Bulan Itu Menelan Malam Dan Mimpiku

Bulan Itu Menelan Malam Dan Mimpiku
Jangan sampai Revan unboxing menantu mama dulu baru nikah


__ADS_3

" Evannnnnn ", teriakan bernada tinggi itu berasal dari lantai dasar. Pagi yang seharusnya hening dan tenang, menjadi seperti terkena badai, semrawut. Sedangkan yang punya nama masih tidur sambil memeluk gadisnya.


" Dimana anak itu, jam segini apa belum bangun ", kata wanita itu sambil berfikir. Padahal matahari sudah tinggi. Wanita itu bergegas menaiki anak tangga menuju kamar revan. Sedangkan laki-laki yang mengikuti di belakangnya hanya geleng-geleng melihat tingkah wanita itu.


Brakk, bunyi pintu membentur tembok, seketika Revan terperanjat bangun dan bulan, tentu saja masih tidur. Bulan menyamankan posisinya sambil memeluk perut Revan.


" Evan ", kata wanita itu sambil masuk ke dalam kamar.


" Mama ", kata Revan terkejut melihat ibunya masuk ke dalam kamarnya. Ketika ibunya hendak membuka mulut untuk memarahinya, Revan meletakkan telunjuknya di bibir agar ibunya pelan atau diam dulu. Ibunya melotot melihat putranya tidur berpelukan dengan gadis pagi-pagi.


" Ikut mama ", kata ibunya tanpa suara, dan berlalu keluar dari kamar. Revan menghela nafas dan melepas pelukan bulan dengan hati-hati agar bulan tidak bangun. Ia menggantinya dengan guling. Setelah memastikan bulan tidur kembali. Ia beranjak menuju kamar mandi. Selesai urusannya ia langsung turun ke bawah menemui ibunya di ruang keluarga.


" Siapa gadis tadi ?", tanya ibunya ketika melihat Revan masuk dari pintu.


" Gadis mana mah ?", tanya laki-laki yang duduk di samping ibunya. Karena tadi ia melihat istrinya turun dengan wajah bersungut-sungut dan mata memandang tajam membuat ia urung bertanya.


" Jawab Evan dia siapa! ", kata mama Revan dengan mata melotot.


" Dia bulan, asisten pribadi sekaligus kekasihku ", kata Revan dengan tenang dan duduk di sofa berhadapan dengan orang tuanya. Ia seenaknya mengklaim bahwa bulan kekasihnya.


" Kok dia bisa tidur sama kamu, kamu paksa pasti kan, kamu ancem anak orang", kata mama Revan sambil memicingkan matanya menatap Revan.


" Enggak kok ma, enggak salah ", kata Revan sambil nyengir menatap mamanya.


" Astaga pah, anakmu, siapa yang ngajarin. Keturunan siapa kayak gini, astaga", kata mama Revan sambil memijit pelan pelipisnya.


" Kok jadi anak papa sih mah ", kata papa Revan tidak terima.


" Loh emang anak papa kan ", kata istrinya sambil melotot ke arah suaminya.


" CK, iya-iya anak papa ", kata sang suami mengiyakan agar ia tidak berdebat pagi-pagi. Revan hanya merotasikan mata melihat mamanya yang pagi-pagi sudah drama menurutnya.


*****


Bulan membuka matanya. Ia tidak melihat Revan disampingnya.


" Kemana anak itu ", batin bulan sambil meregangkan otot tubuhnya. Bulan beranjak bangun, membuka jendela dan masuk ke kamar mandi. Bulan menggosok gigi dan cuci muka. Setelah selesai, bulan menuruni tangga sambil mencepol rambut miliknya. Bulan berjalan menuju dapur, tapi ia berbelok menuju ruang keluarga dimana ia melihat Revan duduk sendirian.


" Kamu udah sembuh ?", tanya bulan sambil berjalan mendekat. Bulan tidak tahu bahwa ada orang tua Revan di hadapan Revan.


