
Di kediaman Kiano terlihat jika banyak pekerja yang tengah mempersiapkan rumah itu. Pemilik rumahnya yang memang akan melangsungkan pernikahan pun turut muncul untuk memastikan segalanya aman.
Ia terlihat memasang wajah senang. Bagaimana tidak, yang dicari-cari selama ini akhirnya ia dapatkan juga. Yang terpenting adalah pengasuh untuk sang adik.
“Aaaa ... no no no!” Teriakan keras yang berasal dari kamar sang adik membuatnya bergerak cepat.
Terlihat jika Sihol pun tengah kewalahan untuk membuat anak itu mau berganti pakaian. Kiano yang tidak ingin suasana hatinya menjadi buruk pun memaksa Caca datang saat itu juga.
Tunggu punya tunggu, gadis itu muncul di hadapan Kiano. Hanya sepasang baju yang ia bawa.
“Coba urus Vina. Kalau kamu berhasil, akan saya berikan bonus 5 juta.”
Terlihat jika Caca sangat kaget. Ia pun pesimis dengan kemampuannya sebab ia tak pernah berhubungan dengan anak seperti Vina.
“Masih diam saja?! Kamu pikir saya sedang bermain-main? Segera urus dia!” teriak pria itu tiba-tiba membuat Caca terhenyak di posisinya.
Tanpa pikir panjang, gadis itu masuk dan mulai menenangkan Vina yang terlihat sangat marah. Ia mengamuk sejadi-jadinya.
Sejam waktunya bagi Caca, namun tiada hasil. Hal itu sungguh membuat Kiano kesal. Ia mengumpat gadis itu berkali-kali.
“Nona, bersiaplah. Upacara pemberkatan kalian akan segera dilangsungkan. Jangan mengundang amarah Tuan Kiano lebih banyak lagi.” Sihol menyuarakan pemahamannya.
Caca yang baru saja mendapat tekanan, kini harus kembali dipaksa untuk segera berdandan. Ia bahkan tidak bisa untuk sekadar mengeluarkan air matanya.
Dengan terpaksa, ia pun menuruti perintah dan saran dari orang-orang yang ada di sana. Terlihat jelas jika para pembantu dan pekerja begitu ramah. Sesaat ia menjadi tenang.
Singkatnya, acara pun akan dimulai. Walau hiasan di mana-mana, namun undangan yang datang sangatlah sedikit. Hal itu memang sesuai keinginan Kiano yang ingin memprivate pernikahannya.
“Sah!” seru semua orang terlihat ikut bahagia.
“Puji Tuhan. Selesai juga masalahku. Huh!” seru Sihol cukup senang dan lega.
Ia bahkan memamerkan surat pengunduran dirinya pada gadis itu.
“Mau ke mana?” tanya Caca yang semakin sedih sekarang.
“Mau ke luar dari sinilah. Sudah ada kamu sebagai pengganti saya. Selamat menikmati hidangan umpatan sehari-harinya,” ledek pria itu membuat Caca kian tertekan.
“Ehem!” Kiano mendekat dengan kursi rodanya. “Sore ini, Nona yang akan memandikan saya.”
__ADS_1
“Ha?” kaget Caca yang merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengarkan.
“Nona adalah istri Tuan Kiano. Jadi wajarlah,” celetuk Sihol yang terlihat sangat senang.
“T-tapi-“
“Apanya yang tapi-tapi? Kamu mau kerja atau tidak. Kalau tidak mau ya tinggal kembalikan saja uang saya.” Kiano berucap singkat kemudian berlalu dari sana.
“Selamat, Nona. Semoga pernikahan kalian umur panjang. Sekarang saya pamit dulu. selamat sore.” Sihol segera berlalu begitu saja.
Terlihat jika Caca benar-benar kepikiran. Ia segera masuk ke dalam toilet dan mencoba menumpahkan air matanya di sana.
Ia masih tidak percaya jika dirinya sudah menikah sekarang.
***
Brian terlihat sangat tidak tenang sekarang. Walau ibunya sudah dipastikan aman, namun pikirannya masih melayang pada nasib sang kakak yang mungkin telah menikah dengan pria itu.
Ya, secara kasat mata tidak ada yang dirugikan oleh gadis itu sebab dirinya tak pernah memiliki kekasih. Namun, ia juga tahu jika gadis itu sangat tidak tenang berada di rumah orang lain tanpa ibu dan sang adik.
