
"Jangan mengambil sesuatu yang bukan hakmu"
--
Pagi ini mereka sudah duduk berjejer rapi di tepi pantai.
Menikmati semilir angin yang berhembus dengan deburan ombak yang membasahi kaki mereka.
Ditemani dengan Matahari yang mulai mengintip diujung cakrawala, yang melukis semburat jingga di langit lepas.
"Bagus bunda" Oceh Eno yang selalu melontarkan kekaguman terhadap alam semesta.
"Eno nanti mau nangkep ikan yang banyaaaaaaakk banget" Lanjutnya yang membuat semua terkekeh kecuali Alvin.
"Mana bisa bocah kek kamu nangkep ikan" Ledek Renita yang membuat Eno cemberut.
"Teteh nakal"
Nita memukul pelan paha Renita, sebagai kode bahwa Renita harus minta maaf kepada Eno.
"Apasih bunda? emang bener kan?" Ujar Renita kesal.
"Sudah enggak papa, nanti Eno bunda bantuin nangkep ikan" Sinta berusaha menghibur sang buah hati.
"Siap bunda!" Jawab Eno bersemangat.
Sedangkan Renita hanya mencibir kesal di dalam hati.
Tak terasa matahari sudah meninggi, pengunjung pantai semakin ramai.
Arga dan yang lainnya sedang membeli es kelapa muda yang di jual para pedagang di tepi pantai.
Renita dan Alvin tak berniat untuk meminum es kelapa, mereka memutuskan untuk bermain air di tepi pantai.
"Kak! ajarin Renita renang dong" Pinta Renita kepada Alvin.
"Teu"
(*"Tidak") Ujar Alvin tanpa menoleh sedikitpun.
"Ayolah, Renita janji bakal cepet bisa. Bener deh!" Ujar Renita yakin dengan dua jari yang ia angkat keatas menunjukan 'peace'.
Alvin mengangguk tanpa ekspresi, walaupun begitu Renita tetap senang karena kakaknya ingin mengajarinya berenang.
Mereka berdua mulai menuju ke tengah pantai untuk berenang.
"Kak jauh banget sih, di sini aja!" Ujar Renita panik saat kakaknya berjalan terlalu jauh ke tengah.
Alvin tidak menghiraukan omongan Renita, ia berhenti saat sudah lumayan jauh dari tepi pantai.
Dengan malas Renita menghampiri kakaknya dan mulai latihan berenang.
Tak butuh waktu lama Renita sudah mahir menggerakan tangan dan kakinya untuk berenang.
"Yeaayy!! Aku bisa berenang" Teriaknya girang.
Renita bergerak lincah kesana dan kemari, sedangkan Alvin hanya mengamati adiknya itu dengan tatapan tajam.
"Kerjain kakak ah" Gumam Renita tersenyum licik.
"Aaa kakak tolong, kaki Renita keram.. tolong!!" Teriak Renita berpura pura tenggelam.
Alvin tetap menatap Renita dengan tajam, tak ada niatan untuk menolong adiknya itu.
__ADS_1
Karena tak ada respon dari kakaknya sama sekali membuat Renita menggerutu kesal.
"Kakak kok nggak nolongin Renita?" Tanya Renita menghampiri Kakaknya.
"Ih diem mulu deh!" Lanjurnya saat tidak ada respon dari sang kakak.
Karena kesal Renita berjalan ke tepi pantai meninggalkan Alvin di belakang.
Tanpa sengaja kaki Renita menginjak sesuatu di dalam air, dan benda itu tersangkut di kakinya.
Renita berhenti untuk mengambil benda itu dari kakinya.
"Kalung?" Gumamnya saat melihat sebuah kalung berliontin permata hijau yang sangat cantik.
"Waaah, bagus banget" Ujarnya senang lalu memakai kalung itu di lehernya.
'Jangan mengambil sesuatu yang bukan hakmu'
Angin seperti membisikan sesuatu di telinga Renita.
Tetapi karena Renita keras kepala, ia hanya mengendikkan bahu acuh. Tak peduli dengan apa yang ia dengar.
Tiba tiba saja kakinya terasa keram, Renita mulai tenggelam dan kesulitan bernapas.
Karena ombak yang cukup kuat, akhirnya ia terbawa oleh arus ombak.
Arga melihat Renita tenggelam dari kejauhan.
Karena panik Arga langsung berenang menuju tengah laut untuk menyelamatkan putrinya itu.
"Alvin tolongin Renita!" Teriak Arga menyuruh Alvin untuk menolong Renita.
Tetapi Alvin hanya menatap senang Renita yang tenggelam di dalam air, tanpa ingin menolongnya.
