
Alvin merasakan dadanya begitu sesak, tubuhnya berkeringat dan pandangannya buram. Untuk melangkahkan kaki menaiki anak tangga menuju kamarnya pun ia sudah tidak kuat. Ia pun masuk ke dalam kamar yang paling dekat dengan tangga dan ruang pesta diadakan.
Ia pun melepaskan pakaiannya agar dadanya tidak sesak dan mengurangi rasa panas di tubuhnya. Begitu ia akan menyalakan AC, ia menyadari jika AC di ruangan itu sudah menyala dan ruangan memang sudah dingin.
Ia tidak curiga ada orang lain di kamar itu, meskipun pandangannya sudah mengelilingi ruangan kamar, ia tidak melihat ada siapa pun disana. Ia tidak tahu kalau Vera sedang tertidur di ranjang kamar itu.
Alvin pun langsung tertidur begitu tenggelam di dalam selimut lembut dan bantal empuknya, ia benar-benar mengantuk, mabuk, dan ia butuh tidur.
Beberapa jam kemudian Nina bersama salah seorang teman dekatnya pun masuk ke kamar, dimana mereka meletakkan Vera di ranjang kamar itu. Mereka berniat untuk membawa Vera keluar dan pulang. Tapi yang mereka lihat justru pemandangan yang mengejutkan karena ada Alvin di kasur itu, bersama Vera.
"Wow! Apa-apaan nih? Alvin kok bisa ada disini?" Teriak Nina terkejut.
"Nin, sini HP lo, kita masukin ini ke grup chat kelas lo." David pun merebut ponsel Nina, kemudian mengirimkan foto Alvin dan Vera yang sedang tertidur di dalam satu kasur.
"Jangan!! Lo mau kirim kemana?" Nina berusaha merebut kembali ponselnya.
"Nah, udah!!! Gue kirim ke chat grup kelas lo. Kita tunggu gimana tanggepan temen-temen lo." David terlihat senang, seperti habis melakukan tugas dengan baik.
"Hah?! Jangan! Nanti Alvin marah sama gue, dia kalo lagi marah tuh kayak singa!" Nina marah sekali pada David, kemudian merebut kembali ponselnya dari tangan David.
Sayangnya, foto yang diambil oleh David sudah terlanjur terkirim di grup obrolan kelas Vera dan Nina. Nina panik, dan berusaha mencari alasan apa kalau besok pagi Alvin atau Vera sadar dengan foto yang sudah ia sebar.
"Udah, ngga usah panik. Tinggal bilang, gue mabuk, trus jadi asal kirim-kirim drunk text." David berusaha menenangkan Nina.
"Pokoknya kalo Vera sama David marah-marah sama gue, lo yang bakal gue cari ya. Lagian kenapa sih lo ikut-ikutan? Emang lo punya dendam juga sama mereka?"
"Ngga ada sih, gue cuma ikutan bete aja denger cerita lo tentang Vera yang 'sok kecantikan'." Jelas David pada Nina
"Kalo temen-temen kelas gue jadi ngga suka sama gue, gimana Vid? Ini foto kan dikirim dari akun gue." Nina mulai bingung memikirkan reaksi kontra dari teman-temannya.
__ADS_1
"Feeling gue sih, bakalan ada juga yang jadi ngga suka sama Vera, dan emang ada juga yang selama ini sepemikiran sama lo, kalo Vera tu 'cewek pengganggu' karena cowok-cowok gebetan mereka jadi berpaling semua ke dia."
"David, udah mau pagi, mending kita panggil supirnya Vera buat bawa dia apa kita tinggal aja disini?" Nina mulai ingat tujuan dia ke kamar itu.
"Lo telpon supirnya biar tunggu di depan, gue angkat dia dari sini. Jadi kalo Vera bangun di kamar rumahnya, alibi lo soal 'drunk text' itu kuat."
Sesampainya di rumah, Vera langsung di tidurkan di ranjang kamarnya. Ayahnya, Darma Adrian begitu kaget melihat kondisi putri semata wayangnya yang digotong-gotong tak sadarkan diri.
"Pak Budi, kenapa Vera digotong? Vera pingsan?"
"Non Vera mabuk, pak. Tadi temannya bilang begitu." Jelas Pak Budi.
"Kata temennya?! Siapa temennya? Laki atau perempuan?" Pak Darma, ayah Vera begitu khawatir.
"Saya kurang kenal namanya pak. Tapi Non Vera kelihatannya sudah akrab." Pak Budi mulai ikut khawatir dan merasa bersalah karena ia tidak bisa menjelaskan siapa teman Vera.
"Yasudah pak, biarkan Vera tidur dulu. Tolong bilang sama bibi Ani untuk buatkan Vera krim sup ayam jamur, supaya Vera lebih segar nanti."
Pak Darma sangat khawatir kalau-kalau anaknya pergi bersama orang tidak dikenal, kemudian terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ia tidak mau putrinya serta nama keluarganya tercoreng. Ia begitu menjaga putrinya, namun seiring bertambah dewasa, Vera sering meminta kebebasan bersosialisasi.
