Bukan Cinta Murahan

Bukan Cinta Murahan
Terbuai Cinta Gio


__ADS_3

Caca sudah berada di depan kediaman Kiano yang megah. Untuk sesaat ia terdiam sebab tidak menyangka akan menginjak rumah sebesar dan semewah itu.


Sesungguhnya ia terpaksa demi menunaikan dan menggantikan pekerjaan ibunya.


“Mumpung hari sabtu, kan libur. Kamu pergilah ke sana, Nak. Gantikan tugas ibu.”


Mencoba masuk lebih dalam, ia terdiam di depan pajangan foto mewah Kiano—si pemilik rumah bersama sang adik. Namun, pandangannya tertuju pada gambar Sihol yang ada di sudut foto tersebut, ia tertawa kecil.


“Siapa kamu?” tanya Kiano yang berada di kursi roda sekarang.


Caca terkesiap. Ia baru saja dibentak. Hatinya terasa sakit, namun seperti yang telah dipesankan sang ibu.


“Tuan Kiano berhati baik walaupun sering marah-marah.”


Terdiam selama beberapa saat, ia menyadari jika Kiano tak mengingatnya di kejadian beberapa hari yang lalu. Ia merasa lebih tenang sekarang.


“S-saya anak-“


“Dia anaknya Bu Sinta, Tuan. Dia yang akan mengurus rumah hari ini.” Beruntung, Sihol datang dan memberikan penjelasan. “Saya bawa dia ke belakang.”


Kiano mengernyitkan kening. “Sepertinya dia tidak mengingat siapa saya.” Sebelumnya, ia sudah memperingatkan agar tidak menjelaskan tentang kejadian penolongan di hari kemarin.


Setelahnya, ia merapikan gambaran sang adik setelah ia mengamuk beberapa saat yang lalu.


Ia berdoa agar segera mendapatkan pengasuh sang adik. Matanya bahkan terpejam cukup lama kemudian tertidur di sana.


“Tuan, ada yang mau bicara dengan Anda.” Sihol memanggil dengan nada datar bermaksud membangunkan pria itu setelah hampir dua jam lamanya tertidur.


“Siapa?” balas pria itu segera memasang tegak badan.


Caca yang menonton pertunjukan itu cukup heran. Ia membatin dalam hati, ‘Kaku sekali. Tinggal teriak dikit juga.’


“Silakan, Nona.” Sihol mempersilakan Caca mengutarakan niat dan permintaannya seperti yang sudah mereka bicarakan sebelumnya.


“Om eh eh eh!” Caca begitu terkejut dengan mulutnya yang tidak terkontrol. “Tuan Kiano, saya mau ... saya mau menerima pekerjaan dengan gaji 35 juta itu.”


“Kamu mau menikah dengan saya?” balas pria di kursi roda itu sambil mengelap wajahnya dengan tisu basah.


Seketika Caca terdiam. Menikah? Kenapa pria ini berucap dengan sangat santai seolah tidak ada yang salah dengan itu?

__ADS_1


“Kamu dengar tidak? Kamu mau menikah dengan saya? Kamu siap? Setelah kamu menyetujui perjanjian ini, perjanjian akan segera dibuat dan harus ditandatangani. Saya bisa menuntut kamu kalau sampai macam-macam.”


‘Tidak akan macam-macam kok, Om. Saya hanya ada satu macam,’ batin gadis itu masih memperhatikan wajah Kiano yang cukup memesona.


“Hei!” bentak pria itu membuat Caca segera mengiyakan.


Hati dan pikirannya kacau, ia bingung harus berbuat apa sekarang.


“Kamu datanglah besok pagi untuk perjanjian di antara kita. Sekarang lanjutkan pekerjaanmu yang tersisa.” Kiano berlalu.


Caca sedikit menggerutu. “Mau menikah pun masih harus beberes.”


“Menikah pun menjadi sebuah pekerjaan,” celetuk Sihol kemudian tertawa walau jahat dengan nada yang pelan.


***


Gio dan Amelia kembali menghabiskan waktu bersama. Keduanya larut dalam pembahasan mengenai bisnis yang akan dijalankan bersama.


Terlihat jika gadis itu sangat tertarik dengan ide yang disampaikan oleh bosnya itu. tanpa pikir panjang, ia segera menginvestasikan sejumlah uang yang padahal seharusnya ia gunakan untuk pergi ke luar negeri.


“Terima kasih, Amel. Nanti akan kukirimkan surat perjanjian di antara kita.” Gio tersenyum hangat sambil menarik tangan gadis itu.


“Tidak usah. Saya percaya kok sama Bapak.”


