
" Mampus, gimana ini ", kata bulan semakin panik.
Bulan mondar mandir di kamar mandi hanya memakai handuk yang menutupi dada sampai setengah pahanya saja. Ia menggigit kukunya sebagai pelampiasan cemas. Jujur ia gugup.
Tok tok tok " Bulan kamu udah selesai kan?, kamu ngga papa?, Are you okey ?", tanya Revan dari balik pintu karena tidak mendengar suara gemericik dari dalam kamar mandi.
" I'm okey. Tapi, Revan boleh minta tolong ", kata bulan membuka sedikit pintunya hingga hanya kepalanya yang terlihat.
" Apa ", tanya Revan sambil mengernyitkan dahinya karena bulan hanya menampakkan kepalanya saja.
" Itu ehmmm, aku enggak bawa baju ganti. Bisa minta tolong ambilin bajuku nggak ?", tanya bulan memohon dari depan pintu.
" Keluar gitu aja. Ngga papa, ngga ada yang liat juga ", kata Revan sambil senyum senyum.
" Ngga mau, bisa bahaya nanti ", kata bulan mengerucutkan bibirnya.
" Ngga akan, keluar aja coba ", kata Revan berusaha meyakinkan bulan. Bulan yang ragu-ragu akhirnya membuka pintu kamar mandi dan keluar. Revan meneguk ludahnya melihat pemandangan di depannya. Bahu telanjang, handuk sampai setengah paha dan dada yang tidak tertutup sempurna. Mata Revan menggelap melihat hal itu. Bulan yang melihat sinyal bahaya, segera berlari menuju walk in closet Revan. Tapi sebelum tangannya menyentuh handel pintu, Revan lebih dulu memeluk pinggangnya.
" Revan, lepasin", kata bulan berusaha melepas tangan Revan dari pinggangnya.
" Kamu menggodaku kan ", kata Revan sambil mengecup pelan area tengkuk dan bahu bulan.
" Mana ada, tadi yang minta aku keluar pakai handuk aja siapa coba ?", kata bulan sebal dan tetap berusaha lepas dari tangan revan. Tangan Revan mulai menjelajah naik menuju dada bulan yang hanya terbalut handuk.
" Kau membuatku semakin berselera bulan ", kata Revan sambil bibirnya mengecup dan memberi tanda di sekitaran tengkuk bulan. Bulan berusaha memberontak, tetapi usahanya kalah dengan nafsu Revan. Revan mengangkat bulan menuju ranjang di kamarnya. Membaringkan bulan dan menindih tubuh bulan. Revan ******* bibir bulan dengan rakus, seakan besok sudah tidak ada hari lagi. Bulan memukul dada Revan tanda ia tidak bisa bernafas.
" Hah ..... hah ....hah .....reva udah... yahhh..., lepasin...", kata bulan berusaha menjauhkan kepala Revan dari lehernya. Tetapi usahanya sia sia.
Ciuman Revan turun ke leher kemudian dadanya. Revan menatap lapar dada bulan. Ia menyerang dada bulan, menghisap satu dan satunya ia remas.
" Ah.... Revan..hhh, udah.... lepashin...", kata bulan sambil mendesah.
toktoktok " Evannnnn, udah belum ", kata mamanya sambil mengetuk pintu dengan brutal. Revan berjengit kaget, bulan langsung menutup tubuhnya dengan selimut. Bulan menggulung tubuhnya dengan selimut seketika.
" Bentar ma ", kata Revan berteriak sambil kembali mengungkung bulan.
" Revan, lepasin ada mama kamu di depan ", kata bulan sambil mempertahankan selimut untuk tetap menutup tubuhnya.
" Kita lanjutin aja yah ", kat Revan sambil mengecup leher bulan.
" Ah Revan ada mamah di depan...", kata bulan berusaha menjauhkan lehernya dari Revan.
__ADS_1
" Evan cepetan", tok tok tok, kata mamanya mengetuk pintu kembali.
" CK, iya ma, iya tunggu bentar 10 menit ", kata Revan beranjak berdiri. Bulan langsung menghela nafas lega.
" Kamu pakai baju di lemari aku aja, ada baju kamu di situ kayake, aku mandi ", kata Revan mengecup kening bulan kemudian berdiri dan masuk ke kamar mandi. Bulan kembali masuk ke walk in closet memakai bajunya. Bulan menyiapkan baju Revan kemudian keluar kamar, bergegas menuju ruang makan.
****
" Kenapa mukanya lecek gitu ?", tanya Evelyn, mama Revan.
" Ngga papa", balas Revan jutek. Bulan yang melihatnya hanya nyengir kuda.
" Beneran ngga papa, kok mama ragu ya ", kata mamanya menyelidik. Revan hanya diam kemudian duduk di samping bulan. Bulan mengambilkan nasi dan lauk pauk ke piring revan dan Bru mengambil makan untuk dirinya sendiri. Evelyn yang melihat itu tersenyum senang.
