
Pagi ini mereka berangkat lebih siang, setelah drama pagi hari yang penuh keajaiban. Mobil Revan sampai di depan pintu utama kantornya, ia turun dari mobil diikuti bulan. Menyerahkan kunci kepada sopir kantor yang berdiri dengan sigap di samping mobil. Revan berjalan masuk menuju kantornya, melewati lobi yang ramai orang. Para pegawai menyapa Revan dengan hormat, pegawai wanita langsung seketika banyak yang cari muka agar dilirik CEO mereka, sayangnya sang CEO hanya memasang wajah datar dan hanya asistennya yang menjawab semua sapaan itu. Mereka naik lift menuju ruangan Revan.
" Lak saya izin ke ruangan pak Juan terlebih dahulu ", kata bulan ketika mereka sudah berada di lantai 20 dan berjalan menuju ruangan Revan. Revan hanya mengangguk dan berjalan lurus menuju ruangan miliknya.
tok tok tok " Permisi ", kata bulan sambil mengetuk ruangan milik Juan.
" masuk ", sahut suara dari dalam. Bulan mendorong pintu itu dan masuk ke dalam ruangan. Ia berjalan mendekati meja Juan dan duduk di kursi berseberangan dengan Juan setelah dipersilahkan.
" Apa kabarmu, apakah betah bekerja menjadi asistennya tuan Revan?", tanya Juan setelah bulan duduk.
" Kabar saya baik, sejauh ini belum ada pak dan semuanya masih dalam kondisi normal dan baik-baik saja ", kata bulan sambil tersenyum manis.
" Kukira kamu akan mengalami banyak kesulitan setelah menjadi asisten bos kita, mengingat bos kita orangnya agak unik ", kata Juan memakai bahasa non formal.
" sejauh ini tidak menyusahkan dan permintaannya masih normal-normal saja ", kata bulan sambil sedikit terkekeh pelan.
" Baik untuk jadwal Revan sudah ku kirim ke email tab mu dan aku minta tolong kepadamu untuk menanganinya. Karena ia sering kali mengacak-acak jadwal yang ku susun dengan susah payah ", kata Juan yang berkeluh kesah.
" Iya akan ku pastikan ia tidak membuat masalah dan kamu tidak perlu menyusun ulang jadwal ini ", kata bulan sambil menggoyangkan tab yang ada di tangan.
" Kalau tidak ada lagi aku akan kembali ke ruangannya, takut ia mengamuk ", kata bulan bercanda.
" Kembalilah, keburu ia menjadi singa nanti ", kata Juan menimpali. Juan berdiri dan mengulurkan tangan
" Selamat datang di perusahaan dan mohon bantuannya ", kata Juan
" Terimakasih dan mohon bantuannya juga semoga bos kita tidak banyak mengamuk nantinya ", kata bulan sambil sedikit tertawa. Juan ikut terkekeh. " Aku pergi dulu ", kata bulan sambil berjalan menuju pintu lalu keluar sambil tersenyum ke arah Juan.
Bulan masuk ke ruangan Revan karena mejanya di sana. Revan hanya melihat bulan sekilas yang masuk dan kembali menunduk memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di depannya.
" Jadwal anda pagi ini kosong hanya memeriksa dan menandatangani dokumen yang sudah saya pisahkan kemarin. Siang nanti jam setengah 1 anda ada makan siang dengan GA company di salirian Resto, dilanjut menandatangani kontrak dan sorenya anda harus sudah di perusahaan karena ada pertemuan dengan manajer perusahaan cabang Setelah itu anda kosong ", kata bulan sambil mengalihkan perhatian dari tab nya.
__ADS_1
Revan hanya mengangguk-angguk, " Apakah kamu ikut ", kata Revan random.
" Tidak, saya harus menyelesaikan berkas-berkas di depan anda dan menyerahkannya ke sekretariat setiap divisi ", kata bulan sambil menggeleng. Revan hanya mendesah dan membiarkan bulan duduk di kursinya. Mereka mulai mengerjakan pekerjaan masing-masing dalam diam sesekali bulan menghampiri Revan mengecek apakah berkas-berkas itu sesuai atau tidak.
Jam menunjukkan jam 12 siang, bulan bangkit menghampiri Revan.
" Pak anda bisa pergi sekarang karena sudah jam 12 ", kata bulan memberi tahu Revan. Revan berdiri dengan ogah ogahan menghampiri bulan.
" Rapikan penampilanku ", kata Revan yang sudah berdiri di depan bulan. Bulan membenarkan letak dasi, kemeja Revan yang sedikit kusut serta jasnya yang kurang rapi.
" Sudah, sana berangkat", kata bulan menepuk dada Revan pelan.
