
Sesuai perintah yang ada di surat perjanjian, kini Caca tengah terlihat memulai interaksi dengan Vina. Ia membujuk anak itu agar tenang dan mau diajak berkompromi.
Naas, belum berbuat apa-apa, Vina sudah terlihat sangat marah. Ia bahkan melempari gadis itu boneka-bonekanya.
“Vina, ini aku ... kita mandi, yuk?” Gadis itu masih berusaha menenangkan, namun tidak ada respon baik.
Hal itu sungguh membuatnya kewalahan. Ia terdiam dan duduk di sudut ruangan itu sekarang. Berharap sebuah pertolongan datang untuknya.
“Nona?” panggil pembantu yang baru saja datang.
“Bibi?” jawabnya dengan air mata yang segera menetes. “Bagaimana ini? Aku sangat kesulitan menenangkan Vina,” keluhnya.
Wanita separuh baya itu tersenyum tipis. Ia kemudian mengajak Caca untuk mendekati Vina. Di tangannya sudah ada handuk bersih.
“Vina, kita mandi yuk, Nak?” bujuknya.
“Bibi ...” balas Vina dengan nada getir lalu naik ke pangkuan wanita itu.
“Kamu siap-siap saja. Harus segera ke kampus, kan?” titah pembantu baik hati itu.
“I-iya, Bi. T-tapi bagaimana kalau nanti Tuan Kiano tau kalau bukan saya-“
“Tidak apa-apa. Ini masih hari pertama. Mustahil kalau kamu segera bisa melakukannya.” Wanita itu memberikan pengertian yang membuat Caca terdiam cukup lama.
Ia juga mengukiti wanita itu ke kamar mandi sambil memperhatikan aktivitas di sana. Vina terlihat senang ketika wanita itu memandikannya sambil menceritakan dongeng untuknya.
Caca segera mendapat pelajaran baru hari itu. tak sadar, jam sudah menunjukkan pukul tujuh. Ia memang harus segera beranjak.
“Bibi, aku mandi dulu.” Pamit dengan perasaan sedikit cemas, namun ia harus tetap ke kampus.
“Baik, Nona.”
***
Setibanya di kampus, ia segera dihampiri oleh Gio yang sudah sangat kecarian sejak kemarin. Ia yang memang sudah membuat perjanjian dengan Caca yang akan bekerja di hari minggu walaupun hanya dua jam, tentu saja kecarian.
Caca yang sudah banyak menanggung beban dan lelah di tubuhnya, tak terlalu menanggapi. Ia terus melanjutkan langkah lalu memejamkan mata di kursi paling sudut di ruangan itu.
Gio ternyata tak patah arang, terlihat jika dirinya sudah berdiri di sisi gadis itu. Caca tentu kaget dibuatnya.
“Aku nggak bisa lanjut kerja di tempatmu, Gio. Maaf sebelumnya karena nggak langsung kasih tau kamu. Tapi, aku sudah punya pekerjaan baru sekarang.”
“Di mana?” Sungguh penasaran.
__ADS_1
Caca hanya mengangkat kedua bahunya membuat pria itu semakin penasaran.
“Tadi aku datang ke rumah kamu, nggak ada orang di sana. Di mana saja dari kemarin?”
“Gio, please deh. Jangan terlalu kepo begitu. Aku punya privasi dan kita juga nggak sedekat itu.” menjawab dengan nada yang sangat kesal.
Sontak saja hal itu membuat Gio kebingungan. Walau begitu, ia tetap akan mencari tahu.
“Ini gaji kamu yang sehari. Aku nggak mau ada utang. Disimpan saja.” Memberikan selembar uang berwarna merah.
Caca terdiam cukup lama. Ia yang biasanya sangat bersemangat ketika melihat uang kini berbeda. Segera saja ia teringat akan hidupnya yang terasa menyiksa walau dengan gaji yang sangat besar. Mungkinkah ia mampu melewatinya?
“Ca. Hei?” Ana si paling berisik pun datang. Ia menepuk bahu gadis itu hingga membuatnya sangat terkejut bahkan sedikit kesal.
“Tugasnya sudah beres?” tanya gadis itu yang memang adalah komting.
“Sudah.” Menjawab seadanya kemudian membuang pandangannya ke sembarang arah.
“Kata Gio, kamu sudah nggak kerja di sana lagi? Benar?”
“Hm.”
Tersenyum lebar hingga tebar pesona di hadapan Caca.
“Silakan.”
Ana yang sebenarnya sangat penasaran dengan hal yang membuat gadis itu terlihat kesal, tak ia teruskan sebab dirinya tengah sangat bahagia.
