
Vera memasuki pintu rumah yang dibuka kan oleh Mbak Ayu. Di luar terparkir mobil lain selain milik Alvin.
"Mobil siapa Mbak di depan?" Tanya Vera pada Mbak Ayu.
"Ehm...itu Non, mobilnya Non Sarah." Jawab Mbak Ayu takut.
"Sarah?! Siapa Sarah? Pacarnya Alvin?!" tanya Vera terkejut.
Perempuan mana lagi yang Alvin bawa ke rumah ini. Ia tak habis pikir, 2 hari sudah ia tak pulang ke rumah dan menginap di rumah Elsa, Alvin suaminya justru bawa perempuan lain ke rumah bukannya introspeksi diri.
Vera lalu menaiki anak tangga hendak masuk ke dalam kamarnya. Betapa terkejutnya ia saat mendengar suara aneh dari kamar Alvin. Ia pun pelan-pelan melangkah mendekati pintu kamarnya yang bersebrangan dengan kamar Alvin.
Suara itu semakin nyaring, suara wanita yang sedang mendesah dan racauan erotis tak jelas membuat ia begitu emosi bercampur jijik mendengarnya. Ia melihat pintu kamar terbuka sedikit, ingin rasanya ia membuka pintu itu dan meneriaki mereka disana.
Tapi niat itu ia urungkan, ia sudah banyak mendengar nasihat dari Elsa sahabatnya. Ia juga harus dapat mengontrol emosinya agar tak cepat tua dan nampak stress. Ia harus mengabaikan apa pun yang ia lihat dan dengar di rumah itu. Ia kemudian menelepon sahabatnya, Elsa untuk melaporkan keadaan terkini yang ia alami.
"Halo Vera, udah dirumah?" Terdengar suara Elsa dari seberang telepon.
"Udah dirumah sih Sa tapi... Sa, barusan waktu gue mau masuk kamar, gue denger ada suara cewek di kamarnya Alvin. Pintu kamarnya terbuka sedikit, pengen rasanya masuk terus mergokin mereka Sa!" Vera mulai menggebu-gebu terbakar emosi.
__ADS_1
"Jangan, biarin aja Ver. Abaikan semua yang lo denger atau pun lihat. Kalo lo mau hidup berdampingan sama Alvin dengan baik-baik aja tanpa stress, sebaiknya lo cari kegiatan apa kek, tanpa peduli sama kehidupan pribadinya dia."
Tiba-tiba terdengar suara Vera menangis.
"Ver, lo nangis? Sabar ya Ver, mungkin ngga mudah tapi gue yakin lo bisa."
"Buat apa Sa, buat apa gue nikah sama laki-laki yang gue ngga kenal, bahkan tidur dengan perempuan lain yang gue sama sekali ngga tau siapa perempuan itu. Hidup gue ngga bisa sebebas dulu Sa. Pernikahan gue ini dibawah perjanjian hitam diatas putih."
"Iya gue paham maksud lo Ver. Yaudah sekarang lo mendingan mandi, terus tidur yaa. Besok gue anter jemput lo ke kampus. Oke?"
"Oke Sa, maaf ya gue nyusahin lo terus. Gue tutup teleponnya ya. Bye."
Selesai mandi dan berpakaian ia pun turun untuk makan malam. Kebetulan sudah pukul 9 malam, tetapi perutnya lapar sekali. Saat membuka pintu kamar, dilihatnya pintu kamar Alvin yang sudah tertutup rapat, tidak ada suara siapa pun yang ia dengar.
Ia pun bergegas turun ke meja makan, alangkah terkejutnya ia melihat Alvin sedang berada di meja makan juga bersama seorang wanita yang berada di pangkuannya.
What?! Makan aja segala dipangku! Gila nih Alvin. Gumamnya dalam hati. Vera lalu mengabaikan mereka berdua, lalu makan di seberang dua sejoli itu.
"Oh Ver, kirain belum pulang." Alvin menyapa Vera dan tampak canggung.
__ADS_1
Vera hanya diam dan terus melanjutkan makannya. Wanita bernama Sarah itu terus menatap Vera. Sarah nampak lebih tua dari Alvin, tapi sepertinya ia lebih santai dari Carla karena tidak langsung marah melihat Vera.
"Hai, gue Sarah. Gue denger kalian sudah menikah, tapi tanpa persetujuan kalian. So, ngga masalah kan gue sering-sering berkunjung kesini." Sapa Sarah dengan nada manja pada Vera.
"Terserah, yang penting suaranya kecilin. Gue ngga mau orang tua gue denger suara kalian pas mereka lagi telpon." Jawab Vera sinis.
"Orang tua lo telpon? Terus kedengeran ngga? Apa kata mereka?" Alvin nampak terkejut hingga mendorong Sarah duduk di kursi sebelahnya.
"Ngga tau denger apa ngga, yang jelas suaranya sampe kamar gue. Dan sebaiknya lo jangan bawa perempuan lain ke sini, takut kebetulan Papah lo atau orang tua gue kesini tiba-tiba." Vera tau betul, Alvin takut sekali ketahuan orang tuanya kalau ia macam-macam dalam pernikahan.
"Lo ngancem gue? Eh, rumah ini rumah gue. Papah udah kasih rumah ini atas nama gue."
"Tapi yang lo incer perusahaanya juga kan?! Bukan cuma rumah mewah ini." Vera sengaja mengucapkannya dengan nada mengejek.
"Stop babe. Dia cuma mau mancing emosi kamu aja. It's ok, kalau aku ngga bisa sering kesini, kita bisa ketemu di luar kan." Sarah yang manja dan menjijikan itu langsung menenangkan Alvin dan mengelus elus pundak Alvin.
Nampak menjijikan bagi Vera. Entah perasaan apakah ini, yang jelas dia tidak suka Alvin membawa perempuan lain ke rumah ini.
Vera segera membereskan piring bekas makannya, lalu naik ke lantai 2 dan masuk ke kamarnya. Sementara Alvin mengantar Sarah untuk pulang. Terdengar suara pagar tertutup dan suara mesin mobil sudah menghilang, artinya Sarah sudah pergi.
__ADS_1
Ia menyadari rumah yang ia tinggali memang bukan rumahnya, tapi pemberian Papah mertuanya untuk Alvin, tapi apakah pantas membawa perempuan lain masuk ke dalam kamar laki-laki yang statusnya sudah beristri?! Alvin sungguh keterlaluan, ia harus ambil tindakan, pikir Vera.