" Eh van, kamu tadi ngapain di kamar lama-lama?", tanya Evelyn memecah hening.
uhuk uhuk, bulan seketika batuk. Revan mengulurkan minum miliknya. Bulan minum dengan cepat dari gelas revan.
" kamu ngga papa sayang?", tanya mama Revan khawatir.
" Aku ngga papa kok ma ", kata bulan setelah batuknya reda.
" Oh iya kamu belum jawab pertanyaan mama ", kata Evelyn kepada Revan.
" Masak anak laki mandinya sejam ", tanya mamanya sambil memicingkan matanya.
" Iya ma, sambil perawatan dibantu bulan, iya kan sayang", kata Revan sambil tersenyum menggoda ke arah bulan.
" Enggak ada, mana ada ", kata bulan menyangkal tetapi pipinya merah.
" Kamu jangan apa apain anak mama Van. Jangan kamu unboxing juga, belum boleh " kata mama Revan memperingati Revan.
" Anak mama Revan apa bulan sih?. Harusnya mama takut Revan si apa apain bulan gitu ", kata revan menggerutu. Bulan menendang kaki Revan di bawah meja.
" Mana ada bulan apa apain kamu. Kamu lah yang apa apain bulan. Kamu kan nafsuan, mau aja bawaannya ", kata Evelyn kepada anaknya santai sambil meneruskan makan.
" udah udah ngga usah ribut mending habiskan makan kalian ", kata Dominic sebelum Revan menjawab, atau istrinya memberondong pertanyaan yang lebih banyak dan bulan semakin malu.
*****
Bulan duduk di lantai beralaskan karpet bulu tebal sambil menonton tv yang menampilkan drama Korea. Revan duduk di samping bulan sambil memangku laptop melanjutkan pekerjaan yang kemarin belum selesai. Sesekali bulan mengambil Snack dari toples di pangkuannya menyuapkan ke dalam mulutnya maupun mulut Revan. Orang tua Revan sudah pulang sehabis makan siang tadi karena mereka ada acara.
__ADS_1
" Lan ", panggil Revan sambil menutup laptopnya.
" Hmm ", sahut bulan tanpa mengalihkan perhatian dari tv di depannya.
" Lan ", panggil Revan sekali lagi.
" Apa sih vannn ", kata bulan tetap tanpa menoleh.
" Barang kamu aku pindah ke kamar aku ya, kita tidur sekamar mulai sekarang", pinta Revan sambil menatap bulan yang sibuk nyemil dan matanya fokus nonton.
" Hmmm, iya-iya terserah kamu ", kata bulan tidak mendengar apa yang Revan katakan. Karena fokusnya di tv bukan mendengarkan Revan.
Revan tersenyum lebar, kemudian bangkit ke luar meminta pelayan memindahkan barang-barang bulan ke kamarnya. Selesai memberi perintah ia kembali duduk di samping bulan. Bulan tidak peduli.
Revan merebahkan kepalanya di paha bulan dan meletakkan tangan bulan di kepalanya. Bulan hanya melihat sekilas kemudian tetap melanjutkan menonton. Revan membenamkan kepalanya di perut ramping bulan dengan sesekali bulan mengelus kepalanya pelan. Tak lama ia pun tertidur.
*****
Bulan meregangkan otot tubuhnya, ia menggeliat guna melemaskan otot miliknya yang agak pegal karena duduk terlalu lama. Ia melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah 5.
" Van, bangun udah sore ", kata bulan sambil menepuk pelan pipi Revan. Perlahan Revan membuka matanya, pemandangan pertama yang ia lihat, sepasang mata coklat terang milik bulan yang begitu indah menurutnya. Revan mengecup bibir bulan sekilas kemudian bangkit.
" Jam berapa sekarang?", tanya Revan sambil bangkit berdiri.
" Jam setengah 5 ", kata bulan menepuk pahanya yang seperti mati rasa.
" Ada apa ?", tanya Revan ketika melihat bulan hanya menepuk nepuk pahanya.
" Kakiku mati rasa kayaknya", kata bulan mencoba menggerakkan kakinya tapi tidak bisa.
" Eh ehhhh, kamu ngapain?", tanya bulan ketika merasakan tubuhnya melayang.
" Gendong kamu ", kata Revan dengan enteng sambil berjalan menuju kamarnya dengan bulan di gendongan.
" Aku minta maaf gara-gara aku paha kamu mati rasa ", kata Revan setelah mendudukkan bulan di kasur dalam kamarnya.
" It's okey, ngga papa. Tapi kenapa aku kamu bawa ke kamar kamu ?", kata bulan kebingungan ketika masuk kamar. Ia mengira Revan akan membawanya ke kamarnya ternyata ia salah.
" Ini bukan kamar aku. Tapi kamar kita ", kata Revan sambil tersenyum manis.
" Ohhhh, kamar kita ", kata bulan manggut manggut.
__ADS_1
" Hah?, kamar kita ?", teriak bulan karena batu paham ucapan Revan.