Bukan Cinta Murahan

Bukan Cinta Murahan
Mengembalikan Sebuah Pena


__ADS_3

Terdengar lantunan musik yang amat kencang di kamar Caca. Iya, walau dirinya sudah tidak memiliki pekerjaan saat ini, ia tak ingin menjadikan itu sebagai beban. Apalagi setelah ibunya tau dan tidak berkomentar banyak.


“Maskeran dulu! Uh, setelah setengah tahun lamanya, baru ini bisa maskeran lagi. Yok yok yok, semangat!” serunya pada diri sendiri yang semakin menggila.


Brian yang tengah sibuk dengan tugas kuliahnya tentu saja merasa terganggu. Pria itu segera mendekat lalu menendang pintu kamar kakaknya.


“Woi, berisik! Bisa diam nggak?!”


“Ini hidupku ... bukan hidupmu. Lakukan apapun yang bisa membuatmu bahagia!” balas Caca santai sambil bernyanyi dengan nada yang asal-asalan.


“Shit!” umpat sang adik segera memindahkan meja belajarnya ke teras.


Sementara Caca, ia masih dengan kesokcantikannya di depan kaca. Ia terus memuji wajahnya yang memang seolah tak menua alias imut.


“Ngopi, ngemil, atau ngemie? Mana nih yang enak,” gumamnya segera ke luar dari kamar menuju dapur.


Ia memeriksa bahan-bahan di sana. Dari daftar pilihannya, hanya mie yang tersedia. Tanpa pikir panjang, ia segera memasak sekarang.


Bau wangi khas dari makanan itu tentu saja menusuk ke hidung. Brian yang sangat berselera pun segera mencari sumber.


“Yuhu, bagi dongggg ....” Ia memekik kaget tatkala melihat tampilan sang kakak yang sangat buruk.


Masker berwarna putih itu terlihat sangat buruk. Caca bahkan tertawa senang melihat reaksi sang adik. Walau begitu, ia tak merasa bersalah sama sekali.


“Aku pikir hantu. Sumpah.”


“Sana, sana. Aku mau makan mie. Kalau mau-“ Terdiam sesaat. “Masak sendiri.”


“Kak, bagi ...” Brian manja segera menyiapkan mangkok dan sendoknya. Ia terus melangkah mengikuti sang kakak ke mana pun ia pergi.


Fyuh! Sebagai seorang kakak yang baik, Caca tentu saja mengalah. Hal itu membuatnya tidak tega dan segera berbagi.


Keduanya bahkan makan dari satu mangkok sambil berlomba siapa yang akan makan lebih banyak. Tentu saja Caca kalah.


Ia yang memasak hanya mendapat tiga kali seruput, sementara adiknya menang banyak bahkan menghabiskan kuah mie tanpa sisa.


“Sialan! Brian, ganti nggak tuh. Gantiin. Masak sana. Ihh ...” Gadis itu terlihat sangat kesal.


Namun, bukan Brian namanya jika tidak pandai mengambil hati sang kakak. Ia segera menunjukkan tumpukan buku di meja belajarnya.


“Banyak tugas, Kak. Lain kali saja, ya, ya?” pintanya dengan nada memelas.


Tanpa menjawab, Caca segera berlalu dari sana. Masker di wajahnya sudah begitu menempel sebab sudah melewati batas waktu yang seharusnya.


“Lowongan ....” pekiknya begitu bersemangat tatkala melihat perekrutan karyawan di sosmednya. Ia yang tadinya bermalas-malasan menjadi sangat bersemangat sekarang.

__ADS_1


***


Berbeda dengan nasib Kiano saat ini. Ia menjadi lebih banyak diam dari biasanya. Sihol menjadi sangat bingung dengan situasi yang ia hadapi saat ini.


Ya, walau dirinya sudah bekerja cukup lama bersama Kiano, namun tentu saja isi kepalanya dengan pria itu tak pernah sama.


Ia kebingungan harus berbuat apa dengan pekerjaan-pekerjaan yang sudah ada di depan mata. Berkas-berkas juga menumpuk di hadapannya.


Dengan bersusah payah, ia membawa semua pekerjaan itu ke rumah sakit. Ia bahkan harus membawa dua orang untuk membantunya.


“Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa tidak masuk kantor? Siapa yang akan menghandle semuanya di sana?”


Sihol jengah. Ia terduduk lemas sebab rasa lelah di tubuh dan otaknya yang begitu menekan. Ia mengerjap, memastikan reaksi bosnya.


“Kenapa hanya diam saja?”


“Tuan, saya sudah sangat lelah. Sumpah. Ah!”


Suara deru napasnya membuat Kiano yakin. Ia diam sekarang.


