
"Aku menyukai warna merah dan segala sesuatu yang manis, seperti darah"
--
"Sayang, Renita! Kamu kenapa? bangun sayang" Ujar Nita menepuk nepuk pipi anaknya yang pingsan.
"Air air, tolong ambilin air" Pinta Arga panik.
Dengan cekatan Alvin mengambil botol air dari tasnya, lalu diserahkan kepada ayahnya.
Arga menciprat cipratkan air ke muka Renita agar ia tersadar.
"Bunda!" Teriak Renita yang baru saja tersadar, ia langsung berhambur dalam dekapan Nita.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Arga mengelus lembut rambut Renita.
"Renita takut yah, ayo kita ke tenda aja" Ujar Renita yang diangguki oleh ayah dan bundanya.
Mereka semua berjalan beriringan menuju ke tenda.
"Tante Sinta sama Eno kenapa enggak ikut?" Tanya Renita heran.
"Mereka ayah suruh jaga tenda, takutnya ada orang lain masuk tenda kita" Jelas Arga berbohong.
Flashback..
"Teteh pingsan" Ujar Eno secara tiba tiba.
"Eno nggak boleh bohong ya. Teteh kan lagi ke toilet, Eno juga enggak lihat teteh kan?" Ucap Sinta lembut.
"Teteh pingsan" Ulang Eno yang membuat Arga dan Nita panik seketika.
"Eno tau dari mana?" Tanya Nita berharap cemas.
"Tadi ada om yang makan baleng Eno di bawah, katanya teteh nakal telus pingsan" Jawabnya tanpa ekspresi.
"Ayo kita susul Renita, aku takut terjadi apa apa" Ujar Arga panik.
"Alvin ikut yah" celetuk Alvin yang dengan sigap berdiri.
"Eno engga ikut. Eno takut, di sana teteh ditemenin banyak tante jelek" Ujar Eno yang membuat Nita tambah panik.
Sekarang mereka tahu siapa tante jelek yang di maksud oleh Eno, dia adalah kuntilanak yang pastinya bermuka hancur.
Arga,Nita,dan Alvin mencari keberadaan Renita dengan perasaan takut dan cemas.
Flashback off..
Akhirnya mereka sudah sampai di tenda. Di sana ada Sinta yang sedang menunggu mereka, sedangkan Eno sudah lelap tertidur.
"Renita? kamu gapapa sayang?" Tanya Sinta khawatir.
"Aku nggak kenapa-napa kok tan, Eno kok bisa tau kalau aku pingsan tadi?" Tanya Renita.
"Eno anak yang spesial, dia peka terhadap sesuatu di sekitarnya" Jelas Sinta, sedangkan Renuta hanya mengangguk paham.
"Sudah, kita sekarang tidur. Besok kita bangun pagi buat liat matahari terbit" Ujar Arga.
Semuanya memposisikan diri untuk tidur dengan nyaman, berbeda dengan Renita yang selalu terlihat gelisah.
__ADS_1
"Masa iya tadi aku ketemu setan beneran?" Monolognya bingung.
"Yaudahlah ya, mungkin mereka pengen kenalan sama aku yang cantik ini" Lanjutnya lalu memutuskan untuk tidur.
"Renita, kau sungguh anak yang angkuh. Semua akan hancur karnamu"
Sebuah suara terdengar di telinga Renita, namun ia tidak bisa melihat wujud orang tersebut.
"Apa mau mu? Jangan bermain main denganku!" Teriak Renita yang mulai takut.
"Kamu yang bermain main denganku, Renita"
Suara itu kembali terdengar, tetapi Renita masih belum melihat siapa yang berbicara.
Tiba-tiba muncul asap hitam yang perlahan memadat, membentuk sosok lelaki bertubuh tinggi dengan bulu yang lebat.
Sosok tersebut membawa pisau yang diacungkan kearah Renita.
Karena ketakutan, Renita perlahan mundur untuk menjauh dari sosok tersebut.
Tetapi kali ini tubuhnya tidak bisa di gerakan, Renita hanya bisa menangis ketakutan.
Pisau yang di bawa sosok itu terus mendekat kearah perutnya. Hingga dengan pisau tersebut dapat menembus kulit perutnya.
"Aaaaaaaaa" Teriak Renita yang terbangun dari tidurnya.
Ia melihat sekelilingnya, semuanya tertidur. Renita masih berada di dalam tenda.
"Ternyata cuma mimpi" Gumamnya lega.
"Renita, kau sungguh anak yang angkuh. Semua akan hancur karnamu"
"Apa mau mu? Jangan bermain main denganku!" Teriak Renita yang mulai takut.
