Bukan Cinta Murahan

Bukan Cinta Murahan
Hampir Dilecehkan dan Bertemu Pria Asing


__ADS_3

“Kemarilah cantik, kita bermain-main dulu. Santay saja, kemarilah.”


Beberapa pria datang menggoda seorang gadis yang baru saja pulang bekerja. Ia terpaksa berjalan kaki setelah kehilangan uang saku yang membuatnya tak bisa membayar ongkos angkot.


Jantungnya berdegup kencang, khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk menimpanya. Perlahan ia mundur sambil memperhatikan keadaan sekitar. Harap-harap cemas, seseorang akan membantunya.


“Kenapa malah mundur? Kamu takut sama kita berempat?” goda si pria berambut gondrong itu.


Konyol! Tentu saja takut. Bahkan tanpa dijawab pun, raut wajah gadis itu sudah menunjukkan jawaban yang pasti.


Caca melangkah semakin mundur sekarang. Ia menatap tajam pada keempat pria itu.


“Menjauhlah, menjauh! Aku tidak ada urusan dengan kalian. Menjauh dariku!” ancamnya dengan nada suara yang parau sambil mengeluarkan penggaris besi di tangannya.


“Kalau tidak? Apa yang bisa kamu lakukan pada kami?” balas salah satu dari pria itu lagi.


“Ayo, tidak usah banyak drama. Kita kuliah di kampus yang sama. Kami sudah sering memperhatikan kamu. Kami berempat hanya bercanda, maaf kalau membuatmu jadi takut beneran,” ujar Gio yang samar-samar dikenali oleh gadis itu.


“Em, kalian duluan saja. Aku mau telepon adikku dulu,” balas Caca mencoba memasang sikap senatural mungkin.


Gio mengangguk setuju. Ia mengajak ketiga temannya untuk sedikit menjauh dari gadis itu.


“Kalian tetap pantau dia. Jangan sampai lepas,” ujarnya sangat pelan, namun masih terdengar di telinga Caca.


Perlahan tapi pasti, gadis itu melangkah mundur tanpa suara sebelum akhirnya berlari sekencang mungkin. Detakan jantungnya yang begitu kencang membuat staminanya sempat melemah.


Namun, menyadari keempat orang jahat itu yang mulai mengejarnya, membuat semangat kabur pun semakin tinggi.


“Mama, tolong aku ... aku takut,” gumamnya menahan tangis.


“Hap! Dapat juga!” ujar Gio segera menangkap dan memeluknya sekarang.


“Apa salahku? Apa aku pernah bersikap yang membuat kalian tersinggung? Aku minta maaf.”


Gadis itu mencoba mengulur waktu sampai adiknya bisa mendengar percakapan itu di sambungan telepon yang baru saja terjawab.


“Kamu cantik. Sexy, menarik, dan menggoda tentunya,” balas Gio sambil mengangkat dagu gadis itu.

__ADS_1


Dari sana, Caca pun sadar jika Gio adalah bos dari ketiga orang yang hanya diam sambil menikmati tontotan mereka. Ketiga orang itu bahkan mundur menjauh ketika diberi isyarat.


“Sudah, yuk. Itu ada rumah kosong, kita di sana saja. Aku sudah tidak tahan.” Gio menuntun langkah Caca sambil mengeluarkan sebuah pisau dari saku jaketnya. Ia tak lupa memberikan ponsel gadis itu kepada temannya untuk segera dihancurkan.


Tak terasa, air mata Caca telah membasahi wajahnya sekarang. Ia yang diberi perintah untuk tak bersuara, tak lagi tau harus berbuat apa. Ia juga diancam dengan mengarahkan pisau ke perutnya sekarang.


“Ummmh ... sepertinya tubuh indahmu akan sangat membuatku senang. Kemarilah.”


Caca tak lagi dapat menahan rasa takutnya. Rasanya ia lebih pasrah jika harus mati daripada menyerahkan tubuhnya begitu saja.


“Tolong lepaskan aku,” pintanya dengan nada yang penuh harap. Ia bahkan mengatupkan kedua tangannya sambil berurai air mata.


“Kemarilah, aku akan menikmatimu,” ujar Gio yang sepertinya sudah tidak tahan.


Caca memejamkan matanya, ia bergerak untuk meraih pisau itu.


Namun, bertepatan dengan tubuhnya yang akan disentuh, sebuah tendangan segera menghantam kepala Gio. Caca yang masih tak sadar akan hal itu tetap memejamkan mata.


“Kau yang akan kunikmati. Apa-apaan? Beraninya kau mengganggu wanita. Kalau banyak pria yang punya pikiran kotor sepertimu, dunia ini tidak akan pernah aman. Dasar penjahat!” omel orang asing itu sembari memberikan pukulan bertubi-tubi di kepala Gio menggunakan sepatunya.


