
" Bulan", reflek bukan menoleh mencari sumber suara
" Noah ", kata bulan menghampiri lelaki itu dan langsung memeluknya. Melupakan Revan yang bersamanya dan melihatnya dengan pandangan tak suka. Bulan memeluk Noah erat di balas tak kalah eratnya oleh Noah.
" kamu apa kabar ?, tanya Noah setelah melonggarkan pelukannya dan menatap bulan.
" baik aku baik banget malah, kamu juga apa kabar?, tanya bulan balik.
" aku baik juga, kamu kesini sama siapa ?, tanya Noah yang seketika membuat bulan tersadar apa tujuannya kesini.
" oh maaf maaf pak, saya lupa tadi berangkat sama bapak, kata bulan sambil menghampiri Revan kembali. Revan hanya berdehem saja menanggapi perkataan bulan.
" Noah aku pergi dulu ya, soalnya aku kesini sama bos aku, jadi aku pergi dulu ya", kata bulan sambil melambaikan tangan kepada Noah.
" Iya ngga papa, nanti aku telfon, kata Noah. Bulan berjalan diikuti Revan di belakang yang masih senantiasa diam mengamatinya. Mereka masuk ke dalam ruangan bertuliskan nomor 5 yang sudah bulan pesan,
" bapak mau pesan apa?, tanya bulan sambil menyodorkan menu.
" Signature steak dan orange juice, kata Revan sambil menyerahkan menu kepada bulan. Bulan memanggil pelayan dan memesan makanan untuk mereka. Setelah pelayan itu pergi, bulan merasa canggung dengan bosnya yang hanya diam dan ia memilih ikut diam tanpa berani bermain ponsel.
" Siapa tadi, tanya Revan tiba-tiba
__ADS_1
" oh cuman teman pak, kata bulan tergagap menjawab.
" habis ini apa jadwal saya?, tanya Revan memecah keheningan diantara mereka.
" Setelah ini anda hanya akan menandatangani dokumen sampai sore, sudah itu saja, kata bulan sambil mengecek tab yang ada di pangkuannya.
Revan hanya mengangguk, tak lama pesanan mereka sampai. Bulan mengulurkan milik Revan beserta air putih dan orange juice milik bosnya. Revan heran, bergantian menatap air putih itu dan bulan.
" oh air putih itu saya yang pesan, mungkin nanti anda butuh, kata bulan yang melihat keheranan di wajah Revan. Mereka makan dengan tenang sampai selesai. Setelah selesai mereka keluar dan bulan membayar makan mereka menggunakan kartu ATM yang diberikan Revan tadi pagi. Mereka masuk mobil dan kembali ke kantor karena sedari tadi ponsel bulan menyala, ada pesan masuk dari Juan yang meminta mereka segera kembali.
Setelah merapikan penampilan sebentar Revan turun dari mobil diikuti bulan di belakangnya. Di lobi semua mata menatap Revan dan kemudian menunduk hormat menyapa atasan mereka. Revan hanya berlalu begitu saja dengan wajah datar, bulan dibelakang membalas senyuman sapaan itu. Mereka naik lift dan naik menuju lantai 20 tempat ruang kerja Revan berada. Di sana Juan telah menunggu dengan setumpuk dokumen. Juan menyerahkan dokumen itu kepada bulan, bulan menerimanya sambil ikut masuk ke ruangan Revan.
Bulan menaruh dokumen - dokumen itu di mejanya dan memeriksanya satu persatu. Setelah semua dokumen itu selesai ia periksa, bulan berdiri menghampiri Revan di mejanya.
Setelah itu bulan kembali ke mejanya dan mulai mengerjakan laporan rapat tadi yang harus selesai hari ini. Waktu sudah menunjukkan jam setengah 4, bulan kembali mendatangi Revan untuk mengambil dokumen tadi.
" permisi pak, yang ini sudah selesai?, tanya bulan yang dibalas anggukan oleh Revan.
" baik yang ini saya ambil dan saya serahkan kepada sekretaris Juan, dan setelah ini anda bisa pulang karena tidak ada jadwal apa-apa.
Revan kembali mengangguk. Ia berdiri merapikan jasnya kembali dan berjalan keluar.
__ADS_1
" Ayo kita pulang, kata Revan yang sudah di depan pintu kepada bulan
" Eh, anda bisa pulang terlebih dahulu, kata bulan yang masih merapikan mejanya dan membawa dokumen di tangannya.
" Kamu pulang dengan saya tidak ada bantahan ", kata Revan sambil mengsedekapkan tangannya. Bulan yang melihat itu hanya merotasi kan bola matanya ke atas dan mulai mengikuti langkah kaki bosnya. Ia mampir di ruangan sekertaris Juan terlebih dahulu baru mengekor Revan di belakangnya.
Mereka masuk ke dalam mobil Revan.
" Ikut pulang denganku terlebih dahulu, kata Revan dengan nada memerintah. Bulan hanya mengangguk pasrah karena ia sudah capek dan malas berdebat.
" Turun, kata Revan dengan nada perintah yang masih kentara. Bulan hanya mengangguk kemudian turun dari mobil.
" Masuk, ikuti aku, kata Revan lagi. Bulan hanya mengangguk mengikuti Revan menuju kamarnya. Di dalam kamar Revan bulan diminta duduk di sofa dan Revan menghilang entah kemana.
" Baca dan tanda tangani ini, dan tanyakan jika ada yang belum kamu pahami, kata Revan yang entah datang dari mana sambil menyodorkan kertas. Bulan menerima kertas tersebut dan mulai membacanya satu persatu. Ia membelalakkan matanya melihat poin-poin yang ada di kontrak kerja tersebut.
" maaf sebelumnya, begini pertama masa saya harus ke sini jam 6 pagi dan pulang jam 6 juga untuk mengurus anda, kedua saya harus ada di samping anda setiap saat dan itu mustahil, kat bulan sambil menatap Revan. Revan hanya menaikkan alisnya dan berkata " mudah, kamu menginap saja di sini, kata Revan sambil tersenyum santai. Bulan membelalakkan matanya mendengar ucapan Revan. " Hah tidak mungkin, saya juga punya rumah dan anda juga sehat apa-apa tidak harus dibantu kan, kata bulan agak geregetan.
" Tidak ada bantahan mulai sekarang kamu tinggal di sini, kata Revan mutlak. Bulan ingin menyahut tapi Revan dengan cepat mengecup bibirnya, hanya kecupan dan itu mampu membuat bulan terdiam.
***
__ADS_1
Sepanjang perjalanan menuju rumahnya untuk mengambil baju dan perlengkapan miliknya, bulan hanya melamun mencerna apa yang baru saja Revan lakukan. Setelah mengecup singkat bibirnya Revan pergi menuju kamar mandi dan meminta bulan pulang untuk mengambil barang-barangnya. Bulan dengan bodohnya hanya melongo tidak melakukan apapun dan sekarang ia manut saja apa yang di perintah Revan.
Sesampainya di rumahnya, Bulan mengumpat, " Revan bajingan, kata bulan mencak-mencak sendiri, " apa ku batalkan saja kontrak kerja ini, kata bulan ber monolog. " tapi dari mana ia mendapat uang untuk membayar pinalti, bulan kembali mengacak rambutnya frustasi. Ia membereskan barang-barangnya dengan cepat dan kembali ke rumah Revan, walaupun dengan setengah hati dan merasa terpaksa.