
Amelia mulai merasa aneh dengan kehidupannya sekarang, terasa lebih berat. Bagaimana tidak, ia yang ditinggal pergi bekerja oleh sang kekasih malah diberi pekerjaan untuk mengurus binatang kesayangan pria itu.
Ia merasa sangat jijik sekarang. Apalagi ketika dirinya harus membersihkan bekas kotoran hewan itu. Ia yang tak tahan bahkan harus bolak-balik kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
Dalam sehari saja, ia sudah merasa sangat menderita. Terlebih lagi, ketika ia tahu kenyataannya jika pria itu telah memecat asisten rumah tangga di rumah itu.
“Aku yang harus kerjain semuanya?” tanyanya pada pria itu tak habis pikir.
“Apa yang salah dengan itu, Sayang? Kamu di rumah seharian. Kamu hanya perlu buatin sarapan untuk kita dan ngurusin si Mimi dan Mimia.” Nama yang merajuk pada nama kucingnya.
“Tian, apa aku juga yang harus ngerjain semua pekerjaan rumah? Nyuci, ngepel, beberes, dan ...” Menunjuk ke arah kebun yang baru saja dimulai oleh pria itu untuk pengerjaannya.
Tian yang tidak begitu menanggapi keluhan wanita itu segera sibuk mengurusi tanamannya. Hingga beberapa saat kemudian ia tersadar.
“Apa kamu nggak pernah ngerjain pekerjaan seperti ini sebelumnya?”
“Hm.” Membalas dengan singkat menahan rasa kesalnya.
“Amel, semua bisa diselesaikan kalau kita mau belajar. Kamu akan jadi istri kesayangan kalau bisa ngerjain semuanya dengan tangan sendiri. Aku yakin.”
Mendengar pendapat pria itu seketika membuat Amelia terdiam. Ia sadar jika dirinya terlalu glamour untuk Tian yang sangat sederhana.
“Kamu mau, kan?”
Pertanyaan yang segera diiyakan oleh gadis itu kemudian masuk. Ia memperhatikan mesin cuci yang kini penuh dengan kain kotor.
Pikirannya kacau hingga teringat akan masa-masanya bersama sang mantan. Sadar jika itu adalah pilihan yang salah, ia segera menepis rasa rindu itu.
“Aku sudah melupakannya, dia tidak pantas untukku.” Menggeleng-gelengkan kepala sambil belajar menikmati kesibukannya sekarang.
***
Caca kembali dibuat pusing ketika ia harus memikirkan perawat untuk sang ibu. Brian yang juga kuliah tidak akan mungkin bisa mengurus ibunya setiap waktu.
Walau begitu, ia tidak lupa bersyukur untuk keadaan sang ibu yang sudah membaik. Dengan mempertimbangkan banyak hal, ia pun memutuskan menggunakan uang yang baru saja diberikan oleh sang suami.
“Kak, kapan ada waktu berkunjung? Ibu belum sadarkan diri. Mungkin saja kalau Kakak sudah datang, keadaannya berbeda.” Brian mencoba mengutarakan isi hatinya.
__ADS_1
Gadis itu terlihat tersenyum simpul. Ia juga memeluk sang adik dengan erat.
“Untuk sekarang jangan ya, Dek. Aku tidak mau membuat masalah dengan dia. Kita tunggu saja dulu sampai dua bulan ini.”
“Tapi, bukankah itu terlalu kejam?”
“Sesuai dengan uang yang kita dapatkan. Ini ... bayar saja perawat untuk menjaga Ibu selama kamu ngampus.”
Brian yang tidak bisa berbuat banyak, pun hanya bisa menuruti perkataan sang kakak. Ia menundukkan kepala menahan rasa kesal dan kecewa pada diri sendiri.
Setelahnya, ia mencoba menegakkan tulang lehernya, menyaksikan langkah kepergian sang kakak yang gontai.
“Kak, kalau butuh sesuatu kabari, ya?”
Gadis itu melambai sambil menganggukkan kepalanya. Setelahnya, ia masuk ke ruangan untuk mengikuti kelas selanjutnya.
Lagi dan lagi, kali ini Gio dan Ana bersamaan memberikan serangan gangguan padanya. Kedua insan itu menanyainya perihal rumah yang sepi.
“Kalian juga tau, kan, Ibu lagi sakit.” Menjawab dengan nada datar.
“Tapi, kamu kok nggak pernah keliatan ke luar masuk rumah kamu?” Gio bersuara.
Ana yang tak sengaja mencoret wajah pria itu, pun seketika teralihkan perhatiannya. Ia mengambil selembar tisu lalu membersihkannya.
