
“Kamu dipecat, Ca. Maaf ya, Nak. Kamu nggak bisa lanjut kerja di sini.”
“Tapi kenapa, Pak? Apa saya telah melakukan kesalahan?” tanya Caca dengan perasaan yang sangat khawatir.
“Tidak ada yang salah. Saya telah bangkrut, terpaksa toko ini juga harus segera ditutup.”
Caca pasrah sekarang. Ia terduduk lemas menunggu gaji yang memang belum ia dapatkan.
“Maaf lagi nih, Nak. Kamu nggak dapat gaji full. Saya sudah benar-benar kehabisan uang. Kamu hanya dapat 70% sisanya akan saya bayarkan dengan bahan-bahan dapur ini.”
Pemilik toko segera memberikan bayarannya untuk Caca. Walau rasanya sedih dan sedikit kecewa, ia mencoba ikhlas. Seberapa nyaman rasanya, ia tetap tidak bisa memaksakan keadaan.
Setelahnya, ia berjalan pulang. Ia membawa barang bawaannya dengan langkah gontai, benar-benar tidak bersemangat. Ia bahkan tidak tau sudah berada di mana sekarang. Yang pasti, niatnya memang pulang.
“Kak, kenapa pulangnya cepat? Memangnya tidak kerja?” tanya Brian yang lagi-lagi sedang memainkan game onlinenya.
Hal itu sungguh mengundang rasa kesal Caca seketika. Ia sungguh tidak menyangka jika adiknya bisa hidup dengan tenang walau keadaan keluarganya yang sangat sulit.
“Di mana Ibu?”
Tidak ada jawaban, Caca memutuskan untuk mencari tahu sendiri. Sinta memang tidak punya ponsel. Sebuah pesan tertulis di kertas di atas meja makan.
‘Ibu ada kerjaan sampai sore nanti.’
Ibunya memang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sebuah keluarga kaya yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Ia juga selalu berangkat dengan sepeda pemberian keluarga itu. bisa dibilang keadaan keluarga ini memang cukup sulit.
Setelah menyusun bahan-bahan di dapur, Caca berniat membeli bahan yang kurang di warung terdekat. Ia berlalu dengang langkahnya yang tak ada semangat sekarang.
Ia tertegun selama beberapa saat ketika melihat sebuah jaket yang tergantung. Ia bahkan diam cukup lama di sana.
“Hei, Ca! Kamu tinggal di sini juga? Ca!” panggil Gio heboh dan mengguncang tubuh Caca yang berada di depan rumahnya.
Merasa bingung, Caca mengerutkan kening. “Gio?” balasnya keheranan.
“Nggak nyangka, kita tetanggaan, ya? hahaha ...”
Merasa lebih tertarik pada pemilik jaket itu, Caca segera bertanya.
“Oh itu. itu punya sepupu aku. Kami punya barang yang sama. Tenang, bukan hanya dia kok yang punya jaket begitu.”
Caca bahkan semakin bingung sekarang. Ia bahkan tidak menanyakan hal sejauh itu. namun, Gio menjelaskannya bahkan dengan sikap yang sangat mencurigakan.
Hal itu membuat Caca mencoba mengingat wajah orang yang hendak menjahatinya kemarin.
__ADS_1
“Kamu mau beli apa, nih? Ini warung keluargaku. Hehe ...”
Pertanyaan itu seketika membuat fokus Caca ambyar. Ia tak lagi bisa mengingat dengan jelas kejadian itu.
“Aku mau beli ini ... ini ... ini ....”
***
Kiano akhirnya melewati masa-masa komanya selama dua hari. Ia juga terbangun sekarang.
Perasaannya kalut ketika menyadari jika Amelia telah benar-benar meninggalkannya. Kegalauan pria itu kembali terulang. Hal itu membuat Sihol tak habis pikir.
“Tuan, adik tuan akan segera datang.”
Kalimat yang ternyata berhasil membuat Kiano berubah sikap menjadi lebih kuat.
“Jangan biarkan dia masuk dulu. jelaskan apa yang terjadi padaku.”
Perlahan, Sihol menjelaskan kronologi kejadiannya. Ia juga menjelaskan dengan perasaan kalut ketika Kiano di diagnosa lumpuh selama beberapa waktu.
Hal itu berhasil membuat Kiano panik. Ia yang hendak marah segera berubah menjadi lebih tenang ketika melihat kehadiran adiknya. Ia juga mendapat pelukan hangat yang membuatnya memiliki semangat hidup.
“Sihol, segera carikan pengasuh untuk adikku. Berikan gaji yang cukup besar. Saring dengan sangat baik, jangan buat adikku menderita.”
