
"Jadi sekarang kita tinggal serumah, tapi sebaiknya pisah kamar dulu. Jujur, gue masih bingung harus gimana sama pernikahan ini. Lo setuju kita pisah kamar? Atau lo ngebet pengen sekamar sama gue?" Alvin masih dengan gaya sok ganteng dan narsisnya bicara pada Vera.
"Gue setuju kita pisah kamar. Dimana kamar gue?"
"Diatas, sebrangan sama kamar gue diatas. Tapi semua baju-baju lo ada di walk in closet gue. But don't worry, karena cuma letaknya aja disana, lo tetap bisa ganti di kamar lo sendiri."
"Kenapa begitu? Emangnya kenapa kalau baju-baju gue ditaro aja di kamar gue?"
"Takut Papah dateng dan curiga kita ngga sekamar. Udah yah, gue ke kamar dulu, panas disini."
Alvin lalu meninggalkan Vera di ruang tengah sendiri. Dalam hati, Vera bertanya-tanya mengapa rumah sebesar ini begitu sunyi. Dia pasti merindukan suara berisik Mamah yang seru komentarin sinetron kesukaannya.
Vera lalu naik ke lantai 2 rumah itu, ia memasuki kamar yang terlihat kosong dan sepertinya itu kamarnya. Ia lalu merebahkan tubuhnya disana.
"Hahh...capek juga ya nikahan itu. Capek hati, capek badan, capek pikiran!" Teriaknya kencang.
__ADS_1
Tiba-tiba muncul seseorang keluar dari toilet kamar itu, Vera pun terkejut luar biasa. Ia tidak menyangka kamar yang dimasukinya adalah kamar Alvin.
"Nah kan, kebiasaan lo ya... Sembarangan masuk kamar orang terus tidur aja gitu di ranjangnya. Ngga pake permisi, ketok pintu dulu kek. Gara-gara kebiasaan lo yang kayak gini nih, bikin kita jadi nikah paksa" Alvin memarahi Vera sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Alvin tampak hanya mengenakan celana boxer hitam tanpa baju atasannya. Dadanya begitu bidang dan atletis, bahunya lebar, masih menetes pula air disekitar tubuhnya.
Tanpa sadar Vera yang sedang terkejut memperhatikan tubuh Alvin dengan mulut menganga seperti habis melihat hal yang luar biasa.
"Kenapa lo ngeliatin gue? Nih, mau pegang dada gue. Lap sekalian nih pake handuk." Alvin pun melemparkan handuk kecilnya kepada Vera.
"Dih! Amit-amit deh. Ngga napsu gue megang-megang dada lo." Ia tersadar dari pandangan takjubnya pada tubuh Alvin.
"Ngga usah bohong ya neng Pera. Gue liat banget tuh mata lo sampe ngga berkedip liat dada gue. Tapi ngga heran sih, emang banyak cewek yang terpana liat gue telanjang dada."
"OMG! Percaya diri anda tinggi sekali yah! Gue tuh liatin lo karena gue kaget, ngga biasa ada cowok dikamar bareng gue. Kirain siapa, taunya elo. Udah ah, gue mau ke kamar, sorry ya ngga sengaja salah masuk kamar. Btw, nama gue Vera bukan Pera" Vera pun meninggalkan kamar Alvin dengan jantung masih berdebar kencang.
__ADS_1
Vera akhirnya memasuki kamar yang disiapkan untuknya. Kali ini ia tidak mungkin salah lagi. Ia terduduk di pinggir ranjang sembari menenangkan jantungnya yang berdebar.
"Aduh, ni jantung kenapa ya. Kok jadi deg degan gini sih."
"Pasti karena gue lah!" Tiba-tiba Alvin muncul di balik pintu kamar Vera.
"Eh, ketok dulu dong. Sembarangan banget sih, kalo gue lagi ngga pake baju gimana?!"
"Ya biasa aja, emang kenapa?"
"Oh udah sering ya liat cewek-cewek ngga pake baju?!"
"Berisik! Nih HP lo ketinggalan di kamar gue, simpen nomor gue biar gampang komunikasi. Btw, kalo butuh apa-apa ada Mbak Ayu dibawah, dan please jangan banyak ngatur-ngatur gue meskipun status pernikahan kita suami istri. Ok?!"
Glek! Alvin menutup pintu kamar Vera, dan suasana langsung senyap seketika. Mendengar pernyataan barusan membuat Vera hampa lagi. Perasaan tidak enak muncul lagi di hatinya. Bingung, bagaimana ia harus menjalankan kehidupannya selanjutnya, apa kata teman-temannya di kampus, bagaimana dia akan bersosialisasi di luar serta apa tugasnya sebagai istri sekarang.
__ADS_1
Semua pertanyaan muncul dibenaknya tanpa ada jawaban pasti. Bahkan sekarang pun ia masih bingung, bagaimana seseorang bisa menikah lalu pisah kamar dengan pasangannya. Terasa aneh, tetapi akan lebih aneh lagi kalau ia dan Alvin tidur dalam 1 kamar, 1 ranjang yang sama.
"Hidup dalam 1 rumah, 1 atap yang sama aja udah aneh. Nikah sama orang asing aja udah lebih aneh lagi. Kenapa cobaa gue dateng waktu itu ke pesta?! Di rumah ini pula! Bikin ingetan gue muncul lagi kan tuh." Gumam Vera.