Bulan Itu Menelan Malam Dan Mimpiku

Bulan Itu Menelan Malam Dan Mimpiku
Hari Pertama


__ADS_3

Pagi ini Bulan bangun subuh, jam 4 pagi ia sudah bangun. Padahal biasanya ia bangun jam set 6 atau jam 6. Karena bosnya kemarin meminta ia berangkat jam 6 maka ia sebagai karyawan yang patuh harus menurut demi cuan yang akan mengisi rekeningnya bulan depan. Bulan sudah masak, makan, dan mandi. Sekarang berdiri di depan cermin melihat penampilannya sekali lagi apakah sudah perfect atau belum. Bulan melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya menunjukkan jam 5 lebih seperempat. Bulan meraih tas yang ada di kasur dan meraihnya. Bulan keluar rumah dan masuk ke dalam taksi online yang akan mengantarnya ke sebuah alamat yang ia sendiri tidak tahu dimana itu.


Bulan melihat sekeliling jalan yang ia lewati, jalanan masih sangat sepi karena bulan berangkat terlalu pagi. 30 menit kemudian bulan sampai di depan sebuah rumah mewah di kawasan elit kotanya. Setelah memastikan alamatnya benar Bulan turun dari taksi dan membayar ongkosnya. Bulan berjalan menuju gerbang yang menjulang.


" Permisi lak, apakah benar ini rumah Pak Revan? ", tanya bulan ketika seorang satpam menghampirinya.


" Iya benar, ada yang bisa saya bantu? ", kata satpam menghampiri Bulan.


" Baik perkenalkan say Rembulan, saya kemarin diminta Pak Revan untuk datang ke sini ", kata bulan menjelaskan.


" Baik, Anda sudah ditunggu Pak Revan di dalam ", kata satpam sambil membukakan pintu gerbang untuk Bulan.


Bulan masuk dan mengucapkan terimakasih, kemudian berjalan menuju pintu utama rumah. Di sana bulan melihat seorang lelaki tua yang berdiri di pintu, Bulan menghampiri lelaki tersebut.


" Permisi, saya Rembulan, saya ingin menemui Pak Revan", kata bulan sambil tersenyum sopan.


" Baik, ikuti saya ", kata lelaki itu dan mulai berjalan. Bulan mengikuti di belakang. Mereka melewati ruang tamu dan naik menuju lantai dua. Sesampainya di depan sebuah pintu, lelaki itu mengetuk pintu tersebut dan setelah mendengar sahutan dari dalam ia membuka pintu dan meminta bulan masuk. Bulan yang menurut sedari tadi masuk ke dalam sebuah kamar yang entah milik siapa.


" Bagus jam 6 tepat, aku suka yang disiplin dan rajin ", kata Revan yang melihat Bulan masuk ke kamar itu.


Bulan hanya diam dan mencerna apa yang ia lakukan di kamar ini. Ia berdiri kaku di depan pintu sambil melihat Revan yang sedang mengancingkan kemeja putihnya. Revan melihat ke arah bulan yang sedang terpesona, kemudian berjalan mendekati bulan. Bulan reflek mundur, sampai punggungnya membentur pintu. Revan mengambil dasi dan meminta bulan mendekat


" Kemari ", kata Revan

__ADS_1


Bulan ragu-ragu mendekat, Revan mengulurkan dasi yang ia bawa kepada bulan, Bulan yang peka menerima dasi itu dan mulai memakaikan dasi itu di leher Revan. Revan sedikit menundukkan lehernya agar bulan tidak terlalu kesulitan walaupun nyatanya bulan tetap harus berjinjit. Revan merangkul pinggang bulan, bulan membulatkan matanya sambil menatap Revan, bulan berusaha melepaskan tangan Revan dari pinggangnya


" Selesaikan pekerjaanmu atau ini akan lebih lama ", kata Revan dan bulan mendengus sebal, menyelesaikan menyimpul dasi Revan dan melepas tangan Revan di pinggangnya. Revan hanya tersenyum tipis melihat bulan yang menatapnya sebal, dan ia senang melihat hal itu. Tak lama Revan mengambil jas dan tasnya, untuk ia serahkan kepada bulan dan mulai berjalan keluar kamar.


" Apa jadwal saya hari ini ", tanya Revan sambil berjalan menuju pintu keluar.


Bulan mulai membaca jadwal Revan yang sudah diberikan sekretaris Revan kemarin.


Mereka masuk mobil dan bulan duduk di samping Revan setelah sedikit perdebatan tadi sebelum masuk mobil.


Revan sesekali melirik bulan di sampingnya yang fokus menatap jalan.


