
"Jangan takut, karena kami selalu berada di dalam setiap kejahatanmu"
--
"Ini sungainya di mana sih?" Tanya Nita yang sudah mulai lelah.
"Ayah juga enggak tahu bun" Jawab Arga yang juga kesusahan mencari sumber air.
"Laper yah" Rengek Renita memegangi perutnya.
"Tahan dulu, nanti setelah kita dapat air kita akan masak" Jawab Nita.
"Yah! dengar suara air enggak?" Tanya Renita bersemangat.
"Iya ayah dengar, sepertinya dari arah sana" Jawab Arga menunjuk arah utara.
"Ayo kita ke sana" Lanjut Arga memimpin perjalanan.
Renita berhenti ketika melihat buah jambu matang yang menggantung di sampingnya.
Setelah memastikan bahwa keluarganya tidak ada yang tahu, Ana memetik jambu tersebut dan memakannya sampai habis.
"Bunda ada ail teljun" Kagum Eno saat melihat air terjun yang sangat indah.
"Wah! bagus banget, di dalam hutan ada air terjun tersembunyi" Ujar Nita yang ikut kagum dengan air terjun di depannya.
"Yaudah, ayo ambil airnya"
Dengan semangat mereka semua mengambil air untuk memenuhi kebutuhan mereka selama beberapa hari kedapan.
Renita beranjak untuk duduk diatas batu di tepi air terjun.
"Renita bantu yang lainnya dong!" Tegur Arga menuruh Renita.
"Perut Renita sakit yah" Ringis Renita menahan sakit.
"Perut kamu sakit karena kita belum sarapan?" Tanya Arga memastikan.
"Bukan" Celetuk Eno yang membuat semuanya menoleh.
"Kenapa Eno?" Tanya Nita bingung.
"Teteh sakit pelut kalena makan jambu di hutan tadi" Ujar Eno yang membuat Renita mencibir kesal.
"Dasar anak kecil! sukanya ngadu yang enggak-enggak"
"Iya Renita? kamu makan jambu di hutan tadi?" Tanya Arga memastikan.
Ana mengangguk lemah, "Iya, yah"
"Kamu bandel banget kalau dibilangin sama bunda? Kan bunda tadi udah bilang setelah kita ambil air baru kita masak buat sarapan" Nita kembali menegur anaknya itu.
"Tapikan aku laper, bun" Bela Renita kesal.
"Tapi kamu tidak boleh mengambil buah sembarangan di hutan ini, kita ini cuma tamu"
__ADS_1
"Sudah, kita kembali ke mobil sekarang" Tengah Arga lalu berjalan menuju tepi
"Aargghh" Teriak Arga saat kakinya tergelincir di bebatuan.
"Ayah!!" Teriak Nita lalu membantu Arga untuk berdiri.
"Ayah baik-baik aja kan?" Tanya Renita yang ikut panik.
"Enggak, ayah baik-baik aja kok" Jawab Arga berusaha kuat di depan keluarganya.
Arga kembali ke mobil dengan di papah oleh Nita.
Sedangkan Renita berjalan susah payah menahan rasa sakit di perutnya.
Setelah sampai di mobil mereka membuat api anggun untuk memasak mi instan.
"Cuma mi rebus?" Tanya Renita tidak percaya.
"Bersyukur, sayang" Ujar Arga mengingatkan.
Renita mendengus pasrah, yang terpenting sekarang adalah perutnya terisi dan tidak sakit lagi.
Semua menyantap makanan masing-masing dengan tenang.
Setelah makanan mereka habis, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke area perkemahan.
"Ayah bisa nyetir mobil? kan kaki ayah lagi sakit?" Tanya Nita khawatir.
"Ayah usahain bun" Jawab Arga lalu mencoba mengemudikan mobil.
"Yaudah, bunda aja yang nyetir. Ayah duduk di sini" Ujar Nita lalu berganti posisi dengan Arga.
Untung saja dulu Nita sempat kursus mobil, jadi setidaknya dia bisa menggantikan Arga sekarang.
Setelah beberapa lama perjalanan, mereka telah sampai di temoat camping yang sesungguhnya.
Tapi entah kenapa di sini begitu sepi? tidak ada satu tendapun yang berdiri.
"Yah, kok tempatnya sepi? atau kita yang salah tempat ya?" Tanya Nita bingung.
"Bener kok bun, ini tempatnya. Ayah juga enggak tahu kalau di sini sesepi ini" Jawab Arga.
