Bukan Cinta Murahan

Bukan Cinta Murahan
Ditinggal Kekasih dan Kecelakaan


__ADS_3

“Apa maksudmu, Sihol. Siapa yang kabur?” tanya Kiano setelah ia berada di mobil.


Pria yang menjabat sebagai asisten itu tampak melirik lirih ke arah bosnya. Ia merasa takut sekarang.


“Nona Amelia memutuskan untuk pergi malam ini, Tuan.”


“Berhenti.” Berucap dengan nada datar.


Kiano ke luar dari mobil yang tengah menepi itu. ia mencoba mengatur napasnya.


“Kenapa dia pergi? Apa kau tau apa alasannya?”


‘Ano, aku rasa ini bukan keputusan yang tepat. Kita tidak boleh segera menikah karena aku masih memiliki masa depan yang panjang. Di usia mudaku, tidak seharusnya aku menikah dan menjadi pengurus adikmu yang berkebutuhan khusus itu.’


Terdengar rekaman suara Amelia dengan nada biasa-biasa saja seolah tidak ada penyesalan. Hal itu membuat Kiano bersiasat aneh. Ia pikir wanita itu punya alasan lain.


Tanpa aba-aba, ia segera masuk ke dalam mobil. Mengambil alih kemudi yang bahkan meninggalkan Sihol sendirian di sana.


“Astaga! Bos, bos, mau ke mana? Calon istrimu itu tidak pantas untukmu,” ujarnya pada diri sendiri menahan rasa kesal.


Setelahnya, ia memekik menahan rasa takut. Cahaya lampu jalanan yang remang membuat kesan horor seketika muncul.


Ia segera berusaha untuk menghubungi siapapun yang bisa menjemputnya di sana.


***


Amelia menenteng kopernya dengan langkah tergesa-gesa. Ia merasa sangat khawatir apabila harus tertangkap oleh Kiano yang membuatnya gagal pergi.


Sesungguhnya, ia mencintai pria itu, terlebih dengan harta kekayaan yang berlimpah. Namun, ia juga tidak mau merendahkan diri dengan mengurus adik pria itu yang memang berkebutuhan khusus.


Ia membayangkan bagaimana dirinya berubah selayaknya pelayan di rumah itu. kepalanya menggeleng cepat.


“Ih, amit-amit,” pekiknya menahan rasa kesal dan jijik.


Tatkala penerbangan akan segera dilancarkan, terlihat suasana berubah kacau. amelia segera sadar akan hal itu dan mencoba memastikan.


Ia sangat terkejut mendapati Kiano yang sudah ada di tempat itu. tak ingin didapatkan dan dibawa pulang, segera saja gadis itu ke luar secara perlahan.


Ia berjalan gontai dengan napas yang terengah-engah. Beruntung pakaian dan gaya rambutnya telah berubah, sehingga tidak banyak yang mengenalinya.


Dari tempat persembunyiannya, ia bisa melihat dengan jelas amukan Kiano saat ini. Ia benar-benar murka sambil terus menyebut nama Amelia. Hal itu membuatnya menjadi takut.

__ADS_1


Ia pun bergegas pergi dari sana sebab memang tidak ingin bertemu dengan pria itu saat ini.


“Jadi, dia benar-benar telah pergi meninggalkan aku?” tanyanya pada diri sendiri.


Ia yang biasanya terlihat tegas dan cool seketika berubah menjadi seorang sad boy yang pantas dikasihani. Bagaimana tidak, ia bahkan terduduk lemas di lantai sekarang.


“Tuan, kita pergi sekarang. Banyak sekali orang di sini.” Sihol yang baru saja tiba segera menyadarkan bosnya itu.


“Untuk apa lagi aku hidup? Amelia sudah pergi meninggalkan aku. Pulanglah sendiri.” Mengusir Sihol dengan sikapnya yang berubah menjadi lebih tenang.


Ia berjalan menuju mobilnya, mengemudi dengan kecepatan tinggi. Hal itu berhasil membuat rasa khawatir Sihol semakin besar. Kiano memang tidak pernah mengemudi.


Tepat dua puluh menit kemudian, keadaan di jalanan menjadi sangat kacau. suara ambulans terdengar nyaring, Kiano tak sadarkan diri. Ya, pria itu mengalami kecelakaan tunggal.


***


Gio menatap Caca dari kejauhan, seketika raut wajahnya berubah sangat bersalah. Namun, rasa kesalnya juga tak dapat ia tahan ketika mengingat keadaannya yang begitu buruk.


Ketiga temannya tengah dirawat di rumah sakit setelah kejadian kemarin. Hal itu membuatnya tidak bisa melanjutkan aktivitasnya seperti biasa.


