Buka Pintu!

Buka Pintu!
8 ~ Siluman Ular


__ADS_3

"Kau akan sulit membedakan mimpi dengan kenyataan"


--


Hari mulai gelap, saat ini mereka sudah memasuki area hutan yang akan mereka tempati selama campinh lima hari kedepan.


"Ayah, kok lama banget sih Renita udah laper" Rengek Renita memegangi perutnya yang terasa lapar.


"Sabar sayang, sebentar lagi sampai kok" Jawab Arga melirik Renita dari kaca mobil.


"Dari tadi sebentar lagi sampai, sebentar lagi sampai! tapi udah malam gini belum sampai sampai" Gerutu Renita kesal.


"Sabar Renita! Yah, kita berhenti di sini dulu untuk makan malam" Perintah Nita kepada suaminya itu.


Arga menuruti perintah istrinya, ia memberhentikan mobil tepat di bawah pohon besar yang rindang.


"Ayo kita turun, kita makan di bawah pohon" Titah Nita lalu membuka pintu mobil.


"Bunda, gelap" Ucap Eno takut.


"Eno jangan takut, kan ada bunda, teteh, abang, dan yang lainnya" Jawab Sinta menenangkan.


"Tapi bunda, nanti mereka ikutan" Lanjut Eno menatap pohon besar itu dengan lekat.


Sinta mengerutkan dahi bingung, siapa 'mereka' yang di maksud oleh Eno? bahkan tidak ada pengunjung lain di hutan ini.


"Sayang, jangan takut! Ayo kita makan dulu"


Sinta menggendong Eno untuk turun dari mobil dan ikut makan bersama dengan yang lainnya.


Mereka semua makan dengan lahap, di temani dengan senter sebagai penerang.


Tiba-tiba saja Eno menangis meraung-raung ingin pulang, diikuti dengan senter yang tiba-tiba meredup lalu mati.


"Eno kenapa, Sinta?" Tanya Arga panik seraya mencari alat penerangan.


"Mungkin Eno takut gelap" Jawab Sinta yang berusaha menenangkan Eno.


"Tidak mungkin, Eno menangis sebelum senter itu mati" Celetuk Nita.


"Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan, ayo kita masuk mobil" Titah Arga yang mulai merasakan hawa tak enak.


Semua masuk kedalam mobil dengan tergesa.


Arga mencoba menghidupkan mobilnya berkali-kali. Namun nihil, mobil tersebut tidak mau hidup.


"Ayah cepetan! Renita takut!" Teriak Renita yang mulai ketakutan.


"Mobilnya mati" Ujar Arga lalu membuka pintu mobil untuk keluar.


"Jangan mas" Cegah Nita yang membuat Arga mengurungkan diri untuk keluar.


Braaakkk!!


"Bundaaaaa" Teriak Eno saat sesuatu jatuh di atap mobil.


"Ayah! tutup kaca mobilnya" Teriak Nita takut.


"Nggak bisa bun" Jawab Arga yang terus mencoba menutup kaca mobil.

__ADS_1


"Tutup mata kalian, baca doa!" Lanjut Arga berteriak.


Semua menutup mata dan merapalkan doa doa, kecuali Alvin yang malah bergerak gelisah.


"Cicingkeun anjeun sadayana!"


(*"Diam kalian semua!") Teriak Alvin murka.


Tidak ada yang membuka matanya, mereka semakin mengeraskan doa doa yang mereka baca.


Dari arah kaca sebelah Arga muncul seekor ular yang sangat besar.


Ular tersebut melata kearah Renita, melilit tubuh mungil Renita.


"Ayahh..." Ujar Renita susah payah karena dadanya mulai sesak.


"Buka panon anjeun!"


(*"Buka matamu!") Teriak Alvin yang semakin murka..


Semua membuka mata dengan perlahan, lalu menoleh kearah Renita yang sudah tak sadarkan diri.


"Ayah ular!" Teriak Nita menunjuk putrinya yang terlilit ular besar.


Tanpa pikir panjang Arga mengeluarkan pisau lipat dari sakunya.


"Jangan!" Teriak Eno saat Arga bersiap untuk menusuk ular tersebut dengan pisau.


Tapi Arga tetap kukuh dengan pendiriannya, pisau lipat di tangannya sudah tertancap di tubuh ular tersebut.


Bukan darah yang keluar dari tubuh ular itu, tetapi asap hitam yang perlahan memenuhi isi mobil.


Semua menghela napas lega saat Renita perlahan sadar.


