
Bulan membuka mata, langit di luar masih gelap. Seperti kebiasaan dua Minggu belakangan ini dan tanpa ia sangka ia bisa bertahan bekerja untuk Revan walaupun keinginan untuk mencakar wajah bosnya sangat tinggi. Ia selalu bangun pagi, seperti kebiasaan yang sering ia lakukan. Bulan bangun, gosok gigi dan cuci muka langsung menuju dapur. Bulan setiap pagi tidak melihat pembantu. Padahal kalau siang hari ia sering melihat banyaknya pelayan yang hilir mudik membersihkan rumah.
Bulan berjalan menuju dapur masih memakai baju tidur dan rambut hanya di cepol berantakan. Bulan niatnya ingin memasak nasi uduk dan segala ***** bengeknya. Bulan mulai memasak seperti biasa, bulan fokus dengan kegiatannya tanpa menyadari Revan yang memandanginya sambil bersandar pada pintu. Revan menjadi terbiasa bangun pagi dan melihat bulan memasak seperti kebiasaan rutin menurutnya. Entah sejak kapan ia mulai terbiasa. Bulan selesai memasak dan menaruh hasil masakannya di meja, dibantu Revan tentunya. Selesai menaruh makanan di meja makan mereka makan, masih mengenakan baju tidur masing-masing. Bulan mengambilkan nasi dan lauk pauknya di piring Revan baru ia yang mengambil untuk dirinya sendiri.
" oh iya van, btw kemana pelayan-pelayan setiap pagi? ", tanya bulan di sela-sela mereka makan. Revan hanya menatapnya dengan alis terangkat.
" CK, gini loh, kalau siang kan banyak. Kenapa kalau pagi ngga ada satupun ", kata bulan menjelaskan
" Mereka kerja di luar dulu, baru setelah kita berangkat, mereka masuk ngerjain yang di dalem ", kata Revan sambil tetap makan.
" kenapa? ", tanya bulan
" Ya ngga kenapa-kenapa, biar luar bersih semua dulu baru dalem dibersihin jadi ngga ada yang kelewat ", kata Revan. " Tidak mungkin kukatakan agar bisa berduaan denganmu dan kamu menjadi nyaman di sisiku ", kata Revan menambahkan dalam hati sambil tersenyum penuh arti kepada bulan sedangkan yang ditatap hanya mengangguk angguk sambil makan. Mereka melanjutkan makan dengan tenang. Selesai makan bulan membereskan bekas makan mereka dibantu Revan. Setelah selesai mereka naik tangga menuju kamar masing-masing.
__ADS_1
" Kita berangkat jam 8 nanti langsung ke JD corp ", kata bulan sambil membuka pintu kamarnya. Setelah mendapat anggukan dari Revan ia masuk kamar. Bulan mandi dengan kecepatan normal karena mereka berangkat agak siang jadi tidak perlu terburu-buru. Selesai mandi bulan masuk ke dalam kamar Revan.
Bulan masuk ke dalam walk in closet untuk menyiapkan pakaian Revan. Selesai dengan itu, ia keluar dan berjalan menuju meja rias di kamar Revan untuk memakai sunscreen dan lotion. Revan berjalan mendekati bulan dengan dasi di tangan. Bulan meraih dasi itu dan memakaikannya di leher Revan. Tak lupa tangan Revan yang melingkar di pinggangnya. Bulan membiarkan karena bosan menegur. Selesai dengan dasi, bulan duduk kembali ke depan meja rias. Bulan mulai mengaplikasikan make up ke wajahnya sedangkan Revan berdiri di belakang bulan menata rambut dan kemejanya supaya rapi. Selesai dengan riasannya bulan berjalan menuju kasur mengambil tasnya beserta tas dan jas Revan berjalan untuk memakai sepatu miliknya di samping Revan. Merek berjalan keluar masuk ke mobil untuk menuju JD corp. Tak lama mereka sudah sampai di tujuan, memarkirkan mobil di parkiran kemudian turun setelah mengecek penampilan. Mereka berjalan menuju lobi. Mereka disambut langsung oleh CEO JD corp.
" Selamat pagi tuan De Agler dan selamat datang. Saya Steve Kristian CEO JD corp ", kata CEO JD corp memberi sambutan dan memperkenalkan diri.
" Selamat pagi, senang bertemu dengan anda ", kata Revan sambil membalas jabat tangan walaupun dengan wajah datar.
" Wah siapa wanita cantik di sebelah anda itu mister ", kata Steve sambil melirik bulan.
" Bulan ", kata bulan sambil mengulurkan tangan yang disambut langsung oleh Steve.
" Steve " kata Steve sambil menggenggam tangan bulan erat. Revan mengeram tidak suka. Kemudian setelah basa basi satu dua kalimat mereka menuju ruang rapat. Mereka masuk ruangan dan mulai membahas apa yang mereka bahas.
__ADS_1
" Baik sampai di sini ada yang mau ditanyakan ", kata sekretaris Steve yang memaparkan presentasi kali ini. Revan menatap ke arah bulan, dan yang ditatap hanya menggeleng. Revan pun ikut menggeleng.
" Baik jika tidak ada yang ingin ditanyakan dari pihak De Agler Company, saya tutup presentasi ini ", kata presenter di depan.
" Bagaimana pak apakah keuntungan yang kami berikan cukup memuaskan untuk anda? ", tanya Steve antusias sambil menatap Revan.
" Cukup memuaskan silakan kirim kontrak tersebut ke perusahaan dan saya nanti akan menandatanganinya ", kata Revan
" Baik akan segera saya lakukan, terimakasih atas kerja sam anda. Semoga perusahaan kita tetap bisa menjalin hubungan Bain ke depannya", kata Steve berdiri sambil mengulurkan tangan.
" Baik, semoga ", kata Revan sambil membalas jabat tangan Steve. Mereka keluar ruangan dan Steve langsung masuk ke dalam mobilnya dan berlalu untuk kembali ke kantor. Sesampainya di parkiran kantor Revan mengambil tisu basah dan mengelap tangan bulan
" Ada apa dengan tanganku? ", tanya bulan kebingungan karena tangannya di gosok dengan tisu basah.
__ADS_1
" Untuk membersihkan bekas bajingan tadi dari tanganmu ", kata Revan masih menggosok tangan bulan. Bulan yang teringat hanya terkekeh tapi membiarkan Revan melakukan sesuka hatinya.