Bukan Wanita Penggoda

Bukan Wanita Penggoda
Bab5


__ADS_3

Ketika devi akan berbalik meninggalkan tempat itu, tangan Aksel mencekal nya dan meraih tengku Devi, cup satu kecupan dan sedikit lu**tan mendarat di bibirnya Devi, satu tangan Aksel merangkul pinggangnya. Devi terus mencoba melepaskan ciuman dan rangkulan itu tetapi semuanya sia sia, Aksel semakin mengeratkan pelukannya.


Membuat penonton yang ada di ruangan itu membulatkan mata mereka seketika, melihat adegan 18+ yang ada dihadapan meraka.


" Kak akhirnya ada juga yang naklukin emak." ucap Dede.


" Kamu belum tau aja De, siapa emak kamu itu." Sahut Lee dengan tawa sini nya.


Sedangkan Reza dan Gilang tak mampu berkata kata melihat Aksel yang seperti ini.


Merasa usahanya kerasnya sia sia, Devi langsung memeluk leher Aksel, memberi usapan disertai belaian yang membuat Aksel terbuai dengan perlakuan Devi.


Aksel yang mendapat lampu hijau dari Devi, langsung menurunkan ciumannya pada tengkuk Devi menyisahkan tanda merah gigitan serangga jantan.


Devi tersenyum kepada Lee di ikuti tatapan yang sulit di artikan, Devi mengedipkan matanya Kepada mereka semua yang ada di ruangan itu.


" Aahhhuuu " jeritan itu lolos begitu saja dari bibir Aksel , Ia kini terduduk di lantai sambil memegang juniornya! Dengan teganya Devi mendaratkan lututnya pada area ************ Aksel.


" Ayo pulang" Ajak Devi tanpa raut bersalah sedikitpun, Lee berdiri dengan tawa mengejeknya, berjalan keluar ruangan itu diikuti Dede dan Nana dengan perasaan tidak enak kepada Arya dan kakak kakaknya.


Sebelum melangkah keluar dari ruangan itu Devi mengelus pipi Aksel " jika kamu masih menganggu dan melecehkan aku lagi, akan aku pasti kan adik kecil kamu itu tidak bisa mengukur kedalam lubang lagi sayang." Devi menepuk-nepuk pipi Aksel. " Bye! selamat malam semua."


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Kini mereka telah sampai di kontrakannya, sepanjang perjalanan dari club'' sampai ke kontrakan Devi hanya diam, membuat Dede dan Nana di selimuti rasa bersalah sekaligus cemas.


Setelah membersihkan tubuhnya Devi langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang, " istirahat dulu De, nanti besok kita bahas ya." Ucap Devi, Dede pun ikut berbaring di sampingnya.


Matahari telah menyinari bumi, memaksa semua orang yang ada di dalamnya bangun dan memulai aktifitasnya kembali.


Pagi ini sedikit dingin untuk empat gadis yang baru saja berangkat ke kantor itu, sinar matahari cukup terik, tetapi suasana untuk mereka jelas berbeda.


Selesai dengan rutinitas mereka di pagi hari, mereka berempat baru saja sampai di halaman kantor, Devi sedikitpun tidak bersuara membuat suasana terasa semakin mencekam untuk Dede dan Nana.


" Mom maafin Dede ya." Ucap Dede.

__ADS_1


" Kalau mom nggak suka Dede punya hubungan sama Arya, Dede akan mutusin dia mom asal mom nggak diamini Dede lagi."


Devi menghentikan langkahnya, ia berbalik menatap ke arah Dede " Mak nggak marah sama kamu! karena Mak nggak bisa marah sama kalian, tetapi Mak juga seorang manusia pasti memiliki rasa dan itu bukan marah atau benci, tetapi mak cuma sedikit kecewa, ayo masuk keruangan kalian mak, janji istirahat at makan siang mak akan mendengar penjelasan dari kalian berdua."


Dede dan Nana langsung memeluk tubuh Devi "Terima kasih mak." Ucap keduanya kompak. bagi mereka lebih baik di marahi orang yang kita sayang dari pada harus di diamkan, karena ketika orang yang kita yang sayang dan menyayangi kita marah terhadap kita, alasannya cukup sederhana karena orang itu sayang dan peduli sama kita, mereka ingin kita lebih baik lagi. tetapi jika mereka diam itu lah batas kesabaran mereka untuk kita.