Alvin sama sekali tidak menutup matanya, ia terus menatap Renita dengan lekat.


"Kakak haus tolong ambilin air" Ujar Alvin membangunkan Renita.


"Apa sih kak?" Tanya Renita yang perlahan menbuka matanya.


"Ambil air di sungai" Ujar Alvin lagi.


"Tumben pakai Bahasa Indonesia? itu di depan kan ada a-"


"Airnya habis" Jawab Alvin.


"Iya deh! sebagai permintaan maaf Renita karena bikin kakak jatuh kemarin, Renita bakal cari air di sekitar sini" Jawab Renita lalu keluar dari mobil.


Dengan langkah yang gontai menahan kantuk, Renita terus masuk ke dalam hutan yang gelap.


Renita tersedar dengan apa yang ia lakukan.


"Kenapa ada di tengah hutan sih? bukannya tadi tidur di mobil?"


"Ini mimpi kan?"


Renita terus berputar putar mencari jalan untuk kembali ke mobil.


Renita terdiam, pikirannya melayang saat ia tersesat di gunung waktu itu.

__ADS_1


Ia takut jika kejadian itu terulang kembali.


"Kalian enggak akan bisa ngerjain aku lagi! Aku akan tetap diam di sini sampai ayah dan bunda datang jemput aku!" Teriak Renita kesal.


Asap misterius tiba tiba muncul mengelilingi Renita. Renita mulai terududuk takut.


"Kalian jangan pernah ganggu aku!" Teriak Renita yang mulai frustasi.


Asap tersebut berhenti tepat di depan Renita, perlahan membentuk sosok yang menakutkan.


Lima sosok berdiri mengelilingi Renita.


Ada pocong berkain kafan merah, kuntilanak dengan muka yang hancur, pria tinggi berbulu lebat dengan mata merah, Ular besar berkepala manusia, dan sosok menyerupai kakaknya sedang berdiri diantara mereka.


"Kalian lihat kan? Kakaku sudah jemput aku untuk kembali ke mobil! Jadi kalian jangan macam-macam!" Teriak Renita menundukan pandangannya.


Sebenarnya Renita sangat takut karena sosok menyeramkan yang mengelilinginya.


"Hilangkan sifat angkuhmu itu Renita!" Ujar Alvin dengan raut wajah yang datar.


"Kak jangan bahas itu di sini! Sekarang kakak harus bawa Renita ke mobil!" Jawab Renita memejamkan matanya.


"Jadilah anak yang baik hati, jangan tertipu dengan sesuatu yang hampir menyerupai sosok terdekatmu"


Renita semakin bingung dengan apa yang kakaknya bicarakan.


"Kakak ngomong apa sih! Renita tau kalau Renita udah jahat sama kakak, buat kakak jatuh ke jurang. Tapikan Renita udah minta maaf sama kakak, jadi tolong sekarang bawa Renita pergi dari sini" Teriak Renita takut.


Sosok menyeramkan itu kembali mendekat kearah Renita.


"Anak kecil sepertimu harus di musnahkan!" Ujar sosok tersebut bersamaan.


"Aku tidak takut dengan kalian! Pergi kalian semua dari hadapanku!" Teriak Renita yang masih kukuh dengan pendiriannya yang angkuh.


"Sebentar lagi teror yang sebenarnya akan di mulai, selamat menikmati gadis kecil"


"Renita bangun! sudah pagi!"


Renita terbangun karena suara Nita yang menggelegar.


"Mimpi?" Gumam Renita saat melihat keadaan sekitarnya yang normal seperti biasa.


"Bukannya tadi malam aku di suruh kakak ambil air? waktu itu aku bangun tidur? kok sekarang aku juga bangun tidur?" Lanjut Renita semakin bingung dengan apa yang dialaminya.


"Renita!" Panggil Nita yang membuat Renita tersadar dari lamunannya.


"Iya bunda?" Tanya Renita.


"Ayo kita sama-sama cari air? atau kamu mau jaga mobil sendirian?" Jawab Nita ketus.


"Kalau ngomong sama Renita aja bentak-bentak, giliran sama yang lainnya lembut. Bunda enggak adil!" Gerutu Renita yang mendapat pelototan dari sang bunda.


"Kamu kalau di baikin selalu ngelunjak"


Nita berlalu meninggalkan Renita di belakang.


Sedangkan Renita hanya bisa mendengus kasar karena ia selalu salah di mata bundanya itu.


**

__ADS_1


Jangan lupa buat vote,like,komen,and share cerita ini ya..


-All


__ADS_2