Bukan Cinta Murahan

Bukan Cinta Murahan
Tawaran Pekerjaan dengan Gaji 35 Juta


__ADS_3

Sihol terlihat sudah berada di ruangan di mana Sinta dirawat saat ini. Pria itu terlihat sibuk dengan ponselnya membuat suasana menjadi canggung.


Menyadari hal itu, ia segera ke luar dan menyibukkan diri di sana.


Tak berselang lama, Caca hadir. Ia segera menanyakan keadaan sang ibu yang berhasil membuatnya kaget bukan main.


“Brian?” panggilnya.


“Iya, itu benar, Kak. Ibu harus segera dioperasi. Kita butuh biaya operasi sekitar lima puluh jutaan. Nggak tau harus nyari uang dari mana sebanyak itu.”


Pria itu menundukkan kepala, ia bingung dan frustasi.


“Padahal aku baru saja dapat kerjaan yang gajinya lumayan besar. Tiga jutaan.”


“Caca, Brian. Cukup. Kalian tidak usah terlalu memikirkan kondisi ibu. Cukup pikirkan masa depan kalian saja. Kalau ibu mati, matinya dengan damai.” Sinta menyela.


“Ibu!” seru kedua bersaudara itu bersamaan.


Ketiga orang itu terdiam sekarang. Terlihat Caca yang menghitung kondisi keuangannya.


“Apa biayanya hanya 50 jutaan? Itu untuk semuanya?”


Brian menggeleng. “Aku tidak tau, Kak.”


Caca menghela napas panjang sesaat. “Kamu jaga Ibu saja di sini. Kakak yang akan nyari biayanya. Aku perg-“


Perkataan yang segera terdiam tatkala Sihol datang dan menyela.


“Saya bisa kasih gaji 10 juta. Mau?”


Caca tidak segera menjawab. Ia memastikan pemilik wajah itu yang sepertinya ia kenali.


“Ngapain kamu di sini?” bentaknya.


Sihol mengernyitkan keningnya. Ia juga mengalami kebingungan yang sama. Bertemu dengan gadis yang sangat cerewet itu.


“Ini anak Bibi?” tanya Sihol memastikan.


“Anda majikannya? Maaf, maaf, saya tidak bermaksud-“


“Saya sudah katakan sebelumnya, saya disuruh bos. Saya bukan majikan di sini.” Menjawab dengan nada datar yang segera menunjukkan sifat aslinya.


Caca terdiam. Ia menyesal telah mengomel panjang di waktu yang lalu.


“Bagaimana dengan tawaran saya? Kamu mau dengan gaji-“ Mengecek notif yang masuk. “Saya naikkan. Tiga puluh lima juta per bulan. Gaji pertama dan kedua kamu akan diserahkan di awal.”


“Apa pekerjaannya?” tanya gadis itu. “Kalau boleh tau,” sambungnya dengan nada yang melemah.


Tampak jelas, ia takut dan segan.

__ADS_1


“Tanyakan pada ibu anda sendiri. Saya harus pergi sekarang. Sampai jumpa besok pagi. Di sini.”


Berucap yang penting saja, pria itu berlalu begitu saja. Brian dan Caca masih bingung.


“Ibu, apa pekerjaannya?” tanya keduanya kompak.


“Ah, sudahlah. Lupakan saja.”


“Katakan, Bu.” Caca sedikit memaksa sang ibu.


“Apa kamu benar-benar ingin tau?”


Merasa jawabannya adalah sebagai pembantu, Caca tersenyum lebar sambil menunggu kepastian dari jawaban sang ibu. Ternyata dugaannya salah besar.


“Menikah dengan Tuan Kiano Alexandro.”


“Ha?” Brian mengendus tak percaya.


“Hahhh?” pekik anak gadisnya lebih kaget. “Pantas saja dia menawarkan padaku. Ternyata ...”


“Sudahlah, lupakan.” Sinta memilih tidur. Ia juga cukup keberatan dengan permintaan itu.


***


Di sebuah rumah yang cukup besar, terlihat Gio yang tengah memeriksa keadaan teman-temannya. Sudah berhari-hari ketiga pria itu tidak masuk kuliah sejak penyerangan yang didapatkan beberapa hari yang lalu.


“Gimana?” tanya Gio.


“Hehehe ... sorry, Brody. Aku juga nggak nyangka kalau kejadian begini akan terulang.” Gio memberikan makanan untuk masing-masing temannya.


“Besok mau masuk kuliah, ah. Takutnya entar nilaiku bermasalah. Nyokap bisa marah besar!” ungkap Don.


“Iya, sama.” Asle ikut nimbrung.


