
"Silahkan duduk, Pak Leo dan..." Pak Darma berdiri, mengulurkan tangan seraya mengingat nama pria yang ada di dalam foto bersama putrinya.
"Alvin, ini putra saya, namanya Alvin Abraham." Pak Leo menyambut uluran tangan Pak Darma dan memperkenalkan putranya.
Setelah semua bersalaman dan saling menyapa, Alvin dan Pak Leo pun duduk di kursi yang sudah di sediakan. Alvin tampak canggung dan bingung apa yang harus ia jelaskan, sepanjang perjalanan Pak Leo hanya terus menanyakan mengapa pesta diadakan di rumah barunya, kenapa foto Alvin tidur bersama seorang perempuan tersebar, siapa yang memfotonya, dan terus bicara seputar foto saja tanpa memberinya kesempatan bicara bahkan berpikir sejenak. Ia sendiri tak ingat tidur dengan Vera, yang ia ingat hanya saat ia masuk ke kamar lalu tidur. Vera sendiri terlihat sangat kaku, tak berani menatap semua orang, pikirannya kalut sendirian. Apakah foto itu sudah tersebar luas? Siapa saja yang sudah melihat foto tersebut? Apa yang harus ia jelaskan pada semua teman-temannya yang sedari tadi sudah ramai menanyakannya di chat?
"Alvin, bisa kamu pastikan bahwa tidak terjadi apa-apa dengan kamu dan Vera semalam? Karena kalau di lihat dari foto itu sepertinya kalian tidak kenakan pakaian." Ibu Nova langsung bertanya pada Alvin dengan ketus.
"Hm... Terus terang yang saya ingat semalam hanya saya masuk ke kamar dan melepas pakaian, lalu tidur. Saya hanya ingat AC kamar sudah menyala, saya ngga lihat ada Vera disana." Jelas Alvin yang nampaknya cukup berani dan tidak merasa bersalah.
"Kamu tau ngga, kalau foto itu sudah tersebar kemana-mana? Satu kampusnya Vera tau semua, bahkan sampai ke dosen-dosennya Vera." Ibu Nova mulai emosi karena Alvin nampaknya tidak merasa bersalah sedikit pun.
"Hm...Bapak dan ibu, kebetulan Prof. Dery adalah adik saya, pamannya Alvin yang juga mengajar disana. Awalnya saya juga tau foto itu dari beliau, dan anak perempuan saya, Dona anak saya juga kuliah semester 3 disana." Pak Leo mulai menenangkan suasana dan hendak memberi penjelasan.
"Pak, di keluarga kami tidak ada budaya bebas dimana anak perempuan sah-sah saja tidur satu ranjang dengan laki-laki. Foto ini bahkan sudah tersebar di internet, dan semua kolega saya sudah melihat foto ini, bahkan keluarga kami sudah hubungi kami untuk mengecek kebenaran foto ini sejak tadi pagi." Pak Darma menjelaskan dan terlihat sedikit emosi.
__ADS_1
Vera tenggelam dalam pikirannya sendiri, sudah tak ia dengar lagi pembicaraan di meja makan itu, karena dirinya ada dalam foto itu kini semua orang berusaha mencari tahu dan konfirmasi kebenaran foto itu. Ia memikirkan bagaimana ia dan orang tuanya harus menghadapi mulut jahat orang di luar sana. Belum lagi kawan-kawannya di kampus yang baru saja mengenalnya sebagai gadis yang cerdas, apakah sebanding dengan kelakuannya dalam foto itu? Ia sendiri tidak yakin apakah yang dia alami semalam, apa yang ia lakukan sampai tertidur bersama Alvin, pria yang baru saja di kenalnya. Ini semua sesungguhnya salah Nina dan David, karena merekalah yang memfoto dirinya dan menyebarkannya ke grup chat kelas hingga sekarang tersebar luas dengan cepat. Tanpa sengaja, Vera meneteskan air matanya, yang sudah berusaha dia tahan sekuat tenaga.
"Vera, kamu kenapa? Ngga ada masalah yang ngga punya solusi, papah dan mamah yakin pasti ada solusi terbaik. Sebaiknya kita semua makan dulu ya." Pak Darma berusaha menenangkan kembali suasana yang mulai memanas.
Tetapi Vera memilih bangun dari kursinya, kemudian tanpa berkata apa pun berjalan kembali ke kamarnya, ia tidak sanggup makan, hatinya begitu sedih. Tak di gubrisnya lagi panggilan orang tuanya dan teman-temannya.
