
Singkatnya, Kiano sudah diperbolehkan pulang walau setelah dengan pemaksaan dan desakan kepada dokter yang menangani. Sesungguhnya, Sihol pun tak begitu setuju dengan permintaan bosnya tersebut.
Namun, bukan Kiano namanya jika permintaannya tak dituruti dengan segala pemaksaan. Ia berada di kursi roda sekarang. Walau masih menahan rasa sakit, namun ia lebih tenang sebab bisa memastikan secara langsung keadaan sang adik.
“Di mana Bibi? Aku tidak melihatnya dari tadi.” Kiano bersuara ketika Sihol hendak berangkat ke kantor.
“Em.” Terdiam sesaat. “Saya juga belum melihatnya sejak pagi tadi. Sudah saya telepon berkali-kali tapi tetap tidak ada kabar. Apa perlu saya pastikan?”
“Tidak usah. Berangkatlah ke kantor, pastikan semua pekerjaan selesai hari ini. Jangan lupa, berikan libur sehari untuk semua karyawan.”
“Baik, Tuan.” Menjawab dengan nada santai walau ada kekesalan yang menggeram di hatinya. ‘Bagaimana bisa dia memberi jatah libur padahal pekerjaan sedang sibuk-sibuknya,’ batinnya tak habis pikir.
Kiano memutuskan untuk melihat sang adik yang tengah bersama pengasuh barunya sekarang. Ia cukup senang sebab gadis itu tidak memberontak seperti biasanya.
Setelahnya, ia berlalu untuk mendiskusikan perkembangan lahan sawah yang tengah dikerjakan oleh beberapa orang suruhannya. Ia memang cukup memberi perhatian pada hartanya yang satu itu.
“Kalian butuh apa, katakan saja. Tapi ingat, tidak ada kata korupsi di kamusku.” Kiano mengingatkan.
“Tentu saja, Tuan. Sebelumnya, kami turut sedih dengan kejadian yang menimpa Anda. Semoga lekas sembuh,” balas karyawannya.
“Apa kalian tidak sedang tertawa dalam hati?”
“Tentu tidak, Tuan. Atas dasar apa kami melakukannya.”
Kiano terdiam dan menyalahkan diri sendiri. Entah mengapa, sejak keterbatasannya sekarang, ia menjadi lebih agresif terhadap hal-hal yang tidak pasti akan terjadi.
***
“Ibu ada di rumah sakit.”
Pernyatan dari Brian yang berhasil membuat Caca menangis histeris sepanjang perjalanannya. Ia yang berada di dalam angkot terus menangis.
Tak peduli seberapa banyak orang yang memperhatikannya, ia masih tidak menyangka.
“Ibu kenapa?” tanyanya setelah berada di ruangan Sinta saat ini.
“Ibu jatuh dari sepedanya. Dokter masih memeriksa keadaannya sekarang.” Brian yang juga merasakan kesedihan.
Sejam kemudian, terlihat jika wanita itu bangun dari pingsannya. Dokter segera datang untuk memeriksa.
“Untuk saat ini keadaan Ibu sudah cukup baik, tapi kami belum memperkenankan ibunya dibawa pulang.” Dokter mengungkapkan kenyataan itu.
__ADS_1
“Kenapa, Dok? Memangnya apa yang salah dengan ibu kami?” tanya Brian sambil memeluk sang ibu.
“Saya masih coba memastikannya, Pak. Semoga Anda dapat mengerti.”
Caca segera menengahi perbincangan itu. ia menuruti saran sang dokter yang segera membuatnya berlalu dari sana. Brian tampak bingung.
“Dek, kamu jangan gegabah gitu, dong. Harusnya kita turuti saran dokter. Kita doakan yang terbaik untuk Ibu.”
“Kak, gimana kalau biayanya semakin membengkak, memangnya kita punya uang?”
Caca ternganga mendengar keluhan sang adik. Ia merasa kesal sebab pola pikir pria itu yang sangat kolot.
“Ya dicarilah biayanya. Kalau kondisinya sudah begini, ya gantian dong. Kita yang cari uang untuk Ibu, bukannya ngeluh, banyak diam dan pasrah seperti benalu.”
Gadis itu naik darah seketika.
“Apa katamu? Aku benalu?” geram Brian yang tak mau kalah.
“Ssst. Sudah, tolong diam. Ayo, kita pulang saja. Benar kata Brian, kita tidak punya uang.” Sinta mencoba bangkit sendiri yang ternyata sangat kesulitan.