Dede melepaskan pelukannya dan mereka semua pun berpisah untuk masuk keruangan masing masing.


Kediaman Firmasha


Terlihat wanita paruh bayah itu tengah menyiapkan sarapan untuk putra putrinya, wanita paruh bayah itu bernama Aisyah Nurlida istri dari Sebastian Firma, walaupun umurnya kepala 5 tetapi masih terlihat cantik.


" Pagi ma " sapa Gilang, mendaratkan satu ciuman di pipi mama Aisya.


" Pagi juga sayang " ucap mama Aisya.


Gilang adalah sepupu Aksel , anak dari adik perempuannya papa Sebastian, Sebastian dari bayi dirawat sama mama Aisyah, karena kedua orang tuanya telah meninggal, papanya meninggal waktu Gilang berumur 7 bulan dalam kandungan mamanya, dan di ikuti mamanya setelah melahirkan Gilang.


Gilang tak pernah kekurangan kasih sayang, walaupun ia seorang yatim piatu, karena Sebastian dan Aisya mencintai dan menyayangi Gilang layaknya anak mereka sediri.


Kini semua orang di kediaman itu telah berkumpul di meja makan dalam formasi lengkap.


" Ma Gilang mau izin boleh? ucap Gilang setelah selesai sarapan.


" Ingat mama nggak izinin anak mama buat tinggal di luar rumah, apapun alasan kalian sekalipun kalian sudah menikah, jika kalian tetap memaksa untuk tinggal di luar rumah ini, langkah in dulu mayat mama.


" Astagfirullah lazim " jawab mereka kompak, sambil mengelus dada masing masing, jawabannya masih sama.


" Maksud Gilang mau izin buat dekat sama cewe bukan mau pindah rumah" ucap Gilang


" Kalau untuk main main mama nggak setuju tapi kalau untuk di nikahin mama setuju dan sudah siang kerumahnya." ucap mama Aisya menatap secara bergantian ke empat putranya. sedangkan papa Bastian dan Akhila tetap menikmati sarapannya .


" Doain gilang ma."


" Iya mama doain kamu sayang "

__ADS_1


" Abang , Za , untuk beberapa hari kedepannya aku nggak kekantor kalian bisa handel kan semua pekerjaannya." Tanya Aksel.


" Kak emang nggak kapok semalam di hajar," ucap arya.


" Benar tuh De semalam aja aku ngilu liatnya, ih seram banget tuh cewe." Sahut Reza


" Soal kucing liar itu, nanti akan kakak urus setelah urusan kakak di polres selesai." ucap Aksel memakai jaket kulit berwarna hitam sama dengan kacamatanya.


" Aku pamit ya ma." Aksel mencium kening mama dan saudara perempuannya itu.


Langkah Aksel terhenti sejenak" bang tolong urus kerja sama kita dengan perusahan Pak Prapto, tolong sampai kan ke pak Prapto, presentasi proposal kerja samanya aku mau kucing liat itu yang melakukannya." Setelah mendapatkan anggukan dari Gilang, Aksel pun pergi.


" Ma kita pamit ya." ucap Reza mencium kening Mamanya dan Akhila, begitu juga dengan Gilang.


" Tunggu , kasih tau Mama dulu kucing liar itu siapa." Tanya Mama Aisya.


" Nanti Mama juga akan tau! kita juga pamit ya." Timpal Aryan mencium kening Mamanya.


Mereka pun pergi, Reza dan Gilang ke Perusahan sedangkan Arya dan Khila ke Kampus.


Tinggal Mama Aisya dah Papa Bastian di rumah, di temani beberapa Art yang sedang berkerja.


Papa Bastian sudah tidak sibuk lagi di perusahan karena tanggung jawab dan tugasnya di serahkan kepada anak anaknya, ia memilih menemani sang istri melewati masa tuanya bersama di rumah aja.


.


.


.


.


Bersambung.


๐ŸTinggalkan jejak ya kalau kalian suka๐Ÿ‘

__ADS_1


__ADS_2