" Udah, coba kamu cek ", kata Revan menarik bulan untuk duduk di pangkuannya. Mamanya melotot melihat hal itu, dan papanya tercengang melihat kelakuan anaknya.


" udah nggak panas, berarti udah sembuh. Mau sarapan apa ?", kata bulan menempelkan tangannya di kening Revan sambil mengangguk angguk. Ia duduk dengan tenang di pangkuan Revan.


" ehem ", kata suara di belakang punggung bulan.

__ADS_1


" Eh ", bulan menengok ke belakang. Ia terkejut melihat ada orang di dalam ruangan ini. Bulan langsung melompat turun dari pangkuan Revan dan berdiri dengan wajah pucat di samping Revan. Ia malu dan gugup sekaligus sekarang.


" Duduk sini ", kata Revan menarik bulan agar duduk di sampingnya. Bulan yang agak linglung hanya pasrah ketika dituntun duduk. Bulan meremas ujung kaosnya karena gugup.


" Saya Evelyn, mama Evan dan ini Dominic papa evan. kamu siapanya ", kata mama Revan menatap bulan dari ujung kaki. Suaminya menyenggol kaki istrinya memperingatkan.


" Stt, biarin bentar. Mama mau tes ", kata sang istri kepada suaminya. Suaminya hanya menghela nafas pasrah atas tingkah istrinya.


" Saya bulan Tante, asisten pribadi pak Revan ", kata bulan sambil mencoba mengangkat mukanya, tetapi menunduk lagi ketika melihat mama Revan menatap nya dengan agak tajam.


" Kamu tidur disini?", tanya mama Revan lagi.


" Iya Tante ", kata bulan tetap menunduk.


" Satu kamar ", kata mama Revan sambil memicingkan matanya.


" Eh ", bulan makin gugup ditanya seperti itu. Ia menatap Revan meminta bantuan. Revan yang peka akhirnya membantu.


" Mama apaan sih. Mama juga udah liat tadi kan ", kata Revan sambil menggenggam tangan bulan. Bulan melotot kepada Revan. Kemudian ia menunduk karena malu terciduk tidur dengan Revan.


Mama Revan bangkit menghampiri bulan, kemudian duduk di samping bulan setelah mengusir Revan agar pindah.


" Bulan, kamu di apa apain sama evan ya?, kamu di ancam?, kalau iya bilang mama nanti biar mama kasih pelajaran anak itu ", kata mama Revan lembut sambil memegang tangan bulan.


" Mama apa apaan sih. Mana ada evan gitu ", kata revan protes kepada mamanya.


" Bener ? ", tanya mama pak Revan lagi sambil memegang satu sisi wajah bulan.


" Iya bener Tante ", kata bulan berusaha tetap menghindar.


" Jangan bohong sama mama. Mama tau kamu pasti diancam sama anak nakal itu ", kata mama Revan lagi. bulan yang ditatap intens semakin gugup.


" Sedikit Tante ", kata bulan akhirnya.


" Nah bener kan, apa mama tebak. Evan sini kamu ", kata mama Revan sambil menatap ke arah Revan.


" Ngga mau, pah tolongin Evan dari singa ", kata Revan berlari menuju belakang punggung papanya.


" Astaga ini anak ", kata mamanya sambil memijit pelipisnya.


" Tenang sayang, kamu ikut mama aja. Biar Evan sendiri " kata mama Revan menatap lembut ke arah bulan.


" Ngga bisa gitu. Bulan ikut Evan mah, pokoknya sama evan ", kata Revan menyela sebelum bulan menjawab. Bulan bingung harus menjawab apa. Ia menatap Revan dan mamanya bergantian.


" Saya ikut pak Revan aja Tante ", kata bulan pelan. Revan yang mendengar itu langsung menampilkan senyum lebar miliknya. Mamanya hanya menghela nafas sambil berkata

__ADS_1


" Mulai sekarang panggil mama dan kalau Evan macam-macam bilang mama, okey ", kata mama Revan kepada bulan sambil menggenggam tangan bulan.


" I...iya ma ", kata bulan.


