Buka Pintu!

Buka Pintu!
10 ~ Kecelakaan Maut


__ADS_3

"Mungkin nanti kau akan terbiasa melihat kita yang selalu berdiri mengelilingimu"


--


Pagi ini Nita sedang memasak untuk sarapan, di temani Arga di sampingnya.


"Yah, yang lainnya di bangunin dulu! ini masakannya sudah hampir jadi" Ujarr Nita menyuruh Arga.


Arga beranjak menuju tenda untuk membangunkan yang lainnya.


"Ayo semuanya bangun! kita sarapan, setelah itu kita jalan-jalan" Ujar Arga yang membuat semuanya terbangun.


Renita berjalan kearah bundanya dengan langkah gontai.


"Langsung di makan, mumpung masih hangat" Ucap Nita yang diangguki Renita dan yang lainnya.


Setelah sarapan selesai mereka semua mempersiapkan barang-barang yang akan mereka bawa.


"Bun, nanti kita ambil buah buahan di hutan ya! Renita pengen makan buah" Ujar Renita tanpa menatap bundanya.


"Bunda kan sudah bilang, kita di sini tamu. Kamu mau kalau sakit perut lagi seperti kemarin?" Larang Nita.


"Tamu lagi tamu lagi! Kemarin perut Renita sakit itu karena belum makan, bukan karena buah jambu itu!" Bentak Renita kesal.


"Kamu sekarang berani bentak-bentak bunda? Bunda larang kamu itu demi kebaikan kamu, demi kebaikan kita juga!" Kesal Nita yang ikut meninggikan nada suaranya.


"Bun! Renita itu udah besar, jangan larang-larang Ren-"


"Arghh!!" Erang Renita saat rambutnya seperti di tarik oleh seseorang.


"Jaga ucapanmu..." Samar-samar Renita mendengar suara perempuan yang berbisik tepat di telinganya.


"Lepasin!" Teriak Renita entah di tujukan ke siapa.


"Renita kamu kenapa?" Tanya Arga panik.


"Ular.." Lirih Eno tetapi masih bisa di dengar oleh Alvin.


"Ssstttt" Desis Alvin yang membuat Eno terdiam.


"Siapapun kamu! lepasin aku!" Teriak Renita yang mulai menangis kesakitan.


Rambut Renita semakin di tarik dengan kuat, hingga tiba-tiba tubuh Renita terangkat melayang diudara.


"Renita!" Teriak Nita mencoba untuk menurunkan Renita.


"Bundaaaa" Lirih Renita karena tenaganya sudah mukai habis.


Renita semakin melayang ke atas, "Turunin Renita!" Mohon Renita melas.


"Sekarang kita berdoa!" Perintah Arga yang diangguki oleh Nita dan Sinta.


Mereka menundukan kepala untuk berdoa.


"Mungkin nanti kau akan terbiasa melihat kita yang selalu berdiri mengelilingimu"


Renita menutup matanya takut, "Siapa kalian?"


"Tapi ingatlah, kami akan menunggu waktu yang tepat untuk membunuhmu"


Tiba-tiba saja tubuh Renita terjatuh lemas diatas tanah.


"Arrghh" Erangnya kesakitan.


"Renita!" Teriak Arga lalu berjalan menghampiri anaknya dengan menyeret kakinya yang masih sakit.

__ADS_1


Arga mengguncang pelan bahu Renita. "Bangun sayang"


"Sakit yah" Lirih Renita sebelum ia pingsan.


Arga melihat sudut dahi Renita memerah lebam.


"Bun!" Panggil Arga yang membuat Nita tersadar dari lamunannya, Nita masih bingung dengan apa yang terjadi dengan anaknya.


"Bawa Renita ke tenda, jaga Renita dulu" Ujar Arga lalu beranjak dari sana.


Nita yang masih bingung langsung menuruti perintah suaminya tanpa bertanya apapun.


Arga masuk ke dalam hutan untuk mencari daun-daunan yang bisa di gunakan untuk menyembuhkan luka di dahi Renita.


Arga menemukan daun obat-obatan yang merambat diatas pohon.


Karena kakinya yang masih sakit, ia sedikit kesulitan untuk memanjat pohon tersebut.


"Arrghh" Erang Arga saat kakinya tergelincir.


Arga kesulitan bergerak karena kakinya semakin sakit.


Arga terdiam mendengar desisan ular di sekitarnya, ia melihat ular yang sedang melata menuju kearahnya.


"Pergi!" Teriak Arga memukul ular itu dengan kayu.


Bukannya pergi, ular itu malah semakin mendekat dan mematuk kaki Arga.


"Aaaarghh"


Dari tenda sana, Nita mendengar teriakan suaminya yang cukup keras.