" Kamu bisa menggunakan kartu yang ku berikan untuk membeli makan siang dan jangan lupa makan, terserah mau makan di mana ", kata Revan kemudian berlalu setelah melihat anggukan Revan. Setelah Revan keluar ruangan, bulan merapikan penampilan dan mengambil dompet serta ponsel keluar menuju kantin kantor.
Bulan celinguk ke sana kemari melihat apakah ada yang ia kenal apa tidak sambil membawa nampan berisi makanan pesanannya.
" Bulan ", teriak seseorang sambil melambaikan tangannya ke arah bulan. Bulan menghampiri orang itu dan duduk di depannya.
" Aku baik, kamu gimana?, sibuk banget kayake. Dari kemarin ku lihat kau tidak keluar ruangan. Sedang cuci mata ya??, atau membuat kesempatan lebih baik ", kata Raline sambil menggoda bulan.
" Mana ada, kemarin aku di ospek. Ngerjain banyak banget padahal baru masuk juga ", kata bulan menggerutu sambil makan.
" Makanya kulihat tidak keluar ruangan kutunggu juga ngga keluar - keluar ", kata Raline sambil menyuap makanannya.
" Emang ada apa?", tanya bulan
" Ngga ada apa-apa sih, cuma kita kan bisa pulang bareng atau keluar cuci mata ", kata Raline sambil nyengir. Mereka makan sambil mengobrol ke sana kemari membahas apapun yang ada di kepala. Tak lama makanan mereka habis mereka berjalan menuju lift dengan menenteng kopi di tangan sambil sesekali bercanda.
" Sana ke ruanganmu dulu, nanti aku main ke divisi mu", kata bulan sambil melambaikan tangan kepada Raline yang keluar lebih dulu dari lift. Bulan melanjutkan naik ke lantai 20 dan masuk ke ruangan Revan. Ia menyalakan musik agar ruangan itu tidak terlalu sepi. Setelah mengecek berkas yang revan tanda tangani bulan keluar menuju divisi-divisi untuk menyerahkan berkas itu.
" Permisi ", kata bulan di depan ruangan Raline.
__ADS_1
" Masuk " Bulan masuk setelah di minta masuk.
" Hai ", kata bulan kepada Raline.
" Wah tumben, ibu asisten Dateng ke ruangan saya. Saya merasa terhormat " kata Raline bercanda.
" Ada ada aja " kata bulan sambil duduk di depan Raline.
" Nih berkas yang udah ditanda tangani pak Revan ", kata bulan menyerahkan dokumen yang ia bawa.
" Wah, akhirnya dokumen yang ditunggu datang juga. Tapi kok tumben kamu yang antar bukan OB? ", kata Raline keheranan.
" Ngga papa, aku gabut aja. Males di ruangan. Kerjaan ku juga udah selesai ", kata bulan sambil mengangkat kedua bahunya.
Bulan di sana cukup lama membahas apa saja sambil menunggui Raline bekerja.
" Astaga, aku ada rapat habis ini, aku pergi dulu ", kata bulan setelah melihat jam tangannya. Ia pamit kepada Raline dan keluar ruangan kembali ke ruangannya.
Bulan mempersiapkan berkas berkas yang akan ia bawa untuk rapat.
" Turun sekarang ", kata Revan melalui telepon kantor.
" Baik pak ", kata bulan sambil menutup telepon dan berjalan keluar menuju ruang rapat. Di ruangan itu sudah menunggu Revan dan beberapa orang. Ia masuk dengan sopan dan duduk di samping Revan. Juan mulai membuka rapat dan para manajer bergantian presentasi menyampaikan pencapaian dan target yang sudah di capai. Bulan hanya mengangguk angguk sambil mencatat isi rapat. Rapat selesai pukul 16.00, mereka membubarkan diri setelah rapat di tutup. Bulan meluruskan lehernya yang pegal.
" Ayo pulang", kata Revan
" Okey, ambil tas dulu ", kata bulan sambil berdiri. Kantor sudah agak sepi ketika mereka keluar ruangan menuju lift untuk mengambil tas. Mereka mengambil tas dan turun lagi setelah memastikan tidak ada yang tertinggal. Mereka masuk mobil dengan Juan yang menyetir dan bulan duduk di sampingnya. Sementara Revan, jelas.. duduk di belakang. Mobil melaju dengan tidak lancar, mereka terkena macet.
" Mampir ke restoran untuk makan malam dulu ", kata Revan yang di angguki Juan. Mereka berhenti di vlerei cafe untuk makan. Setelah makan mereka pulang. Sesampainya di mansion bulan dan Revan menuju kamar masing-masing.
" Selamat malam ", kata Revan kepada bulan di depan pintu kamarnya.
__ADS_1
" Malam ", balas bulan sambil masuk ke kamarnya. Bulan melepas pakaian yang melekat di tubuhnya menuju kamar mandi. Ia mandi dan berganti pakaian lalu merebahkan diri di kasurnya dan tak lama ia pun terlelap.