" bagus, Evan sekarang minta bi Hani masak, kita sarapan ", kata mama Revan sambil menatap Revan. " Biar bulan aja yang masak ma ", kata bulan menatap evelyn, mama Revan.


" Ngga usah biar bibi aja, mending kamu mandi ", kata mama Revan. Bulan hanya mengangguk saja.


" Evan cepetan sana ", kata mama Revan melotot. Sambil mengerutu Revan berdiri mencari bi Hani.


" Ma, bulan izin ke atas, mau mandi dulu ", kata bulan. Setelah mendapat anggukan dari mama Revan bulan beranjak naik ke lantai atas kamarnya.


" Kita harus cepat cepat menikahkan mereka pa, mama udah nggak sabar mau punya cucu dan cucu kita lahir dari pernikahan yang sah. Jangan sampai Revan unboxing menantu mama dulu baru nikah ", kata Evelyn sambil duduk di samping suaminya.


" Boleh nanti kita bicara duku sama evan baru ambil keputusan ", kata Dominic sambil memeluk pinggang istrinya.


*****


Bulan menaiki tangga menuju kamarnya, namun ketika hendak membuka pintu tiba tiba Revan menariknya masuk ke dalam kamarnya.


" Apa apaan sih kamu ", kata bulan setelah mereka di dalam kamar Revan.


" Waktunya hukumanmu sayang ", kata Revan sambil menyeringai.


Bulan meneguk ludahnya sendiri, ia berjalan mundur sampai punggungnya membentur pintu.


" Hukuman?, hukuman apa ?", tanya bulan sambil menatap Revan yang berjalan ke arahnya.


" Kamu tadi di depan mama memanggilku pak kan, dan aku sudah bilang setiap kali kamu memanggilku pak tanpa ada embel-embel pekerjaan aku akan memghukummu ", kata Revan mengungkung bulan di pintu agar bulan tidak lari. Bulan meneguk ludahnya sendiri. Revan menempelkan dada mereka. Revan mencium bibir bulan sebelum bulan protes. Tangannya berada di tengkuk bulan untuk memperdalam ciuman mereka. Bulan memberontak, ia memukul dada Revan agar melepaskan ciumannya. Revan menarik tangan bulan ke atas kepala dan kembali mencium bibir bulan dengan bringas.


" Evannnnn, buka pintunya", kata sebuah suara. Bulan berusaha melepaskan ciuman mereka tetapi Revan tidak peduli tetap ******* bibir Revan dan ciumannya turun ke leher bulan menghisapnya pelan. Meninggalkan bekas merah disana.


" Evan buka pintu ", bulan semakin panik.


" erhh, Revan udah ada mama kamu ", kata bulan berusaha menjauhkan Revan dari lehernya.


" CK, mama ganggu aja ", kata Revan menjauh dari leher bulan dengan tidak rela. Bulan menghela nafas lega kemudian berlari menuju kamar mandi di kamar Revan. Sedangkan Revan, ia membuka pintu kamarnya.


" Ada apa ma?", tanya Revan jutek.


" Enggak ada apa-apa, cuman ngingetin satu jam lagi kita sarapan dan kamu harus udah turun. Mama sama papa mau nyantai duku di belakang", kata mama Revan kemudian berlalu dari depan kamar Revan.


" CK, mama ganggu aja. Bulan udah kabur lagi ", kata Revan mencak-mencak. Sedangkan bulan di kamar mandi merasa selamat. bulan mulai mandi dengan tenang. Selesai mandi bulan bingung harus keluar pakai apa. Bajunya sudah basah terkena cipratan air tadi.


" Mampus aku, keluar pakai apa ini. Masak cuman pakai handuk ", kata bulan sambil menggigit kukunya. Bulan berjalan mondar mandir di dalam kamar mandi. Tak lama pintu kamar mandi diketuk dari luar.

__ADS_1


" Bulan kamu udah selesai ", tanya Revan dari luar.


" Mampus, gimana ini ", kata bulan semakin panik.


__ADS_2