalung dari lehernya.
Setelah terlepas Renita meletakkan kalung itu di tempat semula.
"Yaudah, ayo kita main air di tepi pantai" Ajak Nita bersemangat.
"Eno mau belenang" Celetuk Eno yang membuat mereka tertawa.
"Berenang sayang, bukan belenang" Sinta mengoreksi ucapan Eno.
Renita masih terdiam saat Nita dan lainnya mulai menjauh. Dengan cepat Renita mengambil kembali kalung tadi dan memakainya.
"Kalung ini milikku" Ujar Renita senang lalu memasukkan kalung itu di dalam baju yang ia pakai agar tidak terlihat.
Dengan senyum merekahnya, Renita bergabung untuk bermain air.
Setelah puas bermain air mereka memutuskan untuk kembali ke kamar untuk berganti baju lalu melanjutkan liburan mereka.
"Udah siap semua? pastiin enggak ada yang ketinggalan" Ujar Nita memperingatkan.
Dilain sisi Arga sedang menunggu petugas homestay untuk check out.
"Ini mana sih petugasnya" Gerutunya bingung saat mendapati meja informasi kosong.
"Ada yang bisa saya bantu?" Ujar seorang perempuan di belakang Arga.
Arga menoleh dan mendapati seorang petugas homestay di belakangnya.
"Saya mau check out mba" Ujar Arga tersenyum ramah.
Tiba tiba petugas hotel tersebut terbang melayang di hadapan Arga.
Arga mundur ketakutan.
"Siapa kamu" Tanya Arga kepada sosok tersebut.
"Anakmu.." Ujar sosok tersebut lalu berubah menjadi kain kafan panjang yang memaksa masuk dari mulut Arga.
"Aarrghhh" Teriak Arga saat kain tersebut masuk sempurna di dalam tubuhnya.
Karena ketakutan Arga langsung berlari menuju kamar menghampiri yang lainnya.
"Semuanya sudah siap?" Tanya Arga menyembunyikan ketakutannya.
Mereka semua melangkah meninggalkan homestay untuk menuju mobil.
__ADS_1
"Yah, kita beli barang barang dulu ya sebelum lanjut camping?" Rengek Renita saat ia melihat berbagai barang barang cantik yang di jual di toko tepi pantai.
"Boleh tuh, ayo kita keliling sebentar beli barang barang" Jawab Nita menyetujui usul putrinya.
"Haduh, kalau udah soal belanja mesti para perempuan itu lama deh. Ayah tunggu di mobil aja ya?" Jawab Arga lelah.
"Yaudah ayah di mobil aja duduk manis nungguin kita belanja, bye bye yah!" Ujar Renita lalu menghampiri satu persatu toko.
"Alvin angkat ka mobil"
(*"Alvin masuk ke mobil") Ujar Alvin lalu mengikuti Arga dari belakang.
Nita dan yang lainnya sangat senang karena bisa membeli banyak barang barang khas pantai, cinderamata yang terbuat dari keong dan yang lainnya.
Berbeda dengan Arga dan Alvin di dalam mobil, tidak ada pembicaraan diantara keduanya. Hanya ada keheningan yang menyelimuti keduanya.
"Alvin" Panggil Arga yang membuat Alvin menoleh kearahnya.
"Kamu kenapa sekarang jadi lebih sering ngomong pake bahasa sunda?" Tanya Arga heran.
Tidak ada jawaban apapun dari Alvin yang membuat Arga mendengus kesal.
"Kamu juga jadi pendiam, biasanya kamu paling samangat? paling excited saat ada sesuatu diantara kita? tetapi sekarang kamu berbeda. Ada apa sayang? cerita sama ayah" Ujar Arga panjang lebar.
Arga dibuat terdiam saat mata Alvin melotot kearahnya, ada tali berwarna merah yang tiba tiba muncul mengitari tubub Alvin.
"Alvin, apa itu?" Tanya Arga panik.
Tali tersebut melayang melilit leher Arga.
"Agghh.. Alvin" Ujar Arga bersusah payah.
Sedangkan Alvin hanya terkekeh puas melihat ayahnya yang kesakitan.
Alvin menoleh saat mendengar suara tawa Renita dari arah luar.
Dengan cepat ia mengembalikan keadaan seperti semula.
Arga menghela napas lega saat lilitan lehernya mulai melonggar.
"Hai ayahh, Renita punya sesuatu buat ayah. Ini spesial buat ayah" Ujar Renita menyerahkan sekotak hadiah untuk Arga.
"Terimakasih sayang, ayah terima ya. Tapi bukanya nanti aja, kita langsung berangkat" Jawab Arga tersenyum.
"Kita camping berapa hari nih?" Tanya Arga kepada yang lainnya.
"Lima hari ya yah? kan liburannya masih lama banget" Jawab Renita antusias.
"Apa sih yang enggak buat kamu" Jawab Arga lalu mulai melajukan mobilnya menuju hutan tempat *camping.
**
**Jangan lupa buat vote,like,komen,and share cerita ini ya..
-All***
__ADS_1