***
Matahari sudah begitu terik, menandakan hari sudah siang, Vera terbangun dari tidurnya. Ia mencari ponselnya, dan melihat begitu banyak notifikasi dari pesan grup kelasnya.
Begitu membuka pesan dari grup kelasnya itu, Vera begitu terkejut. Ia melihat teman-temannya sedang mengomentari foto dirinya bersama Alvin di ranjang, entah ranjang siapa ia tidak ingat.
Vera melihat pengirimnya adalah Nina, ia pun langsung menghubungi Nina. Namun dicoba beberapa kali pun Nina tidak mengangkat telponnya.
Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk, Vera pun segera berdiri membukakan pintu.
__ADS_1
"Vera, lihat ini. Apa-apaan kamu?"
Setelah pintu terbuka, Vera melihat ibunya, Nova sedang begitu marah padanya dan menunjukkan gambar dari ponselnya.
"Mah, itu temen Vera pasti iseng mah. Vera semalem mabuk mah, terus..." Vera berusaha keras menjelaskan.
"MABUK?! Vera, kamu ini anak gadis! Kenapa sembarangan sekali sih?" Ibu Nova, mamah Vera berteriak mendengar penjelasan Vera yang menurutnya sudah keterlaluan.
"Maaf mah, ini Vera lagi cari Nina, ini temen Vera si Nina yang foto, dia pasti bisa jelasin semuanya mah." Vera berlutut memohon pengertian mamahnya.
"Kamu darimana semalam? Pakai baju terbuka begini, mabuk, lalu tidur di ranjang siapa juga kamu ngga tau! Kamu urakan sekali sayang, mamah kecewa sama kamu. Kamu ngga bisa jaga kehormatan keluarga kita."
"Mah, Vera minta maaf mah, Vera yakin bisa jelaskan semuanya mah. Ini salah paham aja."
"Vera, mamah akan perintahkan Pak Budi untuk cari teman kamu yang sebar foto itu dan bawa laki-laki yang ada di foto itu ke hadapan mamah dan papah, laki-laki itu harus bertanggung jawab." Ibu Nova, Mamah Vera pun pergi meninggalkan Vera masih dengan wajah kecewa dan marahnya pada Vera.
Vera segera menghubungi Nina kembali, namun masih belum bisa terhubung juga. Vera sendiri masih bingung apa sebenarnya yang terjadi, kenapa bisa ia tertidur bersama Alvin, pria yang baru dikenalnya semalam. Ia berusaha mengingat runut kejadian tapi masih belum juga bisa mengingat apa pun.
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar lagi, Vera tersontak dan segera membukanya. Ternyata, bibi memberi tahu Vera untuk segera mandi dan makan siang sudah disiapkan, hari ini juga akan kedatangan orang penting yang tentu saja akan membahas permasalahan foto Vera yang tersebar.
Vera pun datang ke meja makan dengan sedikit tegang, takut dan sangat cemas akan di marahi oleh papahnya yang terkenal galak. Di meja makan sudah duduk berkumpul orang tua Vera, dan Nina juga David. Ya! Nina dan David ada di meja makan sekarang, orang yang paling Vera cari dan sangat sulit dihubungi.
Mereka semua tidak makan siang, keluarga Vera terus memberondong banyak pertanyaan untuk Nina dan David yang dengan tenang menjawab semua pertanyaan dengan alasan bahwa mereka sedang mabuk saat mengirimkan foto-foto tersebut.
"Baiklah, kita sudah dengar penjelasan dan alasan yang sebenarnya kurang bisa saya dan keluarga terima. Nanti kita akan dengar penjelasan dari pria yang tidur dengan kamu di foto itu." Pak Darma berkata tegas sambil menatap Vera yang tertunduk cukup lama.
"Kalau tidak ada yang bisa menjelaskan dan memberikan bukti kalau tidak terjadi apa-apa, terpaksa Papahh akan nikahkan kamu dengan pria itu." Semua orang di meja itu terkejut mendengar perkataan Pak Darma, kecuali istrinya.
Pak Darma memang terkenal sangat menjunjung tinggi kehormatan keluarga, terkenal galak, tegas dan tidak ada yang berani melawannya, sekalipun istrinya. Vera semakin cemas, takut tidak ada yang bisa ia buktikan, bahkan pelaku utamanya, Nina dan David tidak bisa membuktikan apa pun dan terlihat sangat tenang.
__ADS_1
Tak lama kemudian ada tamu yang datang lagi, bibi segera berlari menyambut tamu yang datang. Dan ternyata yang datang adalah Alvin dan seorang pria paruh baya yang mungkin adalah ayahnya. Jantung Vera berdetak dengan kencang, ia sangat takut dan cemas mendengar penjelasan dari Alvin. Ia takut terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan betul-betul terjadi saat mereka mabuk.