Ia bahkan terlihat sibuk dengan ponselnya untuk mulai belanja pakaian baru tatkala akan bekerja di warung Gio.
“Check out, ah!”
***
Suara pecahan kaca dan benda-benda lainnya di kediaman Kiano terdengar sangat jelas. Seluruh pekerja di rumah itu terlihat bingung.
Terlihat jika pria itu segera ke luar dengan kursi rodanya. Ia membawa semua barang Sihol yang pernah ada di rumahnya.
“Pergi saja sana, pergi! Aku sudah tidak membutuhkan asisten tidak berguna sepertimu. Selama ini, aku sudah mempercayakan segalanya padamu, tapi-“
“Tuan, jangan bahas kebaikan-kebaikan yang telah Anda lakukan. Hal itu sesuai dengan apa yang sudah saya kerjakan.” Sihol memotong pembicaraan.
“Baiklah. Segera pergi sana!” usir Kiano dengan raut wajah penuh amarah.
__ADS_1
Semua orang terlihat keheranan. Dua pria yang bahkan sudah terlihat seperti saudara itu tengah berseteru. Perseteruan itu pun sangat besar.
Sihol yang sudah sangat kesal, pun segera memungut barang-barangnya. Ia berlalu tanpa peduli lagi dengan nasib mantan bosnya itu tanpanya.
Ia merasa tidak pernah dihargai dan hal itu membuatnya sangat geram. Tumpukan-tumpukan kekesalan itu telah ia tabung selama ini.
Kiano yang juga sangat kesal berlalu masuk. Ia sudah memutuskan tali pertemanan dan segalanya dengan Sihol sejak hari itu.
“Tuan?” panggil Caca yang baru saja pulang dari kampus. Ia menyelamatkan suamunya itu yang berada di tepian kolam.
Kiano yang terlelap dan tiba-tiba dibangunkan itu tentu saja kesal ia yang sebenarnya beruntung telah diselamatkan itu menyembunyikan rasa syukurnya.
“Kamu ikut saya.” Begitulah kalimat yang ke luar dari mulutnya sambil menggerakkan kursi rodanya.
Gadis itu terlihat pasrah dan ikut saja. Padahal ia bahkan belum makan sejak siang.
“Kamu carikan saya asisten untuk menggantikan Sihol. Persis seperti dia dan tidak berniat meninggalkan pekerjaannya sebelum saya sembuh.”
Pernyataan itu sungguh membuat Caca kaget. Ia melihat ke sekeliling dan baru sadar jika pria itu tak terlihat sejak tadi. Mungkinkah dugaannya benar?
“Jangan pasang wajah bodoh seperti itu. Saya beri waktu dua hari. Kalau kamu tidak mendapatkannya, maka kamu sendiri yang akan mengerjakan segalanya untuk saya. Kemungkinan terburuknya, kamu tidak akan bisa menyelesiakan kuliah-“
“Tidak, tidak, Tuan. Saya tidak mau itu terjadi. Saya akan usahakan ...” Berucap semakin lemah. ‘Walau itu mungkin mustahil, Tuan Kiano yang terhormaaat,’ batinnya memekik.
“Okey. Saya tunggu hasilnya. Saya catat janji kamu.” Kiano yang hendak berlalu dari hadapan gadis itu terlihat kaget ketika mendengar bunyi keroncongan perut Caca.
“Apa kamu tidak makan?” Terdiam dua detik. “Oh iya, saya lupa kamu miskin dan tidak punya uang.”
“Di dalamnya ada sejumlah uang yang bisa kamu gunakan untuk membeli makanan dan kebutuhan lainnya. Jadi, kamu tidak akan kelaparan selama tinggal bersama saya.” Melemparkan sebuah kartu ke arah wajah gadis itu.
Caca yang sebenarnya kesal hanya bisa membatin. ‘Dia yang bertanya dia pula yang menjawab. Ah, sudahlah.’
“Kamu dengar, tidak?” Nada suara tinggi itu membuat Caca kaget bukan main.
“I-iya, saya dengar, Tuan. Terima kasih untuk-“ Ia segera ditinggal. “Perhatiannya,” lanjutnya sangat kesal.
Ia bahkan terlihat seperti seorang manusia yang sangat konyol sebab bicara sendiri.
“Nona, waktunya makan,” panggil pembantu di rumah itu.
Dari jauh, terlihat jika Kiano tengah memperhatikannya. Ia juga yang telah memberi perintah itu.
***
__ADS_1