"Ya bagus dong, jadinya kita bebas di sini tanpa ada gangguan apapun dari orang lain" Celetuk Renita senang.
"Sakitnya perutnya udah lumayan sembuh, jadi di sini kamu jangan macem-macem lagi" Peringat Nita tegas.
"Di awal perjanjian kita berangkat liburan kan bunda sama ayah enggak boleh larang-larang apapun yang Renita lakuin" Renita memperingatkan perjanjian mereka saat ingin berangkat liburan.
"Tetapi kamu sudah melewati batas sayang, benar kata bunda! Di sini itu kita datang sebagai tamu. Kalau tamu berbuat yang tidak menyenangkan, tuan rumah akan marah" Kini berganti Arga yang menasihati anak perempuannya yang angkuh.
"Ayah, di sini tidak ada siapapun! Tidak ada tuan rumah di hutan. Yang ada cuma binatang liar" Kesal Renita lalu keluar dari mobil.
Arga dan Nita mendengus pasrah, mereka sudah lelah menasihati Renita.
Anaknya itu terlalu bandel dan susah untuk di nasihati, selalu ada bantahan yang keluar dari mulut mungilnya itu.
__ADS_1
"Ayo semuanya bangun tenda dulu baru duduk santai-santai" Ujar Arga mengintruksi.
Kali ini Renita ikut andil dalam membangun tenda, mungkin ia sedang lelah untuk berdebat dengan kedua orang tuanya.
"Bunda, Eno haus" Ujar Eno kepada Sinta.
"Tunggu sebentar sayang, bunda ambilin minum di mobil dulu" Jawab Sinta lalu beranjak mengambil minum di dalam mobil.
"Dasar anak manja" Ledek Renita yang membuat Eno mengerucutkan bibirnya kesal.
"Sekarang barang-barang di mobil sudah bisa di pindah ke dalam tenda" Ujar Nita tersenyum senang.
Setelah semuanya tertata dengan rapi, mereka semua duduk bersantai secara melingkar.
"Sekarang kita mau ngapain, yah?" Tanya Renita kepada Arga.
"Mungkin untuk saat ini kita hanya bisa berbicara membahas sesuatu, kalau permainan pasti akan melelahkan" Usul Nita yang diangguki oleh yang lainnya.
"Kalau lagi capek terus ada angin begini, Renita jadi pengen tidur" Celetuk Renita.
"Kalau kamu mau tidur langsung ke tenda aja, sendirian berani kan?" Tanya Arga yang sedikit meledek.
"Berani dong, ngapain takut? setan doang mah kecil" Ujar Renita menjentikan jarinya.
"Renita! sudah bunda bilang jaga bicara kamu. Kamu itu susah sekali kalau di nasihati. Kalau kamu masih saja bersikap seenaknya sendiri, bunda pastiin nanti dewasa kamu akan menyesal" Unar Nita lelah dengan tingkah laku Renita.
"Bun, Renita juga udah bilang. Jangan larang-larang Renita seperti anak kecil! Renita punya cara tersendiri untuk menikmati masa-masa remaja Renita" Bantah Renita kesal lalu masuk kedalam tenda.
"Bunda sudah lelah negur Renita yang terus-terusan membantah seperti tadi" Lirih Nita.
"Sabar bun, Nanti juga Renita akan berubah seiring dengan berjalannya waktu"
Renita mendengus kasar di dalam tenda.
"Kenapa sih bunda sama ayah itu enggak mau ngertiin Renita yang mau menikmati masa-masa remaja Renita?"
Gerutunya lalu mencoba untuk memejamkan matanya.
Matanya kembali terbuka, sosok menyeramkan tiba-tiba muncul di benaknya.
Seekor ular berkepala manusia yang selalu mendesis di telinga Renita.
"Pergi kamu! Jangan ganggu aku!" Teriak Renita ketakutan.
"Seharusnya aku memusnahkanmu, tetapi kakak tersayangmu itu selalu menghalangiku untuk membunuhmu" Ujar siluman ular tersebut dengan desisannya.
"Sudah kubilang pergi! jangan pernah lagi datang di kehidupan aku!" Ujar Renita lalu siluman ular tersebut perlahan menghilang.
Tak lama kemudian, Renita tertidur pulas.
**
Jangan lupa untuk vote,komen,like,and share cerita ini ya..
-All
__ADS_1