BUKAN PRIA PILIHANKU

BUKAN PRIA PILIHANKU
BAB 9 : GOSIP


__ADS_3

"Mah, Pah... Welcome. Aku kangen banget sama Mamah Papah." Vera berlari kecil menyambut kedua orang tuanya.


Nampak wajah kedua orang tua Vera begitu bahagia melihat anak kesayangannya. Baru seminggu mereka ditinggalkan Vera, tetapi rasanya sudah kangen sekali, begitu pun yang dirasakan Vera pada kedua orang tuanya.


"Anak Mamah sehat? Mamah dan Papah kangen banget sama Vera." Mamah Vera memeluk Vera erat.


"Mari Om, silahkan duduk." Alvin mempersilakan Pak Darma untuk duduk di sebelah Pak Leo.


Sejenak mereka semua saling sapa, sesekali mengeluarkan gelak tawa saat mengobrol. Suasana begitu hangat, perasaan berbeda yang belum pernah Alvin rasakan sebelumnya. Dalam hatinya ia berkata, mungkin ini yang namanya 'keluarga'.


Sedari kecil orang tua Alvin begitu sibuk mengurus bisnis mereka. Hingga saat ia beranjak remaja dan ibunya mulai sakit-sakitan, barulah ia mulai dekat dengan sang ibu yang tak lama kemudian meninggal dunia.


Selang beberapa tahun kemudian, Pak Leo menikah lagi dengan wanita yang sepertinya tidak begitu menyukainya. Mereka kemudian memiliki seorang anak perempuan bernama Dona. Anak yang sangat disayang oleh Ibu Lina, Mamah tiri Alvin. Kasih sayang yang diberikan Ibu Lina pada Dona sangat jauh berbeda dengan kasih sayangnya pada Alvin.


Alvin pun merasakan jika Mamah tirinya tidak menyukainya sejak awal bertemu hingga sekarang. Dan yang Alvin sangat pahami adalah, Mamah tirinya berusaha menguasai perusahaan induk milik Papahnya, bisnis yang dirintis oleh ibu kandungnya dulu.


"Ehm... Ngomong-ngomong kandungan kamu bagaimana Ver? Sehat?" Seketika ruangan menjadi sunyi dan semua orang pun terkejut mendengar pertanyaan Ibu Lina.


"Eh... Aku ngga lagi mengandung..." Jawab Vera menjadi bingung, entah berita darimana soal dia mengandung itu.

__ADS_1


"Vera hamil? Anak Alvin kan?!" Tanya Mamah Vera pada Vera dan Alvin.


"Ngga mah, Vera ngga mungkin hamil. Kita ngga ngapa-ngapain kok." Jawab Alvin tegas.


"Bagaimana kamu bisa yakin? Sedangkan kalian saja mabuk di malam kejadian itu kan?!" Ucap Ibu Lina.


"Beritanya tersebar luas banget di kampus lho. Hampir semua anak tahu kalo Vera hamil di luar nikah, makanya langsung buru-buru dinikahin." Ucap Dona meyakinkan dengan wajah liciknya.


"Apa benar begitu, Vera? Papah kecewa sama kamu." Pak Darma nampak emosi.


"Ngga Pah, aku ngga hamil, itu semua berita bohong! Aku berani diperiksa buat buktiin aku ngga hamil." Ucap Vera sembari melirik Alvin berharap Alvin dapat membantunya menepis gosip yang beredar.


"Bukan hanya soal bisnis Pak, tetapi martabat keluarga kami juga sudah dijatuhkan. Papah betul-betul kecewa sama kamu, Vera. Tapi kalau memang betul kamu hamil, kita bisa apa? Toh kamu juga sudah menikah dengan Alvin." Pak Darma menunjukan raut wajah kesal dan sangat kecewa.


"Tapi betul anak Alvin kan?" Ucap Dona pura-pura polos, padahal tujuannya adalah ingin menjatuhkan Vera dan membuat malu kedua orang tua Vera.


"Aku ngga hamil! Itu gosip, aku yakin aku ngga hamil dan aku berani buktiin." Ucap Vera sedikit tegas.


"Dona, maksud kamu apa sih? Ngapain kamu ikut dateng kesini kalau cuma bikin kegaduhan aja?!" Alvin mulai emosi pada Dona dan Mamah tirinya.

__ADS_1


"Alvin, jangan teriak dong, Dona kan cuma nanya." Ibu Lina membela Dona, anak kesayangannya.


"Pertanyaan macam apa itu?! Bertamu ke rumah orang tuh pake adab, di depan banyak orang nanya hal sensitif kayak gitu." Emosi Alvin sudah tidak bisa terbendung lagi.


"Apa salahnya tanya soal kehamilan Vera? Toh kita disini semuanya keluarga, ngga ada orang asing. Dan kamu Alvin, sebaiknya kamu perbaiki kebiasaan kamu bawa gonta ganti perempuan ke rumah ini. Kasian istri kamu sedang hamil, dan orang hamil..."


"Cukup! Berapa kali sih harus bilang kalau Vera ngga hamil?! Dan Mamah ngga usah ikut campur urusan pribadi aku." Alvin memotong pembicaraan Ibu Lina.


"Kebiasaan bawa gonta ganti perempuan?! Maksudnya apa?" Mamah Vera nampak terkejut dan penasaran.


"Kebiasaan Alvin emang begitu tante. Dari dulu sering gonta ganti cewek, makanya minta dibelikan rumah sama papah, supaya dia bebas bawa cewek mana aja kerumah." Jawab Dona pada Mamah Vera, ia terlihat senang melihat semuanya jadi ricuh dan emosi.


Alvin dan Vera terlihat begitu emosi pada Ibu Lina dan Dona. Mereka yakin, gosip yang tersebar di kampus pasti ulah dua ular ini. Mereka pasti ingin menjatuhkan Alvin dan Dona karena dengan begitu reputasi keduanya akan buruk di mata masyarakat, sehingga orang-orang di perusahaan akan memandang mereka sebelah mata. Dan akhirnya perusahaan akan diserahkan pada Ibu Lina dan Dona.


"Dona, stop! Tolong Pak Darma dan Ibu jaga emosi, setiap masalah pasti ada solusi. Kita semua disini pasti kaget mendengar pernyataan barusan. Tapi kita semua kan memang baru kenal, kita butuh waktu untuk menerima segala bentuk sifat masing-masing. Saya yakin, Alvin sudah berubah sejak menikah." Pak Leo mulai menenangkan suasana, dan seringkali menatap Alvin untuk memastikan pernyataannya benar.


"Sebenernya kalian semua kesini mau ngapain sih?! Kalo cuma bikin ribut mending pulang, maaf Alvin dan Vera capek. Kita juga butuh waktu buat mencerna semua yang terjadi. Kita permisi, Om Tante, Vera saya ajak untuk istirahat dulu ya. Kasian nanti 'kandungannya' terganggu." Jawab Alvin ketus dan sesekali menatap tajam pada Ibu Lina dan Dona.


Alvin mengenggam tangan Vera dan menariknya pergi dari ruangan menuju kamar. Orang tua Vera beserta semua yang hadir langsung terdiam saat Alvin dan Vera meninggalkan ruangan. Pak Darma dan istri langsung berpamitan pulang, begitu pun Ibu Lina yang langsung mengajak suami dan anak kesayangannya pulang.

__ADS_1


Ibu Lina dan Dona merasa misi mereka untuk menjatuhkan reputasi Alvin dan Vera berhasil kali ini. Mereka tampak puas dengan kegaduhan malam ini, dan pulang dengan senyum lebar.


__ADS_2