Buka Pintu!

Buka Pintu!
4 ~ Sosok Berkain Kafan


__ADS_3

"*Abdi badé sumping sareng anjeun, sabab putri anjeun sobat abdi."


("Aku ingin ikut denganmu, karena putrimu adalah temanku*")


--


Karena tragedi kesurupan Renita, mereka semua lebih hati hati dalam melakukan segala hal.


Namun berbeda dengan Renita, anak itu tidak ada kapok kapoknya. Ia tetap menjadi anak yang ceroboh.


"Kita langsung pulang ke tenda atau mau jalan jalan dulu nih?" Tanya Arga.


"Ke tenda aja lah yah, Renita masih lemes itu" Jawab Nita menunjuk Renita yang melamun diatas batu.


"Enggak! aku mau jalan jalan" Ujar Renita datar.


Nita menghela napas lelah, anaknya begitu susah untuk diberi tahu.


Mereka mulai beranjak untuk sekadar melihat lihat pemandangan, berkeliling disertai dengan canda tawa yang sesekali Arga lontarkan.


"Kak! Liat deh, bunganya cantik" Ujar Renita menunjuk setangkai bunga berwarna ungu.


"Petikin dong!" Lanjutnya menyenggol lengan Alvin.


"Teteh jangan!" Larang Eno yang mulai panik.


"Iya Renita! pengunjung dilarang memetik bunga sembarangan!" Timpal Nita.


"Alah cuma bunga kecil kok!" Elak Renita lalu mendorong bahu kakaknya untuk memetik bunga tersebut.


Karena belum siap terhadap dorongan Renita, kaki Alvin tergelincir hingga ia terperosok ke dalam jurang.


"ALVIN!!" Teriak Arga,Nita, dan Sinta bersamaan.


Sedangkan Renita dan Eno hanya terdiam melihat Alvin yang jatuh ke dalam jurang itu.


"Kamuu..!" Nita menangis tak bisa melanjutkan kata katanya.


"Renita! apa-apaan kamu ini?" Bentak Arga kepada Renita.


Renita terdiam, ia tidak bisa mengeluarkan kata kata apapun.


"Telpon ke pusat informasi!" Ujar Sinta panik.


Arga merogoh saku celananya, meraih ponsel untuk menghubungi pusat informasi.


"Kirim tim SAR untuk melakukan pencarian anak saya! Anak saya terpelosok ke dalam jurang!" Teriak Arga panik saat telponnya tersambung.


Setelah itu semua bergegas mencari keberadaan Alvin.


"Alvin!!! kamu dimana nak?"


"Alvin sayang!"


"Kakak!!"


Teriak mereka semua mencari Alvin.


Pasukan tim SAR sudah dikerahkan untuk melakukan pencarian.


Tak terasa, langit sudah semakin gelap. Malam telah tiba, namun Alvin tak kunjung di temukan.


"Maaf pak, sebaiknya kita melanjutkan pencarian besok pagi" Ujar salah satu tim SAR kepada Arga.


"Tapi pak, anak saya belum ketemu" Tolak Arga bersikukuh untuk terus melanjutkan pencarian.

__ADS_1


"Jika terus di lanjutkan, akan membahayakan yang lainnya. Lebih baik malam ini bapak dan keluarga kembali ke tenda dan istirahat"


Akhirnya Arga mengalah, mereka semua kembali ke tenda untuk beristirahat.


"Semua ini karena kecerobohan kamu, Renita!" Racau Nita di sela sela tangisnya.


"Kakak jatuh sendiri, bukan aku!" Elak Renita membela dirinya.


"Sudah jelas kalau kamu yang mendorong kakak kamu!" Bentak Nita.


"Sabar bun, besok kita cari Alvin lagi" Ujar Arga menenangkan istrinya.


"Tadi Eno udah bilang jangan, tapi teteh engga mau dengel" Suara cadel Eno terdengar parau.


"Salahin Renita aja terus!" Kesal Renita lalu berjalan lebih cepat.


Saat ingin membuka tenda, Renita dikejutkan dengan keberadaan Alvin di dalam.


Tubuh Renita mematung tak bergerak.


"Kakak.." Ujar Renita lirih.


Nita yang mendangarnya langsung berlari menuju tenda.


"Alvin?" Nita ikut mematung tidak percaya karena di dalam tenda sudah ada Alvin yang sedang duduk bersila.


Tanpa basa basi Nita langsung memeluk Alvin dan menangis lega.


"Alvin? kamu gapapa sayang?" Tanya Nita mengelus lembut kepala Alvin.