Keempat sahabat itu pun makan bersama. Namun, belum usai acara makan Gio. Pria itu sudah mendapat panggilan teriakan dari luar.


Ia segera bergerak memastikan. Ia sempat terheran ketika melihat Ana sudah berada di depan rumahnya.


“Ada apa? kamu mau beli sesuatu?”


“Tidak juga. Aku mau berkunjung, memangnya nggak boleh, ya?”


Gio terdiam yang membuat gadis itu menjadi canggung. Ia tidak habis pikir dengan sikap gadis ini yang secara terang-terangan terus mengejarnya.


“Tidak ada pekerjaan di sini, Ana. Yang ada malah bersih-bersih dan nyuci kain kotor. Mau?” balasnya sedikit meledek dan memang sengaja hendak membuat gadis itu sakit hati.


Dengan begitu, ia akan terbebas dari kejaran seorang Ana. Namun, balasan yang ia terima malah di luar dugaannya.


“Okey, aku terima. Sebagai bayarannya, aku boleh kan sering-sering datang ke sini?”

__ADS_1


“Ha?”


“Aku nggak butuh uang, kok. Keluargaku berkecukupan, orang tua punya bisnis besar, abang-kakak yang sudah sukses. Aku hanya kurang kasih sayang di rumah. Hihi ...”


Tak banyak komentar, pria itu akhirnya memberikan izin masuk. Ia yang tadinya hanya bercanda, pun memberikan pekerjaan rumah itu pada Ana.


Terlihat jelas jika gadis itu malah dengan semangat melakukannya.


“Pencalonan pembantu pasti menang, nih,” celetuknya pada ketiga temannya yang juga heran.


“Tapi body-nya lumayan juga,” celetuk Don yang segera dibalas gerak-gerik mencurigakan oleh ketiga temannya yang lain.


“Tidak sekarang. Sabar.” Gio memberi peringatan.


***


Tidak disangka, sang adik mulai mengamuk sekarang. Tampaknya, ia hanya butuh Sinta di sisinya. Wanita itu memang cukup mengerti apa yang diinginkan oleh Vina sejauh ini.


“Sihol!” teriak Kiano dengan nada yang mampu memenuhi pekarangan rumah nan luas itu.


“Iya, Tuan?”


“Apa kamu sudah menemukan orangnya?!” bentak pria itu dengan nada yang sangat tinggi. Urat-urat di lehernya bahkan muncul.


Terlihat jelas, jika ia sangat murka sekarang. Ia bahkan menggerakkan kursi rodanya ke sana ke mari dan mulai mengacau.


“Apa kau tidak bisa kuandalkan di saat-saat seperti ini? Segeralah! Kalau tidak, ke luar saja dan mati di luar sana. Aku tidak butuh orang bodoh dan lemah!”


Sesungguhnya, kalimat itu cukup menyakiti perasaan Sihol, namun kesetiaannya pada pria itu menguatkannya. Ia tak mampu pergi apalagi ketika dalam kondisi seperti ini.


“Akan saya upayakan, Tuan.”


“Besok. Besok pagi, dia harus sudah ada di sini. Camkan itu!” Kiano berlalu masuk ke dalam rumah.


Sihol terduduk lemas. Rasanya ia sudah tidak tahan dengan tekanan pekerjaannya yang sangat banyak. Ia bahkan tidak punya waktu istirahat atau sekadar merilekskan pikiran.


“Are you okay?” sapa seorang petugas cleaning service yang hendak pulang.


Sihol yang tidak menjawab membuat semua orang sadar jika ia tengah sangat kecewa saat ini, sebab sejauh ini pria itu adalah orang yang sangat ramah. Selalu terlihat baik-baik saja bahkan ketika beberapa menit yang lalu telah dimaki oleh bosnya.


“Baiklah. Setelah ini, aku akan segera ke luar. Wahai wanita yang akan menjadi istri Tuan Kiano, tolong segeralah muncul ke permukaan,” gumamnya sambil menekan di bagian hatinya.


Ulu hatinya yang terasa sesak ketika mendapat makian dari sang bos membuatnya melemah. Ia kemudian berhenti di depan taman, memutuskan untuk menyiram.


Tak lupa, ia sambil bernyanyi lagu rohani yang ternyata berhasil membuatnya lebih tenang.


“Santai. Tenang. Damai. Sebentar lagi, kita akan segera pergi dari sini.”


Ia terus berucap begitu hingga segala pekerjaannya usai dan segera kembali ke kediamannya. Tentang janjinya pada diri sendiri, entahlah sanggup ia tepati kali ini.

__ADS_1


***


__ADS_2