Dengan langkah yang sedikit pincang, ia kemudian berjalan menuju kelasnya, bertepatan dengan datangnya seorang wanita dan menabraknya.


“Kamu punya mata? Kenapa tidak dipakai?!” teriak wanita itu dengan nada yang sangat garang.


“Nggak mau. Kamu yang nabrak malah balik nyuruh. Kamu tuh yang salah!”


Lagi, gadis itu berucap dengan nada yang sangat nyaring.


Gio tak ingin memperpanjang masalah. Ia mulai menyusun kertas sesuai halamannya. Kakinya bahkan mulai merasakan sakit sekarang.


“Ana, dibantuin dong. Kamu tuh, ya.” Caca mendekat kemudian membantu pekerjaan Gio saat ini. “Aku lihat kok tadi kejadiaannya. Kamu sambil mainin HP, kan?”


“Aish!” Ana menjadi sangat kesal dan berbalik untuk ikut membantu.


Singkatnya, kegiatan itu pun selesai. Gio mengucapkan rasa terima kasihnya.


“Namanya juga membantu, artinya saya niat dan ikhlas. Nggak usah deh pakai acara traktir segala.” Caca menolak tawaran dari pria itu.


“Ya sudah. Aku mau kenalan dong sama kamu. Gio.”


“Catherine Sylvianna. Nama panggilan Caca.” Tersenyum tipis lalu melepas jabatan tangannya.

__ADS_1


“Aku Ana. Namaku memang sesingkat itu.” Ana ikut-ikutan nimbrung dan menarik tangan Gio.


“Okey. Aku duluan. Ada kelas.” Caca berniat pergi yang segera ditahan oleh Ana.


“Nanti setelah kelas ini, kita makan bareng Gio. Dia traktir kita. Kami terima tawaran kamu,” ujar Ana kemudian menarik Caca berlalu dari sana.


“Haha ... aku tunggu. Di kantin, ya!” seru Gio kemudian ikut berlalu dari sana.


“Ana, kamu apa-apaan, sih? Kita nggak sedekat itu, ya. kamu juga nggak ada hak untuk mengikutsertakan aku dalam-“


“Ca, sudahlah. Aku juga sudah mengiyakan ajakannya, pun dia sudah pergi sekarang.”


Gio memang sudah tidak terlihat lagi. Berteriak menyuarakan penolakan pun tidak akan ada faedahnya.


“Kak, sini deh.” Brian mendekat kemudian menarik tangan sang kakak dengan sembarangan.


Ana yang tahu situasinya segera berlalu dari sana.


“Aku lagi nggak ada uang, Brian. Kamu tau kan, Ibu lagi krisis keuangan, aku nggak bisa bantu karena lagi nggak ada uang.” Caca mencoba memberikan penjelasan.


“Eh, masa?” Memasang wajah masam. “Kak, bagi uanglah. Aku mau beli kuota.”


“Brian, sebatas beli kuota saja kamu nggak bisa urus sendiri. Makanya kerja, Brian. Cari kerja paruh waktu dan hasilkan uang sendiri.”


Brian yang keras kepala dan tidak ingin mendengar celotehan sang kakak, pun terpaksa menarik paksa tas gadis itu. ia sedikit berlari menjauh dan menjarah tas Caca.


“Ini apa? ini apa?” tanyanya sambil terus berlari menghindari kejaran Caca. Dan ya, tas itu juga dibuang begitu saja bertepatan dengan larinya Brian yang sudah sangat jauh posisinya.


Huft! Helaan napas panjang Caca tak lagi dapat dielakkan. Ia memang sudah sangat lelah dengan kehidupannya yang membosankan. Ibu dan adik yang tidak pernah peduli akan masalahnya.


Nasib sial tak berhenti di sana, ia malah telat sekarang. Semua pandangannya mengarah padanya, hal itu sangat tidak ia sukai.


“Kamu nggak niat masuk kelas saya, ya? sudah telat sepuluh menit ini. Cepat sana duduk!”


“Sini, Ca!” panggil Ana yang sudah menyiapkan meja kosong untuknya.


Melihat ke sana ke mari, tak lagi ada meja yang tersisa. Terpaksa, ia harus duduk di samping Ana yang terkenal sebagai ratu gosip.


“Sudah, cepat sana!” Teriakan itu kembali dilayangkan sang dosen walaupun ia sudah melangkah cepat.


“Gio tuh ganteng banget, kan?”

__ADS_1


Fyuh! Mulut Ana yang sangat lemes membahas pria. Caca sungguh tidak menyukainya.


***


__ADS_2