Mereka sampai di kantor jam 7 kurang. Bulan berjalan di belakang Revan. Mereka naik lift yang membawa ke ruangan Revan di lantai 20. Mereka masuk ke ruangan Revan, dan bulan yang menyadari Revan tidak sarapan berinisiatif membelikan Revan sarapan.


" Maaf pak, bapak terbiasa sarapan apa? ", tanya bulan kepada Revan yang sudah duduk di kursi kebesarannya.


" Ini untuk segala kebutuhan saya dan kamu juga bisa menggunakannya ", kata Revan yang melihat kebingungan bulan.


Bulan menerima kartu itu, dan berlalu menuju kafetaria di bawah.


Di kafetaria bulan membeli 1 toast dengan telur di tengahnya dan 2 cappucino mocca karena ia juga suka. Sambil menunggu pesanannya bulan melihat sekeliling kafetaria yang agak ramai karena banyan yang sarapan di sana. Setelah mendapat pesanannya bulan berjalan keluar kafetaria dan karena bulan menunduk ia tak sengaja menabrak bahu seseorang, " maaf maaf, aku tidak sengaja ", kata bulan kepada orang itu.


" tidak apa-apa kok, tenang aja , santai ", kata orang itu sambil memperhatikan bulan.

__ADS_1


Sekali lagi bulan meminta maaf dan ingin berlalu dari sana, tetapi dicegah orang itu


" eh tunggu, kamu anak baru?, tanya krang itu karena baru melihat bulan untuk pertama kali.


" iya, saya baru bekerja hari ini ", kata bulan tetap menunduk. Tiba-tiba sebuah tangan terjulur di depannya, " Kenalin aku Raline, bagian sekretaris ", kata Raline memperkenalkan diri.


" Rembulan, bisa panggil bulan, bagian asisten CEO ", kata bulan memperkenalkan dirinya sambil tersenyum malu-malu.


" Astaga, asisten CEO, wahh beruntung banget kamu ", kata Raline sambil setengah mengguncang tubuh bulan


" Eh beruntung?, tanya bulan yang tidak paham. " Iya beruntung, bisa melihat CEO setiap hari, kata Raline menambahkan. Bulan hanya tersenyum kemudian pamit kepada Raline untuk kembali karena bosnya sudah menunggu.


Bulan naik lift menuju ruangan Revan dan masuk setelah mengetuk pintu. Bulan meletakkan bawaannya di meja dekat sofa


" Pak sarapan dahulu, kata bulan sambil menatap Revan


Revan berjalan menghampiri bulan yang berdiri di dekat sofa dan mulai makan apa yang bulan bawa. " Itu meja kerja kamu, kamu bisa mengecek apa saja pekerjaan kamu, yang sudah ditaruh di sana oleh Juan ", kata Revan sambil menunjuk meja yang ada di samping mejanya. Bulan mengangguk dan membersihkan sisa makan Revan dan duduk di mejanya. Ia mulai mengerjakan pekerjaan miliknya tanpa tahu bahwa Revan sesekali melihat ke arahnya, " cantik, batin Revan.


" 15 menit lagi bapak ada rapat dengan direktur perusahaan, dan ruangan rapat telah siap, kata bulan setelah melihat ponsel dan sekretaris Juan memberi pesan.


Revan bangkit berdiri diikuti bulan di belakangnya, Juan sudah menunggunya di depan pintu. Mereka berjalan menuju ruang rapat, dan masuk ke dalam. Rapat itu berjalan lancar karena hanya berisi laporan - laporan bulanan perusahaan. Revan hanya memandang tanpa komentar, ia sesekali melirik bulan yang fokus mencatat apa saja isi rapat. Revan mengakhiri rapat karena jam sudah waktunya makan siang. Bulan segera membereskan semua catatan yang ia rangkum tadi dan bergegas mengikuti Revan keluar ruangan. " Anda ingin makan siang dimana pak?, tanya bulan


" Red berli Resto, kata Revan

__ADS_1


" baik saya sudah memberi tahu supir, dan beliau sudah ada di depan, kata bulan


Bulan mengantar Revan sampai lobi, Revan yang merasa bulan tidak lagi berjalan di sampingnya, menoleh " ikut saya, kata Revan yang melihat bulan malah berhenti di samping mobilnya. Mau tak mau bulan masuk ke dalam mobilnya. Selama perjalanan mereka hanya diam. Bulan fokus dengan tab di pangkuannya. Sesampainya di restoran dan mereka masuk ke dalam ruangan privat yang sudah bulan pesan, ketika hendak masuk seseorang memanggil bulan, " Bulan ", bulan menoleh ke samping melihat siapa yang memanggilnya


__ADS_2