“Kakak,” pekiknya kemudian diam sesaat Ana datang untuk berkunjung.
Gadis itu terlihat membawakan beberapa buah dan roti sebagai buah tangan. Brian yang memang sudah mendapat informasti itu sebelumnya dari sang kakak tidak begitu kaget.
“Jangan terlalu banyak komentar. Caca lagi sibuk. Kamu niatan datang ke sini mau ngapain? Mau jenguk ibu saya atau mau cari ribut?”
Terlihat jika Brian segera pasang badan untuk nama kakaknya. Ia juga memasang wajah kesalnya tersebut.
“Apaan sih, aku hanya bercanda. Hehe ...” tertawa canggung lantaran dirinya yang merasa bersalah. “Aku boleh ke toilet sebentar. Ini disimpan, ya.”
Gadis itu berlalu dengan sendirinya. Ia bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah Brian yang malah terus menatap ke arahnya.
“Astaga galak sekali,” gumam gadis itu tak habis pikir.
“Berani-beraninya kalian ngatain kakakku. Dia pahlawanku,” geram Brian yang tampak masih menunggu kehadiran Ana.
Tunggu punya tunggu hingga sejam lamanya Ana tak juga muncul. Sayang sekali ketika mencoba memastikan, gadis itu tak lagi berada di tempatnya. Ia kabur.
***
__ADS_1
Amelia tengah berada di sebuah kafe untuk bertemu seseorang yang ternyata adalah Sihol. Pria itu tampak tersenyum datar kemudian memberikan foto pernikahan bosnya sebagai bukti.
Gadis itu amat sangat terkejut mendapati fakta itu. ia sungguh tidak menyangka jika sang mantan akan berani untuk mengambil langkah lebih maju darinya.
“Kamu kenapa masih ada di Indonesia?” tanya Sihol penasaran.
“Kenapa? Takut aku datang ke sana?”
“Tentu.”
Amelia tertawa malas. Ia tidak pernah ada pikiran untuk melakukan hal itu sebab dirinya bahkan tengah disibukkan dengan hal-hal yang membuatnya bahagia saat ini.
Terlihat jika pertemuannya dengan Sihol seolah tiada arti sebab mata dan tangannya terfokus pada ponselnya. Ia tengah saling berkirim pesan dengan sang kekasih.
“Kamu sudah punya pacar belum? Bosmu saja sudah menikah, masa kamu tidak.” Amelia meledek.
Sihol yang tidak ingin melanjutkan pertemuan itu, pun lantas berlalu tanpa kata pamit. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Terlihat jika Amelia sangat kesal dibuatnya. Ia yang ingin memamerkan Tian yang padahal baru saja datang untuk menjemputnya menjadi sirna.
“Sayang, di mana temanmu itu?” tanya pria itu merasa bingung.
“Sudah pergi. Baru saja.”
“Kenapa? Apa dia sangat sibuk sampai tidak menghargai kedatanganku?” tanya Tian lagi yang teramat penasaran.
“Ah, sudahlah. Kita pulang saja, yuk! Aku capek, mau tidur.”
Tian yang melangkah mengikuti gadis itu pun segera masuk ke mobil. Ia tak segera melajukan kemudinya.
“Kita masih ke toko tani, ya. mau beli bibit bunga dan sayur, pupuk juga ada beberapa tuh yang sudah habis. Kamu tidak keberatan, kan?”
Amelia yang sebenarnya sangat terkejut pun terpaksa memasang wajah senangnya. Ia memejamkan mata sesaat untuk menahan rasa kesalnya. Uh, sungguh ia butuh rasa sabar ekstra.
Tian yang terlihat tidak begitu peka, pun terfokus dengan apa yang akan ia lakukan siang itu. ia bahkan tidak mengajak Amelia makan atau sekadar beristirahat setelah mereka mengunjungi beberapa toko.
“Apa kamu sering begini? Melakukannya sendirian?” tanya Amelia di ujung perjalanan mereka yang akan segera tiba di hunian pria itu.
“Iya, sering dan selalu. Kamu tidak nyaman?” tanya pria itu namun sibuk dengan kegiatan sendiri. “Ini ... surat yang aku janjikan kemarin. Disimpan, ya.” ke luar dari mobil sebab mereka sudah ada di garasi.
__ADS_1
Amelia yang merasa terabaikan, pun tak bisa berbuat apa-apa. ia pasrah, teramat pasrah.
***