Sementara Caca, ia mencoba menghindar. Maju dan duduk di meja paling depan, bertepatan dengan hadirnya dosen untuk memulai kelas mereka.
“Ih, kamu sih ... ganggu saja!” kesal Gio yang bahkan tak lagi bisa ke luar dari ruangan itu sekarang.
Ia yang tadinya hanya ingin bertandang malah terjebak. Tak mungkin dirinya menumbalkan diri, sebab jika ke luar sekarang akan dianggap sebagai mahasiswa yang buruk attitude.
***
Berbeda dengan Sihol. Ia tampak sangat menikmati kehidupannya sekarang, segalanya berbeda. Ia tak lagi harus memikirkan penampilan yang harus rapi dan pekerjaan-pekerjaan berat itu.
Dengan penampilannya yang acak-acakan, ia melangkah masuk ke sebuah klub malam. Membayar beberapa orang untuk tetap berada di sisinya sebab dirinya yang tidak punya teman.
Sesaat, ia memang kepikiran dengan keadan Kiano. Namun, ia masih mencoba egois dengan lebih memikirkan diri sendiri.
__ADS_1
Terlihat jika ia sangat menikmati suasana di sana. Minum sebebasnya, berlaku sebebasnya, bahkan bisa mengeluarkan kata-kata kotor yang selama ini ingin ia puaskan.
“Uh, damainya hidup tanpa tuan-tuan,” ujarnya pada seorang wanita yang kini tengah menuangkan minuman.
Sebotol, dua botol, hingga botol ketiga segera menyiksa perut dan tubuhnya. Ia berlari ke luar dari sana lalu memuntahkan seluruh isi perutnya.
Melihat ke sekeliling, tak satu pun yang datang untuk membantunya, sekadar peduli pun tidak. Hal itu membuatnya sadar jika selama ini hanya Kiano yang ada bersamanya.
Namun, sesaat setelah itu, ia segera mengubah pola pikirnya. Oleh karena Kiano lah ia tak punya teman. Hidupnya sehari-hari hanya ia dedikasikan untuk pria itu.
“Hei, kau pikir tindakanmu itu benar? Kau mengusirku secara tidak terhormat setelah apa yang sudah aku lakukan untukmu? Kau pikir kau siapa, hah? Kau pikir juga aku ini siapa? Budakmu?”
Kalimat demi kalimat ia teriakkan. Ia juga muntah beberapa kali. Dinginnya malam semakin menusuk kulit dan tulangnya. Ia ambruk di tepi jalan.
Ia juga kebingungan mencari keberadaan mobilnya. Penderitaannya cukuplah sudah ketika ponselnya jatuh dan entah di mana sekarang.
Tatkala ia sibuk mencari benda pipih itu, terlihat jika Caca dan sopirnya datang kemudian membopongnya untuk segera masuk ke mobil. Gadis itu juga memberikan ponselnya.
“Kamu ngapain datang ke sini, Caca?” tanya pria itu tampak sangat kacau.
‘Berani sekali dia berbicara tidak sopan seperti itu,’ batin Kiano yang berada di samping sopir sekarang.
“Apa kamu tidak takut pada suamimu yang seperti monster itu?” lanjutnya semakin tak karuan.
“Monster?!” pekik Kiano dan Caca bersamaan kemudian saling bertemu pandang untuk beberapa detik.
“Sadarlah, sadar! Asisten Sihol, sadarlah!” pekik gadis itu merasa kesal hingga mencubitnya tatkala mulut pria itu terus mengeluarkan kalimat-kalimat kebencian pada Kiano.
“Jangan rusak bajuku. Aku sudah lama beli tapi nggak bisa pakai. Ah, sedihnya. Bajuku sayang ... kubeli mahal tapi dipakai hanya sekali. Ah, sayangnya.”
Caca semakin pusing dengan tingkah Sihol. Ia juga bingung harus melakukan apa. sesekali ia juga melirik ke arah Kiano yang hanya diam sambil menahan rasa kesalnya.
Tatkala sudah tiba, Sihol malah kabur. Hal itu membuat semua orang berusaha menangkapnya. Kejar-kejaran itu berlangsung cukup lama yang akhirnya membuat Kiano marah besar.
“Sudah, keluarkan saja alas tidur untuknya. Biarkan dia tidur di luar.”
Sebuah perintah yang mengharuskan Caca untuk tega tatkala pria itu tiduran di dekat pagar rumah itu. Ia seperti penjaganya sekarang.
__ADS_1
***