
"Aku berada dalam tubuhmu, jika kau ingin melihatku tataplah kaca itu"
--
Saat ini keluarga Pramoedya sedang makan malam di Resort Laut sekitar pantai.
Suasana begitu hening, hanya ada dentingan yang ditimbulkan oleh sendok dan piring yang beradu.
Pengunjung di resort ini tak begitu ramai. Hanya ada sekitar tiga meja yang di tempati.
Penerangan di resort tersebut hanya menggunakan lampu bohlam berwarna oren yang tak begitu terang.
Namun itu hanya sebentar, karena tiba tiba listrik padam. Keadaan menjadi gelap gulita.
"Aduh malah mati lampu, kan jadi susah makannya" Gerutu Renita meletakkan sendok yang ia pegang dengan kasar.
Arga merogoh saku kemejanya, mengambil ponselnya dan menyalakan senter untuk menerangi sekitarnya.
"Makannya di lanjutin, habis ini kita langsung pulang ke homestay" Ujar Arga lalu melanjutkan makannya, dengan tangan kiri yang memegang ponselnya untuk penerangan.
Tak lama kemudian makan malam mereka sudah selesai.
Setelah membayar bill di kasir, mereka berjalan kembali ke homestay.
Keadaan homestay sangatlah sepi. Mereka mengira bahwa saat malam tiba homestay sedikit ramai karena para pengunjung akan pulang untuk beristirahat.
Namun ini tidak sama sekali, semua tampak sepi. Bahkan hanya satu kamar yang terlihat terang, itupun kamar yang mereka tinggali.
Brukkk..
Arga tidak sengaja menabrak seseorang yang sedang berjalan di depannya.
"Maaf pak, saya tidak sengaja" Ujar Arga meminta maaf.
"Tidak apa apa, lagi pula tidak ada pencahayaan. Jadi tidak terlihat" Jawab bapak bapak tersebut ramah.
"Kalian menginap di homestay ini?" Lanjut bapak itu bertanya.
"Iya pak" Jawab Nita.
"Bagaimana bisa?" Gumamnya pelan, namun Arga masih bisa mendengarnya.
"Kalau boleh tahu, ada apa ya pak?" Tanya Arga ingin tahu.
"Kalian hati hati, saya permisi dulu" Jawab bapak tersebut lalu berlalu pergi.
"Bapaknya kenapa?" Tanya Sinta bingung.
"Mungkin bapaknya terburu-buru" Jawab Arga sekenanya.
Mereka mulai memasuki homestay yang sangat gelap, udara yang dingin membuat bulu kuduk mereka berdiri.
Perlahan mereka melangkahkan kaki menaiki tangga satu persatu.
Setelah sampai di lantai tiga mereka berjalan kearah ujung ruangan, dimana kamar mereka berada.
Braaakk...
__ADS_1
Salah satu pintu kamar yang ia lewati tiba tiba terbuka, menimbulkan bunyi nyaring yang mengejutkan.
"Aaaaaa!! bunda!" Teriak Renita takut lalu memeluk bundanya.
"Enggak ada apa apa" Ujar Nita menenangkan.
"Tunggu di sini, biar ayah cek dulu" Ujar Arga lalu berjalan kearah kamar itu.
Perlahan Arga mendekat dan mendengar kebisingan di dalam. Apakah ada suatu pertengkaran di dalam?
Arga mematung kaku saat melihat apa yang ada di dalam kamar tersebut.
Sosok merah tinggi berkain kafan, namun kain kafan itu tak lagi putih. Darah membuat kain kafan itu berwarna merah.
Muka yang sudah tidak jelas bentuknya, dan bau bangkai yang menyeruak di indra penciuman Arga.
"Astaghfirullah" Gumam Arga lalu berbalik menghampiri Nita dan yang lainnya.
"Ada apa yah?" Tanya Nita yang melihat raut wajah panik dari suaminya.
"Ayo ke kamal" Ujar Eno menarik narik ujung baju yang Sinta kenakan.
"Masuk kamar" Ujar Arga singkat lalu berjalan kearah kamr diikuti yang lainnya.
Setelah semua masuk ke dalam kamar, Arga mengunci pintu beberapa kali.
Semua terlihat bingung dengan tingkah Arga.
"Ada apa?" Tanya Sinta kepada Arga.
"Ih lama deh yah, Renita mau cuci muka dulu" Sela Renita lalu mengambil lilin dan masuk ke kamar mandi.