"Nina, David, alasan apapun tidak di benarkan dalam kasus ini, apalagi alasan mabuk. Kalian bisa saja saya laporkan ke polisi sekarang juga, tapi saya masih punya perasaan karena orang tua kalian mengemis agar kalian tidak dipolisikan, kalian anak-anak yang berjuang masuk ke kampus favorit dengan susah payah, harusnya kalian lebih sadar diri bukannya malah main-main begini." Pak Darma mengatakan dengan tegas pada Nina dan David yang kini tertunduk lesu.
"Pak Darma, sebagai rasa tanggung jawab dan permohonan maaf saya dan keluarga, bagaimana kalau Vera dan Alvin kita satukan dalam pernikahan? Pernikahan itu kita laksanakan secara tertutup, hanya di hadiri keluarga dan sahabat karib saja, agar kemudian kita bisa konfirmasi ke semua orang kalau foto itu bukan aib, tapi diambil setelah pernikahan." Tiba-tiba Pak Leo memberikan saran yang mencengangkan semua orang di meja makan itu termasuk Alvin.
"Pah, ngga salah pah? Cuma gara-gara foto lho pah." Alvin mulai panik.
"Maaf Om." Alvin tertunduk.
"Pah, Mamah rasa pernikahan adalah keputusan yang tepat sekarang ini. Karena dengan alasan apalagi kita akan konfirmasi ke semua orang yang saat ini sudah mencecar keluarga kita, pah?"
__ADS_1
"Jangan terburu-buru mah, bagaimana kalau Vera ngga setuju?" Pak Darma coba mencari solusi lain.
"Hanya dengan pernikahan juga mamah akan jauh lebih tenang akan keselamatan Vera, pah. Mamah takut anak gadis mamah kenapa-kenapa, apalagi punya teman ngga jelas dan ngga bener di luar sana." Ibu Nova berkata demikian sambil melirik sinis Nina dan David.
"Betul Pak Darma, saya rasa solusi paling tepat saat ini adalah pernikahan. Alvin juga pasti lebih teratur hidupnya jika punya istri." Pak Leo membenarkan.
"Pernikahan hanya untuk sekali seumur hidup pak, bukan untuk mainan. Saya ngga mau Vera akan nikah-cerai nantinya." Pak Darma masih berusaha menolak solusi pernikahan, yang tentu saja tidak di setujui oleh Alvin.
"Kita buat saja perjanjian pernikahan, jadi sebelum menikah Alvin dan juga Vera harus menandatangani perjanjian pernikahan yang isinya komitmen-komitmen yang harus mereka jalankan dalam pernikahan, agar hidup mereka setelah menikah juga semakin terarah." Pak Leo memberi saran pada orang tua Vera.
"Ngga bisa pah, pernikahan bukan mainan pah, lantas bagaimana kalau Alvin atau Vera ngga bisa menjalalankan perjanjian pernikahan itu?" Alvin berusaha mencegah pernikahan terjadi.
"Tentu ada konsekuensi nya. Ada harga yang harus kalian bayar jika melanggar perjanjian." Pak Leo mengatakan hak itu dengan tegas sambil menatap Alvin.
Alvin paham betul konsekuensi yang harus ia tanggung jika melanggar perjanjian pernikahan itu, pasti salah satunya adalah kehilangan harta warisan papahnya dan juga perusahaan tempatnya bekerja akan jatuh ke tangan Dona, adik tiri perempuannya. Padahal ia sudah mati-matian bekerja dari nol untuk bisa dianggap mumpuni oleh papahnya dalam mengelola perusahaan dambaannya itu. Perusahaan yang juga dibangun bersama mendiang ibunya, yang kini sangat didambakan juga oleh ibu tirinya untuk di kelola anak perempuan kesayangan ibu tirinya, Dona.
__ADS_1
"Oke, kalau begitu kita langsungkan pernikahan itu lusa, masalah ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, karena pamannya Alvin, Prof. Derry dosen di kampus tempat Vera berkuliah, pasti sudah sangat terpojok juga. Karena semua orang kenal Alvin adalah keponakannya dan Vera adalah mahasiswi kebanggaan di kampusnya." Pak Leo menegaskan.
Alvin beserta kedua orang tua Vera terdiam tanda setuju, meskipun berat menerima kenyataan pahit dan membingungkan ini. Mereka masing-masing memiliki alasan tersendiri untuk menerima pernikahan ini sebagai solusi. Entah bagaimana dengan Vera, akankah ia siap menerima dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang istri dari pria yang tidak ia kenal?