"Ayah!?" Ujar Nita yang perasaannya mulai tidak enak.


"Sinta kamu jaga anak-anak, aku mau cari Arga dulu di dalam hutan" Ujar Nita lalu berlari mencari Arga.


"Aduh, ini ayah di mana?" Gumam Nita panik.


"Argghhh"


Nita kembali mendengar teriakan tersebut.


"Ayah!" Teriak Nita lagi.


Dilain sisi Arga mendengar suara istrinya yang berusaha mencarinya.


Namun tenaganya sudah habis, dia sudah tidak bisa berteriak.


"Bunn.." Lirih Arga lalu jatuh pingsan, badannya menggigil dan membiru.


"Ayah!" Panggil Nita saat melihat Arga yang sudah terkapar lemas di tanah.


"Ayah kenapa yah?" Nita mengguncang tubuh Arga panik.


Nita memapah Arga untuk kembali ke tenda dengan susah payah.


"Ayah bertahan ya! Kita sebentar lagi sampai di tenda"


"Sinta!" Panggil Nita meminta tolong.


"Apa yang terjadi?" Tanya Sinta lalu membantu Nita memapah Arga.


"Kita pulang sekarang, kaki Arga dipatuk ular" Jawab Nita.


Setelah membantu Arga masuk mobil, Sinta dan Nita membereskan barang-barangnya di tenda.

__ADS_1


"Kita pulang sekarang!" Ujar Nita panik.


"Kenapa bun?" Tanya Renita yang sudah membaik.


"Jangan banyak tanya, kalian semua cepat masuk ke dalam mobil"


Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, Nita melajukan mobil dengan terburu-buru.


"Hati-hati bun! Jangan ngebut, bahaya" Ujar Renita takut.


"Diam Renita! Bunda panik, kita harus cepat sampai ke rumah sakit! keadaan ayah terus memburuk kalau tidak cepat cepat di tangani!"


"Bunda! tapi ini bahaya! Kita udah sampai di jalan raya, kalau kecelakaan gimana?" Bentak Renita takut.


"Jaga ucapan kamu, Renita!" Ucap Nita yang mulai marah karena Renita menganggu konsentrasi untuk mengemudikan mobil.


"Awaaaaassss!!!" Teriak Eno dan Sinta bersamaan.


Detik itu mobil mereka menghantam truk pengangkut minyak.


Renita merintih kesakitan, karena kepalanya terantuk kursi mobil dan terkena pecahan kaca mobil.


"Bundaa.."


Nita masih bisa bertahan walaupun kepalanya mengeluarkan banyak darah.


"Kita cepat keluar dari mobil" Ujar Nita lirih lalu berusaha keluar dari mobil, begitupun juga dengan Renita.


Mereka berdua berjalan terpogoh-pogoh berusaha menjauh dari mobil mereka.


Semua orang berusaha membantu mengeluarkan korban dari dalam mobil, tetapi tidak ada yang berani mendekat karena minyak yang dapat menyebabkan ledakan.


Nita merengkuh tubuh anaknya laku memeluknya dengan erat.


Tak lama suara ledakan mobil yang memekakan telinga terdengar.


Tubuh Nita melemas, ia tak sanggup meyangga beban tubuhnya.


Dari balik kabut asap akibat ledakan mobil tadi, terlihat bayangan seseorang yang sedang berjalan keluar menembus asap yang menghitam pekat.


"Kakak?" Lirih Renita yang sudah menangis ketakutan.


"Alvin?"


Nita menatap tak percaya anak laki-lakinya itu.


Setelah ledakan besar tadi, tubuh Alvin tetap baik baik saja (?)


Tidak ada luka sedikitpun di tubuhnya. "Alvin? kamu baik-baik saja nak?"


Alvin hanya mengangguk tanpa mengeluarkan kata-kata yang lainnya.


Nita memeluk Alvin bersyukur, setidaknya masih ada kedua anaknya yang akan menemani dirinya hingga menua.


Mobil damkar datang dan langsung memadamkan api yang terus membesar.


Setelah api padam, para polisi langsung memasang garis polisi agar tidak ada yang masuk di area kecelakaan.


Polisi berusaha mengeluarkan korban dari dalam mobil, di bantu dengan warga lainnya.


"Ayahhhh!!" Teriak Nita dan Renita bersamaan saat jasad ayahnya di keluarkan dari mobil dengan keadaan yang sudah tidak dapat di kenali.


Detik itu juga semua menjadi gelap. Hidup yang bersinar karena ada canda tawa di dalam keluarganya, sekarang cahaya tersebut sudah padam.


**.

__ADS_1


Jangan lupa untuk vote,like,komen,and share cerita ini yaa..


-All


__ADS_2