
Tok. Tok. Tok.
Terdengar suara pintu kamar Vera diketok seseorang.
"Siapa? Vera mau tidur." Teriak Vera dari dalam kamar.
"Gue mau ngomong sebentar Ver, ini penting."
"Ngga, kalo cuma mau bahas cewek-cewek lo, gue males dan ngga peduli." Jawab Vera lagi sembari memakai skin care di depan cermin kamarnya.
Tiba-tiba pintu dibuka oleh Alvin, dan Vera yang hanya mengenakan chemise pink atau baju tidur dengan potongan menyerupai babydoll sepanjang paha dengan tali pundak yang tipis pun terkejut, tak disangkanya Alvin masuk begitu saja ke kamarnya.
"Ver, lo kosongin nih kamar sekarang, Papah on the way kesini sama orang tua lo."
Vera yang mendengar hal itu pun langsung bergegas menyembunyikan barang-barang miliknya dibantu Alvin. Sudah tak dipedulikannya lagi pakaian yang ia kenakan. Terlihat sesekali Alvin mencuri curi pandang pada Vera yang memang tampak cantik natural, apalagi saat ini ia terlihat begitu menggoda. Setelah selesai menyembunyikan sebagian barang-barang milik Vera, Alvin kemudian mengajak Vera masuk ke kamarnya.
"Oke, denger ya. Jangan cerita apa pun sama Papah atau orang tua lo soal kejadian Carla kemarin dan Sarah barusan. Intinya jaga mulut." Alvin mengingatkan Vera.
"Terus, kalo gue jaga mulut, gue dapet apa? Karena kalo kita pisah kan cuma lo yang rugi, karena kesalahan ada di lo." Vera mulai kepikiran ingin menjatuhkan Alvin sekaligus ingin melampiaskan kekesalanya pada Alvin.
"Terserah, lo mau gue lakuin apa supaya mulut lo bisa jaga rahasia?!" Alvin nampak pasrah sekaligus kesal.
"Jangan bawa perempuan lain ke rumah ini lagi. Apalagi sampe masuk kamar lo, kan disini ada baju-baju gue, ada barang-barang gue yang lain juga, pas ada cewek lain di kamar ini, gimana cara gue ngambilnya kalo lagi perlu?" Ucap Vera berkelit, padahal alasan sebenarnya adalah karena ia malas dan kesal melihat ada perempuan lain melakukan hal negatif dirumah ini.
__ADS_1
"Hm...gue akan pikirin yang itu. Ada hal lain?" Alvin sepertinya tidak setuju dengan syarat itu.
"Ngga ada, yang gue mau cuma itu. Gimana? Lo udah ngga punya waktu banyak nih buat mikir."
"Ok, deal. Tapi, inget lo harus jaga mulu, jaga sikap. Bertingkahlah senatural mungkin sebagai istri gue."
"Kalo tingkah natural kayaknya gue udah bar-bar sih sama lo. Kali ini mungkin gue harus akting supaya terlihat sebagai istri yang sayang sama suami gitu ya."
"Terserah, pokoknya jangan terlihat kaku dan gugup. Kalo lo bingung mau jawab apa pas di tanya, bilang aja itu privasi. Ngga semua harus mereka denger soal kehidupan pernikahan kita. Ok?!"
"Deal! Gue jaga rahasia, lo jaga rumah ini dari perempuan lain yang mau masuk ke sini."
Mereka berdua pun berjabat tangan tanda setuju dengan perjanjian yang mereka berdua buat saat itu.
"Ngomong-ngomong, kenapa emangnya kalo gue bawa cewek lain ke sini? Ini kan rumah gue, hak gue dong bawa siapa ke sini. Cemburu?"
"Jadi bukan karena lo cemburu?" Alvin mulai menggoda Vera.
Terus terang, Alvin saat ini mulai sedikit tergoda dengan kecantikan yang dimiliki Vera. Apalagi dibalik pakaian yang dikenakannya, kulit mulus Vera nampak begitu lembut. Wajah cantik natural yang dimilikinya membuat Alvin ingin terus menatapnya. Begitu pun rambut hitamnya yang tergerai panjang, ingin rasanya Alvin membelai rambut itu.
"Kenapa senyum-senyum? Lagi berkhayal yang ngga-ngga deh nih pasti. Lo tuh kebanyakan pecaran jadi mes*m nih." Tanya Vera dengan tatapn curiga sekaligus merasa canggung saat ingat pakaian yang ia kenakan begitu mini.
"Apa sih? Lagian wajar dong, gue kan laki-laki, ada cewek cantik depan mata gue masa ngga dilihat, apalagi lo istri gue."
__ADS_1
Tok. Tok. Tok.
Terdengar suara pintu kamar Alvin diketuk, sontak membuat jantung Alvin dan Vera berdegup kencang dan gugup.
"Mas Alvin, ada Bapak dibawah." Mbak Ayu menginformasikan kedatangan Papahnya Alvin.
"Iya, sebentar Mbak, nanti saya turun sama Vera."
"Baik Mas, saya sampaikan."
"Oke, ganti baju lo sekarang, gue tunggu diluar terus kita turun bareng." Alvin menginstruksi Vera.
Tak lama kemudian Alvin dan Vera pun menemui Pak Leo di ruang tamu. Namun tanpa disangka hadir juga Mamah tiri Alvin serta adik tirinya, Dona.
"Loh, Pah kirain sama orang tuanya Vera." Sapa Alvin pada Papahnya.
"Nah, itu mereka tiba, suara mobilnya sudah kedengaran. Hehehe..." Pak Leo berusaha mencairkan suasana yang tegang.
"Hai Vera, gimana kabar kamu? Pasti sehat dan baik-baik aja kan?" Sapa Ibu Lina yang merupakan Mamah tiri Alvin pada Vera. Sangat terlihat sekali kalau ia pura-pura peduli. Vera pun hanya menjawabnya dengan senyuman canggung sambil sesekali melirik ke arah Alvin.
"Bukannya lo udah mulai masuk kampus ya minggu ini, kok gue belom lihat lo ya di kampus? Masih malu ke kampus?" Tanya Dona seperti mengejek Vera.
Vera merasa sangat tidak nyaman dengan situasi canggung ini. Terasa sekali kalau Ibu Lina membawa energi negatif dan hanya senyum pura-pura, begitu pun Dona yang jelas sekali terlihat ingin mengejek Vera.
__ADS_1
"Nah itu Mamah Papah kamu." Ucap Alvin pada Vera.
Kedatangan orang tua Vera disambut hangat oleh Pak Leo dan juga yang lain. Namun entah mengapa Ibu Lina dan Dona terlihat memiliki sesuatu yang nantinya akan dijadikan senjata untuk menjatuhkan Vera dan Alvin.