"Kenapa yah? yang jelas dong" Desak Nita geram.
"Ayah tadi liat poc.."
"Stoopppp" Sela Eno berteriak.
"Kenapa Eno?" Tanya Sinta bingung. "Jangan di lanjutin, Nanti dia kesini. Eno udah tau" Lanjut Eno takut.
Arga terdiam, ia paham dengan apa yang diucapkan oleh Eno.
Sedangkan Nita dan Sinta hanya terdiam setelah ia tahu bahwa yang di maksud Arga dan Eno adalah 'pocong'.
Renita masih berada di dalam kamar mandi, ia berdiri tepat di depan kaca.
"Cantik banget sih" Gumam Renita seraya memainkan rambutnya.
'sagelas'
(*'kaca') Telinga Renita berdengung saat sebuah bisikan terdengar di telinganya.
Kemudian ia menatap kaca dengan lekat. Tiba tiba saja wajahnya berubah seperti wanita tua dan banyak darah.
Diikuti munculnya makhluk tinggi, berbulu lebat, dan bermata merah di samping kanan.
Sedangkan di samping kiri terdapat sosok pocong berwarna merah.
__ADS_1
Renita yang ketakutan berlari dan berteriak keluar kamar mandi, menghampiri Arga dan yang lainnya.
"Ayaaahhhh... Bundaaa" Teriaknya lalu memeluk Arga.
"Kenapa sayang?" Tanya Arga mengelus pucuk rambut Renita.
"Renita takut yah, ada hantu di kamar mandi" Jawab Renita dengan tangisannya.
Semua terdiam, Apakah hantu yang Arga temui di kamar tadi mengikuti hingga ke kamar mereka?
"Tidak ada apa apa sayang" Ujar Nita menenangkan.
"Renita enggak bohong bun, Renita liat dengan mata kepala Renita sendiri kalau tadi di kamar mandi ada tiga hantu sekaligus yang Renita lihat" Ujar Renita meyakinkan semuanya.
"Teteh halus kembaliin kalung itu" Celetuk Eno menunjuk kalung yang di pakai oleh Renita.
"Enggak! enggak akan, kalung ini punya Renita" Kukuhnya tidak ingin mengembalikan kalung itu.
"Tapi itu bahaya teh" Tegas Eno yang membuat Renita tambah kesal.
"Enggak akan aku balikin"
"Renita! besok kembalikan kalung itu. Kalung itu bukan milikmu, kamu tidak ada hak untuk mengambilnya" Ujar Nita dengan tatapan tajamnya.
"Ayah.." Rengek Renita kepada Arga.
"Besok kamu harus kembalikan kalung itu di tempat pertama kali kamu menemukannya" Ujar Arga tegas.
"Tapi yah, ini milik Renita. Toh kalau Renita kembaliin di pantai bakal percuma, yang punya kalung mungkin enggak nyariin" Elak Renita kesal.
"Tidak ada bantahan, besok harus kamu kembalikan" Putus Arga telak.
Renita hanya bisa mendengus kesal, menatap Arga dengan tatapan bencinya. Baru kali ini Arga lebih memihak Nita daripada Renita.
"Ayah jahat" Rajuk Renita lalu merebahkan tubuhnya di ranjang, dan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut.
"Eno enggak mau tidur di deket abang" Ujar Eno pelan.
"Iya, nanti bunda yang deket abang. Eno enggak boleh takut, sebelum tidur Eno berdoa dulu" Jawab Nita tersenyum penuh kasih sayang.
"Yasudah, semuanya istirahat. Besok kan hari terakhir kita di sini" Ujar Arga mencairkan suasana.
"Alvin, kamu kenapa diem di situ?" Tanya Arga kepada Alvin yang sedang berdiri di dekat jendela.
Alvin hanya menggeleng sebagai jawaban, Arga merasa ada sesuatu yang berbeda pada Alvin.
Ia tiba tiba menjadi pribadi yang pendiam setelah beberapa hari yang lalu ia terjatuh di jurang.
"Sini nak, kita tidur. Kamu pasti capek kan" Ujar Nita menepuk sisi ranjang yang kosong.
Lagi lagi tidak ada respon dari Alvin, ia hanya berjalan menuju ke arah Nita dan ikut merebahkan tubuhnya di antara Arga dan Nita.
**
***Jangan lupa untuk vote,share,and komen cerita ini ya.
-All***
__ADS_1