“Siapa kamu?!” geram Gio yang masih belum sadar jika ketiga temannya sudah ambruk dan tak sadarkan diri sekarang.


Lagi pria asing itu membuat Gio tak berkutik. Caca juga membuka matanya dan segera merapikan pakaiannya. Ia yang masih takut, memeluk tasnya.


“Berjanjilah, lain kali tidak akan seperti itu!” teriak orang asing yang masih membuat Caca takut.


Sekarang, ia malah khawatir jika itu adalah bagian dari permainan Gio. Tatkala hendak berlari menjauh, rambutnya seera ditarik.


“Mau ke mana? Mau pulang sendirian lagi? Ayo, aku antarkan!” perintah pria itu dengan nada yang tak ingin dibantah.


Caca mencoba memastikan keadaan Gio yang sudah berlumuran darah sekarang. Ia segera sadar jika pria itu bukanlah komplotan membuat rasa percayanya sedikit tumbuh.


“Asisten saya sudah datang. Mau diantar pakai mobil, motor, atau jalan kaki?”


“Helikopter,” balas Caca terdenga konyol segera menutup mulutnya. Ia merasa menyesal sebab menyisipkan candaan di situasi menakutkan itu.


“Memangnya bisa? Bagaimana dengan pekarangan rumah kalian?” balas pria itu santai. Lagi-lagi memberikan suasana yang sangat serius.

__ADS_1


“Tidak, Om. Saya hanya bercanda, hanya bercanda. Jalan kaki saja, takutnya adik saya datang untuk menjemput. Sebelumnya terima kasih telah menolong saya,” ujar wanita itu dengan kecepatan tinggi membuat pria itu hanya melongo.


‘Bisa-bisanya dia memanggilku om. Memangnya aku ini sudah sangat tua?’ batinnya.


***


Sinta merasa kesal sebab putrinya tak kunjung pulang. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Telinganya sudah sangat panas ketika mendengar obrolan dalam pergosipan tetangga.


Rasa kesal itu kian mencuat tatkala putranya tak peduli dan memilih untuk bermain game. Ia mendekat hendak memerintah pria itu sekali lagi.


“Aku tidak mau, Bu. Lagian wajarlah, Kakak sudah dewasa. Banyak kegiatan yang dia lakukan yang kita tidak tau di luar sana. Dia bisa jaga diri, kok.”


“Brian, kamu tau, kan? Kakakmu itu tidak pernah pulang lewat dari jam 9. Ibu takut, dia sedang kencan.”


“Ibu, sudahlah ah. Aku mau main game, jangan berisik. Masuklah sana, aku akan tungguin dia di teras,” tegas Brian yang benar-benar tak ingin diganggu.


Langkah Sinta terhentikan tatkala mendengar suara sepasang manusia yang semakin mendekati rumahnya. Ia membalikkan badan dan sangat murka melihat kedatangan putrinya.


“Kamu tuh, ya! dari mana saja? Ibu sudah bilang berkali-kali, jangan berkencan. Tidak ada pria kaya yang akan menikahimu nanti. Cepat kemari!” omelnya yang segera bergerak cepat mendekati putrinya.


“Hei, Om Kiano. Eh, Kiano. Tolongin dong! Jangan malah pergi begitu. Ibuku marah karena berpikir kamu adalah pacarku. Tolong bantu aku dan berikan penjelasan-“


Belum sempat Caca menyelesaikan perkataannya, pria itu segera melangkah pergi dari sana. Ia bahkan tak mengucapkan sepatah kata pun.


Hal itu membuat gadis itu panik dan berniat mengejar Kiano. Ia butuh pertolongan, hanya sebatas kata pengakuan jika mereka tidaklah pacaran.


Namun naas, ibunya segera mendapatkan dan semakin salah paham sekarang. Rambut panjangnya segera menjadi korban ketika ditarik paksa oleh Sinta.


“Kamu tuh, ya! mau jadi apa nanti. Mau jadi perempuan ******? Kamu senang ya, kalau setiap hari menjadi bahan pembicaraan di kampung ini? Kamu senang?!”


“Ibu, dengerin penjelasan aku dulu.”


“Ibu tidak mau bicara sama kamu. Kamu masuk kamar, tidur. Besok kita harus ziarah ke tempat bapakmu.”


Suasana seketika hening. Brian bahkan menggunakan earphone-nya lalu menutup pintu kamar dengan kencang. ia tak ingin ikut campur dalam permasalahan itu.


Fyuh!

__ADS_1


***


__ADS_2