Bulan Itu Menelan Malam Dan Mimpiku

Bulan Itu Menelan Malam Dan Mimpiku
Tampan


__ADS_3

Besok adalah weekend, bulan ingin menghabiskan waktunya untuk rebahan dan tidur tiduran seharian di kasur tanpa memikirkan pekerjaan. Mengingat itu bulan semakin ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya. Iya, bulan sekarang berada di ruangan miliknya, milik Revan sih sebenarnya. Bulan menyelesaikan laporan-laporan yang harus segera naik dan ditanda tangani. Mengecek berkas dari para sekretaris divisi sedangkan Revan, jelas rapat dengan berbagai orang. Sebenarnya bulan diajak, tetapi karena ia banyak pekerjaan jadi memilih tinggal di kantor.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah 6, bulan segera merapikan mejanya dan buru-buru keluar ruangan. Bulan masuk lift menuju lantai bawah. Kantor ini menurutnya menyeramkan jika tidak ada orang seperti ini. Bulan buru-buru berjalan menuju pintu keluar.


" Dari mana saja kamu ?, kenapa baru keluar", kata sebuah suara mengejutkan bulan yang baru melewati pintu keluar. Bulan melotot menatap Revan yang bersandar mobil dengan tangan bersedekap di dada seolah olah menunggunya. Bulan segera menghampiri Revan dan langsung menyeretnya masuk mobil.


" apa yang kamu lakukan ?", tanya bulan setelah mereka di dalam mobil.

__ADS_1


" Menjemputmu", balas Revan sambil mengangkat kedua bahunya.


" Astaga haruskah kamu menunggu di depan pintu langsung. Harusnya kamu nunggu di depan aja, jangan di depan kantor. Nanti banyak orang yang salah paham sama kita Revan ", kata bulan sedikit geregetan.


" Salah paham gimana? ", tanya Revan sambil menjalankan mobilnya meninggalkan area kantor.


" Maksudku, mereka nanti ngira kita punya hubungan, sampai membuat CEO menjemput ku segala Revan ", kata bulan sambil mengacak rambutnya frustasi.

__ADS_1


" Ya ngga gitu juga. Kamu mah enak CEO jabatan tinggi, ngga bakal ada yang berani sama kamu. Apalah daya aku yang cuma asisten mu, banyak yang ngga suka sama aku", kata bulan dengan ekspresi melas.


" Biarin aja toh kamu ngga makan dari duit mereka. Kamu juga aku yang gaji. ngga usah dipikir. Gitu aja ribet ", kata Revan. Bulan hanya mendengus dan membuang muka ke arah jendela, seperti merajuk. Revan yang melihatnya hanya tersenyum dan fokus menyetir. Tak lama mereka sampai di halaman depan mansion milik Revan. Setelah meminta sopir untuk memasukkan mobilnya ke garasi, Revan menggandeng tangan bulan masuk ke dalam rumah. Bulan yang salah fokus malah melihat ke arah tangannya yang digandeng Revan. Mereka masuk ke dalam rumah dan menuju kamar. Tak lama mereka pun langsung tidur di kamar masing-masing.


***


Jam 2 pagi, bulan terbangun karena tenggorokannya kering. Semalam selesai makan, ia lupa membawa minum ke atas. Bulan bangun dan menuju dapur untuk mengambil air. Setelah minum dan mengambil air minum, bulan kembali naik ke lantai atas. Tak sengaja ia mendengar suara rintihan dari kamar Revan. Bulan yang curiga mendorong pintu kamar Revan dan masuk. Ia berjalan perlahan mendekati ranjang, Bulan melihat Revan yang tidurnya gelisah dan mendekat kemudian duduk di ranjang samping Revan.

__ADS_1


" Astaga, kok panas ", kata bulan mengulurkan tangan menyentuh kening Revan. Bulan meletakkan gelas miliknya dan keluar kamar menuju dapur untuk mengambil air dingin dan handuk. Setelah mendapat apa yang ia cari, bulan kembali ke kamar Revan. Bulan mengompres kening Revan dengan kompres air dingin. Bulan menempelkan handuk yang sudah ia celupkan ke dalam baskom dan menaruh ya di kening Revan. Bulan melakukan itu berulang kali. Bulan menyentuh kening Revan sekali lagi dan memastikan sudah agak hangat. Ketika bulan hendak berdiri, tangannya di tahan Revan dan membuat bulan terduduk kembali. Bulan mencoba melepas tangannya tetapi tidak bisa. Bulan menyerah, ia memilih duduk sambil mengamati wajah Revan " tampan ", batin bulan sambil tersenyum. Tak lama bulan ikut mengantuk dan tak sadar menjatuhkan setengah tubuhnya di atas tubuh Revan.


***


__ADS_2