“Saya sudah bawakan semua berkas yang harus diperiksa dan ditandatangani. Saya juga sudah siapkan pena untuk, Anda. Silakan, Tuan. Mulai dikerjakan saja.”


Kiano menggeram. Ia mulai membuat alasan dengan sakit yang ia derita saat ini.


“Maaf, Tuan. Mau Anda sekarat, pun. Saya tidak bisa berbuat apa-apa karena ini bukan pekerjaan saya dan tidak dimengerti sama sekali. Jadi, kerjakan saja sekarang,” balas pria itu dengan nada sedikit meledek.


“Em ... tentu saja tidak. Saya tidak ada keberanian untuk itu.”


“Yang barusan, apa itu?”


Sihol tidak menjawab. Ia segera membuat posisi ternyaman untuk meja kerja Kiano. Tak lupa, setelahnya ia segera bersantai dengan minuman yang ia ambil dari lemari pendingin yang disediakan untuk bosnya itu.


Kiano melirik.


“Hanya sebotol, nanti akan saya bayar ... setelah gajian.”


‘Sialan. Setelah aku sakit, dia semakin berani saja. Lihat saja nanti,’ batin Kiano. Mau tidak mau, ia harus tetap bekerja.


Tepat seperti yang dikatakan oleh asistennya, bahkan ia sekarat pun, tak banyak yang bisa dia lakukan.


***


Ana dan Caca sudah berada di kampus sekarang. Kedua gadis itu tampak berjalan menemui seseorang yang ternyata adalah Gio.


“Kamu?” tanya Caca sambil menunjukkan info lowongan kerja di ponselnya. “Jadi, kamu yang buat lowongan ini?”

__ADS_1


“Iya. Kamu belum tau, ya, Ca?” balas Ana yang juga menyusul Caca. “Aku sih sudah tau itu, makanya mau melamar. Hihi ...” ujarnya dengan tatapan seolah sangat tertarik dengan pria itu.


“Iyee.” Tersenyum kecut. “Kupikir lowongan beneran, ternyata-“


“Ternyata apa, Ca? Aku serius loh. Itu emang lowongan. Lowongan pekerjaan sebagai kasir,” balas Gio santai.


Caca yang tidak begitu yakin menjadi sedikit ragu. Ia juga teringat dengan warung kecil milik Gio yang ia kunjungi kemarin.


“Jangan ragu. Gajinya besar.”


“Berapa?” tanya Ana dan Caca bersamaan.


“Tiga juta.”


“Gila! Di warung sekecil itu gajinya tiga juta?” protes Caca tidak mudah percaya.


“Aku sih, nggak digaji juga rela. Asalkan bisa ngeliatin kamu tiap saat.” Ana yang bahkan tidak tau malu.


“Okey. Jadi gimana, nih? Mau menunggu lagi atau segera wawancara?”


Caca yang tidak begitu percaya pun memutuskan untuk mengulur waktu. Daripada harus menelan rasa kecewa nantinya.


“Besok, deh, besok.”


“Ya sudah, besok saja. Kalian berdua akan aku interview.” Gio memberi keputusan yang membuat Ana begitu senang. Berbeda dengan Caca yang masih kepikiran.


Gadis itu melangkah ke luar untuk segera pulang. Entah kenapa, ia ingin berjalan kaki dan tidak menunggu kelas sang adik kelar.


Tatkala ia sudah berjalan cukup jauh, sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya. Merasa itu adalah bahaya, tentu saja ia takut dan berusaha menghindar. Apalagi mengingat kejadian beberapa hari lalu yang meninggalkan rasa trauma untuknya.


“Hei, Nona. Saya bukan orang jahat. Saya hanya ingin menyerahkan ini. Milik anda, ‘kan?” Sihol yang turun dari mobil kemudian memberikan sebuah pena.


“Dapat dari mana?” tanya Caca keheranan.


“Kejadian kemarin, Nona.”


“Nona nona. Jangan-jangan, orang jahat itu kamu, ya?” Pertanyaan yang berhasil membuat kedua mata pria itu terbelalak. “Oh, aku tau ... kamu itu ya ... si orang aneh yang diminta tolong malah kabur? Itu kamu, ya?”


Caca memburu pertanyaan yang membuat Sihol akhirnya tau keadaannya. Ia tersenyum tipis, meledek sang bos saat ini.


“Heh, niat minta maaf nggak, sih?” tanya Caca yang masih sangat penasaran.


“Tidak, Nona. Itu bukan saya, tapi bos saya. Jadi, saya pamit. Selamat sore.”


Sihol melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sementara Caca masih termangu keheranan di tempatnya. Ia sungguh tidak menyangka hal konyol itu akan menimpanya.

__ADS_1


“Sebuah pena? Bos?”


***


__ADS_2