
Malam ini Vera datang ke sebuah pesta yang diadakan salah seorang kenalan temannya. Teman yang baru saja Vera kenal sekitar 6 bulan lalu, tepatnya saat masa ospek dulu. Vera terlihat anggun dan cantik, kulitnya mulus kecoklatan, rambut hitamnya tergerai dengan hiasan jepitan yang berkelip, gaun dusty pink berbahan satin yang dikenakannya nampak sangat pas di tubuhnya yang langsing dan meninggalkan kesan sexy. Tas dan sepatu high heels yang ia kenakan membuat siapa pun yang melihatnya pasti akan tahu bahwa ia bukanlah gadis biasa.
"Vera!! Ke sini!" Seorang gadis manis berambut pirang dan memakai gaun hitam memanggilnya dari kejauhan.
"Nina! Ya ampun, tuh anak, ganti warna rambut lagi dia." Vera bergumam sendiri sambil berlarian kecil menghampiri Nina, temannya yang mengundangnya ke pesta malam ini.
"Pas banget kamu dateng, sebentar lagi artisnya mau tampil." Nina tampak bersemangat sambil menggandeng lengan Vera, mengajaknya masuk ke dalam ruang pesta.
"Nina, ini pestanya di dalem rumah? Kok sepi ya dari luar? Cuma banyak mobil parkir aja." Vera bingung sebab dari awal ia datang, ia tidak melihat ada keramaian pesta dari luar, hanya saja banyak sekali mobil-mobil terparkir di halaman rumah yang luas ini.
"Iya, party nya di dalem, katanya sih ini pesta syukuran rumah, soalnya rumah ini baru aja dikasih orang tuanya buat dia sebagai hadiah ulang tahunnya ke 25 tahun. Keren ngga tuh?"
"Hah? Syukuran rumah dengan ngadain pesta begini, bukannya di doa-doain yaa? Biar rumahnya ngga roboh gitu... Lagian dia yang kamu maksud itu siapa sih?" Vera semakin bingung dengan ke-absurd-an kenalannya Nina yang tidak kalah absurd dengan Nina.
"Ngga tau deh ya, gue sih cuma diundang terus dateng aja, ngga nanya sejauh itu. Tapi semua tamu undangannya cuma yang kenal deket aja sama dia kok, jadi ngga begitu sesak. Kalo orangnya yang mana, nanti di dalem gue kenalin."
__ADS_1
Mereka berdua memasukki rumah mewah dan megah yang didalamnya terdapat pesta yang tidak begitu besar tapi cukup ramai dan gemerlap. Banyak kenalan Nina disana, ia tak berhenti menyapa teman-temannya, dan semua mata tentu tertuju juga pada Vera yang sangat eye catching disamping Nina.
"Ra, kamu mau makan atau mau minum? Biar kamu duduk disini, aku yang ambilin buat kamu."
Vera pun duduk di sebuah sofa besar, di antara banyak orang yang tidak dikenalnya. Nina meninggalkannya sendirian disana, bahkan sebelum ia menyahut mau diambilkan apa. Ia nampak canggung namun lama-lama mulai terbiasa.
Setelah lama menunggu sendirian sambil menatap media sosial di layar handphone nya, akhirnya Nina datang membawa segelas air dan bersama seorang pria tampan dibelakangnya. Vera nampak terkesima dengan pria itu, bola matanya membulat dan pipinya memerah.
"Vera, ini aku bawa air, maaf lama ya tadi aku cari Alvin. Hm..Alvin ini kenalin teman kuliahku namanya Vera, dan Vera ini Alvin, si tuan rumah yang bikin pesta malam ini."
Nina saling memperkenalkan Alvin dan Vera, di dalam hatinya ia yakin Vera terkesima melihat ketampanan Alvin, dan sebentar lagi waktunya ia beraksi untuk mempermalukan Vera.
"Kenapa ya tanya-tanya umur?" Jawab Vera sedikti tegas.
"Alvin mau cari jodoh, Ra. Bokapnya udah ngasih rumah, kan artinya dia harus cari istri cepet-cepet buat nemenin dia tinggal di rumah segede ini." Selak Nina sebelum Alvin menjawab.
__ADS_1
"Haha...ngga, aku penasaran aja, soalnya wajah kamu terlihat masih muda banget, takutnya dibawah 17, disini minumannya..."
"Aku umur 20 tahun bulan depan. Aku rasa lebih tua setahun atau dua tahun dari Nina. Tadinya sempet kuliah di luar kota, tapi ngga lama orang tuaku dipindah tugas ke sini, jadi aku pindah kuliah juga." Vera memotong pembicaraan Alvin sebelum Alvin salah menilai dirinya yang dikira masih dibawah 17 tahun.
"Eh, Ra, diminum dulu dong minumannya, dari tadi ngobrol terus ngga haus?" Nina mendorong gelas berisi minuman ke mulut Vera.
"Ayo tambah lagi minumannya, aku pesen banyak dan khusus, jadi pasti enak banget. Ohya, aku tinggal sebentar ya, artisnya mau ketemu sama aku katanya, jarang-jarang kan artis nyariin orang biasa. Hehe..."
"Oke, bye. Nanti balik lagi yaah..." Vera dan Nina bersamaan mengucapkan goodbye untuk si tampan Alvin yang langsung hilang dari hadapan mereka berdua.
Selanjutnya mereka berdua berbaur bersama tamu undangan lain menikmati lagu-lagu yang disajikan sang artis ibu kota, di sudut sofa sambil terus meminum air yang di tuangkan Nina, tak lama kemudian Vera merasa penglihatannya lebih buram dari sebelumnya, ia terus bernyanyi dan menari hingga kemudian ia merasa sangat mabuk dan terjatuh.
Vera pingsan karena terlalu mabuk, sementara Nina yang duduk disebelahnya justru tersenyum lebar dan mulai mengeluarkan handphone untuk memfoto temannya yang sedang tersungkur di sudut sofa. Setelah puas mengambil foto-foto Vera yang sedang mabuk dan mengirimkannya ke grup chat kelas, Nina pun meminta bantuan temannya untuk mengangkat Vera dan memindahkannya ke dalam kamar.
Sementara Alvin yang mulai sesak dan sedikit mabuk, merasa butuh ruang untuknya bernafas lega dan merebahkan badan. Sudah 2 hari ia kurang tidur dan terlalu banyak berpesta, hingga melalaikan kesehatannya. Ia pun masuk ke dalam sebuah kamar yang paling dekat dengan ruangan dimana pesta di adakan.
__ADS_1
"Duh, dada gue sesek banget."
Alvin merebahkan tubuhnya di atas ranjang besar di dalam kamar itu. Ia tidak menyadari ada seseorang yang juga sedang tertidur disana. Ia melepas semua pakaiannya dan hanya tersisa celana pendeknya saja. Ia lalu masuk ke dalam selimut dan merebahkan tubuhnya, tak lama kemudian ia pun tertidur lelap meninggalkan hingar bingar pesta.