Setelah keadaan menyepi, ia meratapi nasib. Kini, ia merasakan betapa menderitanya sakit hati. Ia terluka, sungguh. Teringat kembali bagaimana ia memberikan segalanya untuk Amelia dan kini ia bahkan ditinggalkan secara sepihak.
Air matanya jatuh. Tatkala ia hendak menggerakkan kakinya, ada yang salah. Ia tak bisa menggerakkannya, hal itu sungguh membuatnya kebingungan.
“Ada apa ini? Kenapa susah sekali?” gumamnya kesal.
Lagi, ia berusaha menggerakkan kakinya sendiri yang tetap tidak berhasil. Perlahan, kakinya ia coba periksa dan sangat terkejut dengan apa yang ia saksikan sekarang.
“Dokter! Siapapun, tolong. Kemari dan periksa kakiku! Hei, siapapun datanglah! Hei!”
Perawat dan dokter datang untuk menenangkan. Cukup lama mereka berusaha sebelum akhirnya pria itu memilih untuk berdamai dengan diri sendiri. Kiano mencoba menyimak apa yang baru saja disampaikan.
“Anda akan mengalami kelumpuhan selama beberapa waktu-“
“Langsung ke intinya saja. Jangan ada yang ditutup-tutupi, katakan sejelas mungkin.”
Kiano berucap dengan sangat tegas membuat perawat dan dokter kewalahan. Beruntung, Sihol segera datang setelahnya. Ia menjelaskan segalanya yang bisa diterima Kiano dengan baik.
“Jadi, aku lumpuh?”
__ADS_1
“Masih ada harapan untuk sembuh, Tuan. Kita hanya harus lebih berusaha. Saya akan selalu membantu.”
Diam, memilih untuk tidur sambil membayangkan masa-masa indahnya bersama Amelia. Sepertinya pria itu sudah terjebak dalam rasa.
***
Amelia mengumpati Kiano berulang kali. bagaimana tidak, ia bahkan telah ketinggalan pesawat hanya karena ulahnya. Dan sekarang, ia harus menunggu lagi.
Namun, omelan itu segera berhenti ketika Tian— bosnya datang menghampiri. Ia sungguh tidak menyangka jika pria itu akan benar-benar menemuinya.
“Kita cari hotel terdekat, yuk?” ajak pria itu segera menarik tangan Amelia yang benar-benar berhasil membuatnya salah tingkah.
“Bapak nggak sibuk, ya?”
“Sibuk sih sibuk, tapi kamu lebih diutamakan. Nggak mungkin dong, saya tega membiarkan kamu sendirian di sini. Takutnya terjadi apa-apa entar. Saya juga yang merasa bersalah.”
Ucapan itu membuat Amelia semakin tak kuasa.
“Kenapa Bapak harus merasa bersalah?” tanyanya tak sadar.
“Ya, karena ... siniin koper kamu. Duh ...”
“Terima kasih, Pak.”
“Amel, kamu nggak usah sungkan sama saya. Apapun yang kamu perlu, katakan. Kalau saya bisa bantu, pasti dibantu.” Tian benar-benar membuat Amelia semakin terpesona.
Amelia hanya terfokus dengan wajah tampan pria itu sampai ia tidak fokus dengan langkahnya. Tali sepatu yang terlepas membuatnya hampir jatuh.
Tian dengan gesit menundukkan tubuhnya lalu mengikat tali yang terlepas. Lagi, jantung gadis itu seolah tak lagi berada di tempatnya sekarang.
“Lain kali, kamu jangan sembarangan beli sepatu. Yang lebih simpel saja, ya.”
Amelia tak menjawab. Ia merasa malu sekaligus takut jika ada orang yang melihat mereka. Ia yang tidak mau dicap buruk oleh rekan kerjanya.
Keduanya diam selama perjalanan. Hal itu membuat Tian merasa tidak enakan. Entah sikap mana yang telah membuat Amelia tiba-tiba berubah menjadi dingin.
“Kamu marah sama saya?” tanya pria itu yang hanya dibalas gelengan oleh Amelia ketika dirinya masuk ke dalam kamar hotel yang mereka pesan.
Ia memejamkan matanya, tak kuasa menahan gejolak rasa yang tengah ia alami sekarang. Sungguh, ia benar-benar jatuh hati pada pria itu.
Namun, moodnya juga berubah setelah mendapat pesan dari Sihol tentang kabar terupdate Kiano saat ini. Dengan kesal ia mencampakkan ponselnya dan lebih memilih tidur.
***
__ADS_1