"Kamu yang bermain main denganku, Renita"
Suara itu kembali terdengar, Renita teringat apa yang barusan ia mimpikan.
Tiba-tiba muncul asap hitam yang perlahan memadat, membentuk sosok lelaki bertubuh tinggi dengan bulu yang lebat.
Sosok tersebut membawa pisau yang diacungkan kearah Renita.
Karena ketakutan, Renita perlahan mundur untuk menjauh dari sosok tersebut.
Tetapi kali ini tubuhnya tidak bisa di gerakan, Renita hanya bisa menangis ketakutan.
Kejadian ini sama persis dengan apa yang barusan ia mimpikan.
"Tolong Renita!! kenapa kalian semua enggak bangun?!" Tangis Renita semakin menjadi jadi karena keluarganya masih tertidur pulas.
Pisau yang di bawa sosok itu terus mendekat kearah perutnya. Hingga dengan pisau tersebut dapat menembus kulit perutnya.
"Aaaaaaaaa" Teriak Renita lalu terbangun dari tidurnya.
Renita menangis sejadi jadinya, kejadian menyeramkan yang ia alami dua kali.
Bahkan Renita tidak bisa membedakan itu mimpi atau kenyataan.
Semua terasa sama, ketakutan yang ia alami terasa nyata. Ini sama sekali bukan mimpi yang indah.
__ADS_1
Renita menangis cukup lama, hingga ia tertidur pulas dengan sendirinya.
Nita terbangun pukul 4 subuh, ia segera membangunkan yang lainnya untuk bersiap melihat matahari terbit.
"Bangun bangun, udah pagi. Kita harus siap siap buat lihat matahari terbit" Ujarnya menepuk nepuk bahu keluarganya satu persatu.
"Lima menit lagi" Ujar Arga dengan mata yang masih tertutup rapat.
"Dingin bun" Ujar Alvin yang semakin bergelung dengan selimut tebalnya.
Sinta dan Eno sudah terbangun, mereka menyiapkan segala keperluannya untuk hari ini.
Sedangkan Renita masih terlelap dalam tidurnya, ia tak merasa terganggu dengan kebisingan di dalam tenda.
"Ayok bangun, gaboleh males malesan!" Ujar Nita tegas yang membuat semua langsung terduduk.
"Nah gitu dong! semangat!" Ujar Nita tersenyum puas.
"Bun, masih malem ini. Renita masih ngantuk" Celetuk Renita yang masih mengucek matanya.
"Malem dari mana? ini sudah jam 4 pagi. Ayok bangun, nanti bunda tinggal di tenda sendirian mau?" Tanya Nita megancan putrinya yang pemalas itu.
"Iya iya, Renita bangun!" Kesal Renita lalu beranjak membereskan barang barang yang ia perlukan.
Setelah semuanya siap, mereka semua keluar dari tenda dan menuju uju ke tepi gunung untuk melihat matahari terbit.
Hanya membutuhkan sekitar 20 menit perjalanan mereka semua telah sampai di tempat tersebut.
Matahari belum menunjukan tanda-tanda kehadirannya, semua duduk diatas bebatuan untuk menunggu matahari terbit.
Renita merasa kesal karena ini terlalu pagi, dan masih lumayan lama menunggu matahari terbit.
"Ganggu waktu tidur aja" Gerutu Renita lalu menendang sebuah batu yang berukuran sedang hingga menggelinding agak jauh.
"AAARRRGGGHH" Teriak Renita karena merasa seluruh tubuhnya terasa panas seperti terbakar.
Semua panik karena Renita yang terus berteriak kesakitan.
"Kenapa sayang?" Tanya Arga cemas.
"Putrimu sangat nakal tuan! akan kubawa dia agar kalian bahagia" Ujar Renita dengan suara yang berbeda, suaranya berubah seperti perempuan tua.
"Eno takut bunda!" Ujar Eno yang bersembunyi di pelukan Sinta.
Sinta mendekap putranya dengan kuat. "Semua akan baik baik saja sayang"
"Apa maumu?" Tanya Arga yang sudah tau bahwa dia bukan putrinya.
"Aku menyukai warna merah dan segala sesuatu yang manis, seperti darah" Ujarnya yang membuat Arga mengernyitkan dahi.
"Aku akan membunuhnya, atau membunuh kalian" Lanjutnya dengan amarah yang menggebu-gebu, lalu ia tertawa dengan lengkingan yang memekakan telinga.
"Keluarlah dari tubuh putriku" Ujar Arga sedikit takut.
"Darah.." Satu kata terakhir yang ia ucapkan, Renita jatuh lemas di dekapan Arga karena kehabisan tenaga.
**
***Jangan lupa untuk vote,share, and komen cerita ini ya.
__ADS_1
-All***