Namun Alvin hanya diam mematung, ia yak bergeming sama sekali. Pandangannya kosong lurus ke depan.


"Alvin? kamu sakit? Badanmu dingin?" Unar Nita panik.


"Alvin sekarang tidur ya, besok kita lanjut liburannya" Ujar Arga membantu Alvin untuk merebahkan tubuhnya lalu menyelimutinya.


Ada rasa ragu bahwa itu bukanlah Alvin yang sebenarnya.


"Bunda" Panggil Eno kepada Sinta.


"Apa sayang?" Tanya Sinta lembut.


"Bukan abang apin" ujarnya berbisik di telinga Sinta.


Sinta terdiam, apakah benar itu bukan Alvin? lalu siapa?


Sinta memilih diam dan tidur dengan Eno.


Semuanya tertidur dengan lelap, memulihkan tenaga yang terkuras di hari ini. Karena besok pagi mereka akan melanjutkan liburan ke pantai.


"Abdi badé sumping sareng anjeun, sabab putri anjeun sobat abdi."


("Aku ingin ikut denganmu, karena putrimu adalah temanku")


Arga bergerak tidak nyaman dalam tidurnya, sebuah sosok berkain kafan tiba tiba muncul di mimpinya.


"Pergi!" Usir Arga kepada sosok tersebut.


"Putri anjeun nyandak abdi"


(*"Putrimu membawaku")


"Henteu!"


(*"Tidak!") Teriak Arga terbangun tidurnya.

__ADS_1


Arga menoleh ke kanan dan ke kiri, semuanya masih lelap tertidur.


"Cuma mimpi, cuma mimpi" Gumam Arga mengelus dadanya, lalu kembali tidur.


Tak terasa bulan telah berganti menjadi matahari.


Semuanya telah turun dari gunung. Setelah sampai di bawah, mereka memutuskan untuk makan siang sebelum melanjutkan perjalanan.


Semua tampak normal, kecuali Alvin yang terlihat pucat dan tak banyak bicara.


"Kamu kenapa sayang? sakit?" Tanya Nita khawatir.


Alvin menggeleng sebagai jawaban.


"Yasudah ayo kita lanjut ke pantai!" Ujar Arga bersemangat.


Semua masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan menuju ke tujuan selanjutnya, Pantai.


"Bun.." Bisik Eno yang membuat Sinta menoleh kepadanya.


"eta teh jurig, sanes abang apin"


(*"itu hantu, bukan abang apin") Lanjutnya menunjuk Alvin yang duduk di depannya.


Tiba tiba Alvin menoleh menatap Eno dengan tajam.


Eno yang takut langsung memeluk Sinta dengan erat.


"Cicing maneh"


(*"diam kamu") Ujar Alvin lirih.


Perjalanan terasa sunyi, hanya suara musik yang diputar menemani kesunyian tersebut.


Semua diam dalam pikiran masing masing.


"Kakak kok bisa balik ke tenda? padahal kita semua seharian cari kakak enggak ketemu loh!" Tanya Renita memecah keheningan.


"Iya sayang, bunda sama yang lainnya panik nyari kamu. Ehh, kamunya malah udah diem di dalam tenda?" Timpal Nita yang ikut heran.


"Teu terang"


(*"Tidak tahu") Jawab Alvin datar.


"Terus kok kakak nggak ada luka sama sekali? kan jurangnya dalem banget?" Tanya Renita lagi.


Tidak ada jawaban dari Alvin, pandanganya kosong tetapi tajam kearah depan.


"Teu penting"


(*"Tidak penting") Jawabnya setelah lumayan lama terdiam. Ia tersenyum, tapi senyum yang susah di mengerti. Sangat misterius.


"Kamu tumben ngomongnya pakai Bahasa Sunda terus? biasanya kamu paling susah kalau di suruh ngomong Sunda" Tanya Arga dengan kekehannya.


Alvin memang sangat susah jika di suruh berbicara dengan Bahasa Sunda, selalu ada alasan untuk menghindari perintah tersebut.


Namun kali ini membuat semuanya bingung, kecuali Eno dan Sinta yang memang sudah tahu bahwa itu bukan Alvin yang sebenarnya.


Keadaan kembali hening, hanya terdengar suara burung yang terus berkicau mengakhiri cerahnya siang.


Hari sudah gelap, sebentar lagi mereka akan tiba di pantai.


Untuk malam ini mereka akan tidur di mobil untuk menunggu matahari terbit di pantai, karena mereka belum menyewa homestay untuk menginap.


**

__ADS_1


***Jangan lupa untuk vote,share, and komen cerita ini ya.


-All***


__ADS_2