
Marsel- POV
Setelah Solat subuh berjamaah, kita berdua memutuskan untuk tidur kembali, meskipun sebenarnya aku tidak tidur kembali, melainkan sedang merenung, bagaimana caranya meluluhkan hati Monica agar mau berdamai dengan ku terutama dengan adik madunya.
Satu jam berlalu aku tidak menemukan cara yang tepat, dan perutku mulai terasa lapar, karena terakhir makan yah kemarin siang, maka ku putusan untuk ke rumah Adinda.
Pagi hari aku memang lebih sering menghabiskan waktu di rumah lama bersama Adinda, selain di sana banyak koleksi buku-buku ku, juga karena Adinda selalu mengetahui akan kebutuhanku lahir maupun batin.
Saat sedang asik menikmati secangkir teh hangat dengan roti gandum yang di olesi selai kacang, aku yang kebetulan pagi ini menginginkan duduk di ruang tamu utama yang menghadap langsung ke rumah yang kini di tempati oleh Monica.
Seketika Aku membelalakkan mata saat sebuah mobil terparkir di pekarangan rumah Monica, Seorang pria yang sudah tidak asing lagi di mata, akhirnya keluar dari dalam mobil itu dengan senyum sumringah, hatiku yang melihat itu seketika terasa panas.
Berani-beraninya ia datang bertamu sepagi ini, di saat aku tidak ada. Aku segera berjalan nyaris berlari saat Monica hendak membukakan pintu. Niatku tiba-tiba datang, ku urungkan. dan akhirnya lebih memilih bersembunyi di balik mobil Aldo.
Niat hati, aku akan menghukum Monica jika ia berani memasukkan seorang pria kedalam rumah saat aku tidak ada. Batinku saat itu.
Tapi... hal yang mengejutkan terjadi, Monica menolak menerima tamu karena suaminya tidak ada di rumah, Wah... betapa bahagianya aku saat mendengar ucapannya.
Kepercayaan diriku 1000x meningkat, aku berpura-pura seakan-akan baru datang saat Aldo hendak berbalik dari balik pintu, aku segera berjalan melewatinya dan menahan pintu yang hendak akan tertutup rapat.
Ku persilangan Aldo masuk, sembari merangkul pinggang Monica dengan bangga.
__ADS_1
"Sayang tolong buatkan minuman untuk Tamu kita". Ucapku dengan nada yang akhirnya aku mengerti kenapa Monica seringkali membandingkan sikap ku saat bersama Adinda dan dirinya.
"Hm... Iyah". Ucap Monica patuh, wajahnya terlihat malu-malu, tapi entah kenapa justru aku suka akan hal itu, jika boleh setiap hari sajalah seperti ini.
"Ada perlu apa, sepagi ini datang kemari". Tanyaku to the point. Sembari melihat arloji yang menunjukkan pukul enam pagi lewat delapan menit.
"Hm, kedatanganku bertamu, ada keperluan penting dengan Monica". Ucapnya dengan santai seolah hal itu sangatlah wajar.
"Oh, memang nya tidak bisa di bicarakan lewat telepon?". Tanyaku, mungkin nada bicaraku terlihat kesal.
"Ehm, Jika aku memiliknya, sudah dapat di pastikan setiap hari aku akan menghubungi Monica". Ucapnya dengan rasa kesal serta malu bersamaan ia tunjukkan.
Hem? jadi mereka tidak pernah berkomunikasi? lalu? apa mereka menyimpan rahasia penting dariku.
Monica datang dengan nampan berisi teh tawar hangat, menyediakan nya di meja lalu duduk di sampingku.
"Em?". Dehem Monica.
"Aldo bertamu mau ngobrol sama kamu". Ucapku.
"Oh, Ada apa?". Ucapnya menatap Aldo.
"Aku mau ngobrol berdua aja, bolehkan?". Ucap Aldo menatapku, yang ku tatap balik dengan nyalang.
"Boleh, jangan lama-lama!" ucapku penuh penekanan.
__ADS_1
"Sayang aku tunggu di ruang tv yah". Sementara itu Monica hanya mengangguk.
***
"Ada apa?". Ucap Monica masih dapat aku dengar.
"Aku mau minta nomor handphone kamu". Ucapnya sembari menyodorkan benda pipih itu ke hadapan Monica.
"Untuk apa?". Ucap Monica dingin.
"Salah Abang segitu parah yah? sampai kamu masih gak bisa maafin Abang?". Ucap Aldo sendu.
"Ehem, kalau orang nya gak mau ngasih, yaudah gak usah maksa". Ucap Marsel menyambar saat Aldo memegang tangan Monica.
"Hm, Aku ada jadwal kuliah pagi, aku tinggal untuk siap-siap yh". Ucap Monica sembari melepaskan genggaman tangan Aldo dengan cepat.
"Hm aku anterin yah?!". Ucap Aldo dengan sigap.
"Enggak usah". Ucap Monica tak kalah cepat.
"Gak perlu repot-repot, itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab aku sebagai suami". Ucap Marsel dengan tenang.
Entah kenapa perkataan Marsel yang sebenarnya masuk akal itu terdengar berbeda di telingaku, seakan-akan Marsel tengah mengatakan bahwa Monica adalah milikku, dan kamu jangan mengganggu.
Selagi aku pergi bersiap-siap, aku sama sekali tidak tahu apa saja yang tengah di bicarakan oleh dua laki-laki dewasa di pagi hari, yang pasti dugaan ku keduanya sama-sama sedang menahan emosi, terlihat dari raut wajahnya yang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Monica gak mau ngasih nomor handphone, jadi silahkan pergi, kebetulan kami berdua juga akan pergi". Ucap Marsel setelah Monica pergi.
"Hm, permisi". Ucap Aldo dengan raut wajah lelah, Aldo bisa saja mendapatkan nomor handphone Monica dari orang lain, hanya saja Aldo tidak ingin melakukan hal itu.