Caca diam bertepatan dengan sadarnya Brian. Ia tahu jika kondisi ibunya tidak baik-baik saja sekarang.
“Caca dapat pekerjaan di mana?” tanya Sinta sembari memegangi perutnya yang terasa perih.
“Aku juga tidak tau, Bu. Kami tidak sempat cerita dari tadi pagi. Aku sibuk dengan tugas kuliah.”
“Kamu sudah bayarkan uang kuliahmu?”
“Sudah, Bu. Kan sesuai dengan perintah Ibu kemarin.”
“Baguslah. Ibu tidak mau kalau kuliahmu sampai terkendala, Nak. Kamu harapan ibu satu-satunya.”
Dari percakapan itu, terlihat jelas jika Brian mendapat perhatian lebih dari Caca. Itulah mengapa keduanya sering bertengkar dan tentunya sang kakak yang harus mengalah.
Tak kuasa menahan kesedihannya, Brian ke luar dari ruangan itu dengan alasan mencari angin segar. Ia terduduk lemas memandang foto keluarga kecilnya.
Satu-satunya hal yang paling ia takutkan adalah ketika sang ibu jatuh sakit.
“Bu ...” gumamnya sedih.
***
__ADS_1
Amelia masih melakukan pendekatan dengan Tian yang bahkan membuatnya lupa akan tujuannya. Sesungguhnya, ia ingin melakukan perjalanan ke luar negeri dengan bekal pengetahuan yang ia punya. Bahkan perusahaan yang dipimpin oleh pria itu akan menantinya.
Buaian cinta yang diberikan oleh Tian membuatnya yakin untuk tetap berada di Indonesia selama beberapa waktu. Ia masih ingin melabuhkan cintanya sampai memiliki hubungan resmi.
Kini, Amelia bahkan tidak lagi tinggal di hotel. Ia yang memang telah sempat menjual rumahnya, terpaksa menerima tawaran Tian untuk tinggal bersama dengan senang hati.
“Bapak nggak merasa rugi nampung saya?”
“Amel, sudahlah, jangan kaku begitu. Saya nggak mau ya dipanggil bapak terus. Aku dan kamu, begitu saja, sebut nama!” tegas Tian bahkan memasang wajah kesalnya yang bukannya membuat Amelia segan malah ia menyentuh wajah tampan itu.
“Em mmh ... maaf, Pak. Eh, Tian. Eh-“
“Astaga! Kemarilah.” Tian menarik tangan wanita itu sekarang. Keduanya menatap pekarangan rumah Tian yang sangat asri.
Dari posisinya sekarang, keduanya juga memperhatikan kucing dan anjing yang bermain di pekarangan masing-masing. Amelia mengerutkan kening.
“Kamu suka binatang, nggak?” tanya Tian yang berhasil membuat keningnya semakin mengerut.
Ia merasa bingung harus menjawab apa saat ini.
“I-iya, aku suka.” Sebuah jawaban yang terbalik dengan kenyataannya. “T-tapi aku nggak suka dengan pekarangan seperti itu. banyak tanamannya, itu kan banyak ulatnya.”
“Duh, Amel. Kamu masih banyak belajar, nih. Berkebun itu enak loh. Saya lebih suka sama wanita yang menyukai tanaman seperti itu. tenang, saya akan bantu ajarin kamu.”
“Terima kasih.” Menjawab dengan sungkan dan memaksakan diri untuk terlihat senang.
Beberapa saat kemudian, keduanya memilih untuk masuk ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri. Sebelum itu, Tian memberi perintah pada pembantu untuk segera membawa sepatu Amelia ke luar dari rumahnya untuk dicuci.
“Amel?” panggil pria itu ketika sudah waktunya makan. Ia merasa kesal sebab gadis itu tak menjawabnya.
Ia pun terpaksa mendatangi Amelia yang ternyata tengah bermain ponsel. Hal itu sangat membuatnya kesal.
“Kamu ngapain sih di kamar saja? Beberes tidak, tapi malah main HP mulu. Jendela bukannya ditutup, tirai juga tidak dirapikan, koper kamu nih diletakkan di tempatnya dong. Alas kaki juga tidak simetris.”
Omelan itu benar-benar berhasil membuat Amelia kaget. Ia terdiam selama beberapa saat ketika menelan kalimat demi kelimat yang dilontarkan oleh pria itu.
“Yuk, waktunya makan,” ajak Tian setelah ia membereskan segalanya.
Hal itu segera mampu mengubah pandangan Amelia padanya. Rasa kecewanya segera tergantikan.
***
__ADS_1