Keduanya terlihat saling berpegangan tangan sambil tersenyum satu sama lain. Sesungguhnya perasaan Amel sungguh tak tenang sebab tidak ada orang lain di sana.


“Di luar dingin. Kita di sini saja.” Ucapan Gio yang semakin membuat Amel tidak tenang.


Sesungguhnya, ia telah melihat adanya niat lain di mata pria itu. namun, ia juga sudah tidak bisa lari sekarang.


“Nonton, yuk?” ajak pria itu menidurkan tubuh Amel di sisinya.


Gio kemudian memeluk gadis itu sambil mengelus-elus kepalanya. Hal itu ternyata dirasa sangat nyaman. Amelia menjadi sangat mengantuk.


Pria itu segera memastikan jika gadis di sisinya telah benar-benar terlelap. Dengan sigap, ia melucuti pakaian gadis itu dengan perlahan hingga tak sehelai pun menempel di tubuhnya.


Keringatnya membasahi seluruh tubuh ketika melihat pemandangan dari tubuh Amelia yang sangat indah. Ia sungguh menginginkannya.


Pria itu kemudian menyentuh bagian paling berharga di tubuh wanita itu dan menyantap gunung kembarnya. Tentu saja, Amelia yang mendapat sentuhan itu mendesah.

__ADS_1


Ia yang merasa bingung segera menjauh. Namun, ia juga senang ketika disentuh. Kegalauan itu tak berlangsung lama saat Gio mendekatinya dan mengajaknya naik ke atas ranjang.


“Kamu nggak usah takut. Sini dong. Kita lanjut nonton,” bujuk pria itu dengan manis.


***


Brian sangat panik sambil terus menghubungi sang kakak. Ia berada di posisi serba salah. Ingin sekali rasanya membuat keputusan sendiri, namun ia juga tidak ada kuasa untuk itu. ia juga ingin mencari keberadaan Caca, namun ia juga tak mungkin meninggalkan ibunya sendirian.


Beberapa saat kemudian, terlihat Caca yang baru datang sambil menenteng kotak makanan. Jelas, ia baru saja memasak di rumah.


“Kakak dari mana saja, sih?”


“Dari rum-“


“Ibu, Kak! Ibu harus melakukan operasi hari ini. Please, aku bingung. Kita harus bagaimana, Kak? Kita harus gimana sekarang?”


Air mata Caca tak lagi dapat ditahankan. Ia bingung hingga gambaran wajah Kiano segera muncul di pikirannya. Tanpa pikir panjang, ia menghubungi Sihol dan memutuskan untuk menandatangani perjanjian saat itu juga.


“Aku nggak peduli dengan syarat-syaratnya, yang penting ibuku selamat. Tolong ...” sungguh, ia tak kuasa melihat keluarganya menderita.


Sihol datang dengan senyuman lebar. Bagaimana tidak, tugas pokoknya telah usai sekarang. Sepanjang perjalanan, ia bahkan sudah menyusun kata-kata yang akan disampaikan ketika akan resign nantinya.


“Baiklah. Secara surat menyurat dan perjanjian, kalian sudah menjadi pasangan hari ini. Besok kalian menikah dan semuanya beres, Nona.” Sihol tampak menunjukkan senyum penuh kemenangan.


“Kak, kamu yakin?” tanya Brian yang seolah tidak kuasa.


“Sudah terlanjur.” Caca membalas dengan senyuman tipis kemudian memeluk pria itu.


“Lagian semua telah dimulai. Akan sangat berat jika sebuah pembatalan terjadi. Jadi, terima saja bagianmu, Nona.” Sihol menyela.


“Nona, nona. Sudah ah, sana pergilah! Kami tidak butuh kamu di sini,” usir Brian yang kian kesal lalu melanjutkan pelukannya dengan sang kakak.


Kini, keduanya bahkan saling menjujuri perasaan sayang satu sama lain. Brian bahkan berjanji jika ibunya sembuh maka dirinya akan berbakti dengan sangat baik pada ibu dan kakaknya.


“Yang penting kita semua sehat. Aku yakin hidup kita tidak akan lebih sulit dari ini, kita sudah biasa hidup susah, Dek.” Caca terlihat tegar.


“Apapun yang terjadi, Kakak harus cerita padaku. Aku akan bantu selagi bisa, Kak.”


“Ssst ... sudah ah. Lebih baik kita doakan Ibu sekarang.”

__ADS_1


Segera memejamkan mata dan memimpin doa bersama sang adik. Ia terlihat begitu dewasa. Sihol yang melihat dari jauh pun cukup salut.


***


__ADS_2