Arga menarik Renita untuk berenang ke tepi pantai.
"Renita? kamu baik baik saja?" Tanya Arga khawatir.
"Gapapa yah" Jawab Renita dengan suara parau.
Nita,Sinta, dan Eno berlari membawa sebotol air minum untuk Renita.
"Minum sayang" Ujar Nita membantu anaknya untuk minum.
"Kok bisa tenggelam?" Tanya Sinta kepada Alvin.
Alvin meresponnya dengan senyum kemenangan, membuat semuanya bingung dengan apa yang terjadi.
"Teteh lepas" Eno menunjuk kalung yang terpasang di leher Renita.
"Itu kalung siapa Renita? bunda nggak pernah beli kalung seperti itu" Timpal Nita bingung.
"Dapet di pantai" Jawab Renita santai.
"Lepas teteh!" Teriak Eno yang mulai ketakutan.
"Bagus" Ujar Alvin menatap Renita dengan senyumnya.
"Tuhkan bagus! pokoknya aku gak akan lepas kalung ini!" Tolak Renita kesal.
"Yasudah! ayo kita sewa homestay. Kita langsung istirahat" Ujar Arga kemudian berlalalu mencari penginapan terdekat.
"Kita bakal nginep di homestay itu dua hari" Ujar Arga menunjuk homestay yang terlihat kumuh dan menyeramkan.
__ADS_1
"Ayah yang bener aja! serem tau" Tolak Renita.
"Bun, Eno enggak mau nginep di situ" Ujar Eno memeluk Sinta erat.
"Gapapa sayang, ada bunda yang akan selalu jagain Eno" Jawab Sinta menenangkan.
"Toh cuma dua hari, ayo masuk" Arga berjalan memasuki area homestay tersebut.
Sepi, tak terurus, dan gelap. Begitulah yang bisa di deskripsikan dari homestay ini. Bahkan lebih terkesan seperti rumah angker daripada penginapan.
"Kamarnya yang mana yah?" Tanya Nita kepada Arga.
"Lantai tiga, kamar nomor tigabelas" Jawab Arga setelah membaca kartu yang di berikan dari pihak homestay.
"Kok sepi gini ya? seperti tak berpenghuni" Ujar Sinta yang diangguki oleh Nita dan Arga.
"Sudah positif thinking aja. Mungkin semuanya lagi keluar liburan. Pulangnya nanti malam" Jawab Arga sekenanya.
Setelah mereka melewati lorong dan tangga untuk menuju ke lantai tiga, akhirnya mereka sudah tiba di depan pintu kamar tiga belas.
"Ayo masuk" Ucap Arga saat pintu kamar terbuka.
Ruangan yang sangat luas tetapi terasa sangat sesak.
Semua perabotan rumah yang ada di dalam terlihat usang, debu debu sudah menutupi barang barang tersebut.
"Bunn..." Rengek Eno kepada Sinta.
"Kenapa sayang? kamu enggak nyaman sama kamarnya?" Tanya Sinta.
"Kamalnya banyak yang nempatin, di situ ada, di pojok sana ada, di dalem situ ada, diatas lemari ada" Jawab Eno menunjuk satu persatu sudut ruangan.
"Mereka enggak akan ganggu kita, Eno kalau takut jangan diliatin" Jawab Sinta menenangkan.
Sedangkan Eno hanya mengangguk paham.
"Mandinya gantian ya, kamar mandinya cuma satu" Ujar Arga.
"Renita mandi dulu ya? dingin, kan baju Renita basah" Celetuk Renita yang diangguki oleh Arga.
Renita memasuki kamar mandi dengan bernyanyi kecil.
"Kamar mandi atau apaan sih ini, gelap banget. Mana bak air kosong" Kesal Renita lalu menyalakan kran air.
"Loh kok enggak bisa nyala krannya?" Gumam Renita yang memutar mutar kran air.
Tiba tiba kran air tersebut mengeluarkan air, tetapi air tersebut lama kelamaan berubah menjadi warna merah darah dan mengeluarkan bau anyir.
"Ayaaaahhhh!" Teriak Renita lalu berlari keluar kamar mandi.
"Ada apa?" Tanya Nita.
"Itu.. darah.." Ujar Renita terpotong potong.
Nita berjalan untuk mengecek kearah kamar mandi, namun semua tampak normal. Tidak ada darah sama sekali.
"Enggak ada Renita" Ucap Nita.
"Tadi ada bun" Yakin Renita.
"Sudah sana kamu mandi!" Ujar Nita lalu melanjutkan kegiatannya menata barang barang.
**
__ADS_1
***Jangan lupa untuk vote,share and komen cerita ini ya..
-All***