
Sinar matahari menerobos masuk ke dalam sebuah kamar, terlihat sepasang anak manusia tengah tidur bersama. Terlihat si perempuan menduselkan wajahnya ke dada si laki-laki.
" Aish, tolong tutup tirainya, silau ", kata bulan bergumam, ia merasa terganggu tidurnya. Bulan menyamankan posisi dengan kepala mendusel di perpotongan leher Revan dan kembali tidur. Revan yang sudah bangun sejak tadi hanya menatap bulan dan mengangkat tangannya untuk menghalau sinar matahari. Sebenarnya Revan sudah bangun dari jam 5 dan ia bingung kenapa ada handuk di keningnya. Ia lebih terkejut lagi dengan adanya bulan yang tidur di samping sambil memeluknya.
Revan hanya mengamati wajah tidur bulan sedari tadi, ia ingin menyentuh wajah itu sedari tadi tetapi ia menahan keinginannya agar bulan tidak terbangun. " Cantik ", batin Revan sambil menatap bulan yang menyamankan posisi dengan memeluknya. Revan baru kali ini tidur dan bangun-bangun ada wanita di sampingnya dan menurutnya ini menyenangkan. Perlahan tangannya mengelus pipi mulus bulan dan merapikan rambut-rambut kecil yang ada di sekitar wajah bulan. Bulan yang mulai terganggu kemudian membuka mata.
Bulan melotot menatap revan yang ada di depannya. Seketika ia menjauh dan langsung duduk di kasur
" Kok aku tidur sama kamu
?", tanya bulan yang masih belum sadar dan mengamati sekeliling.
" Yah mana aku tahu, bangun-bangun kamu sudah ada di samping aku ", kata Revan sambil ikut duduk di depan bulan. Bulan mencerna keadaan dengan sedikit lambat, setelah melihat handuk dan baskom di atas meja samping tempat tidur bulan baru ngeh kalau ia semalam yang masuk kemari.
" Kamu udah baikan?", tanya bulan sambil mendekat dan menaruh tangannya di kening dan leher Revan untuk memastikan suhu tubuh Revan masih panas atau sudah normal.
" Aku baik-baik aja, emang semalem kenapa?", tanya Revan sambil mengambil tangan bulan yang ada di keningnya.
" Semalam kamu demam, terus aku masuk ngompres kamu terus pas aku mau keluar kamu pegang tangan aku jadi karena kau ngantuk aku rebahan di pinggir dan enggak tahu kapan naiknya ", bulan menjelaskan sambil mengambil tangannya yang masih di genggam Revan. Revan hanya mengangguk angguk aja.
" Kamu mau sarapan apa ?", tanya bulan sambil meregangkan otot tubuhnya, ia menggeliat ke sana kemari untuk melemaskan otot-otot di tubuhnya yang baru bangun. Revan melongo menyaksikan bulan melemaskan otot, entah bulan sengaja atau tidak ia memakai kaos putih kebesaran dan agak tipis membuat dua puncak gunung miliknya terlihat, walaupun samar-samar. Revan menarik tangan bulan dan menyentaknya sehingga bulan duduk di atas pahanya
__ADS_1
" Apa yang kamu lakukan", kata bulan memberontak berusaha menyingkir dari atas paha Revan.
" Kamu sengaja menggodaku kan?", tanya Revan sambil menatap ke dalam mata bulan. Tangannya melingkar di pinggang bulan dengan erat sehingga membuat dada mereka menempel. Bulan yang baru sadar ketika dada mereka menempel semakin berontak, karena ia ingat semalam ia tidak memakai bra dan pagi ini Revan sengaja menempelkan dada mereka.
" Revan lepas ", kata bulan sambil melepas tangan Revan dari pinggangnya.
" Kamu terlalu menggoda untuk di lewatkan ", kata Revan sambil ******* bibir bulan. Bulan melotot ketika Revan mulai menciumnya brutal. Tangan Revan memegang tangan bulan agar tidak berontak. Bulan menepuk dada Revan ketika ia mulai kehilangan nafas. Revan melepas tautan bibir mereka, tetapi pindah menjelajahi leher bulan mengecup pelan, menghisap dan meninggalkan satu tanda merah. Bulan menendang revan pada bagian perut dan lari menuju pintu keluar disaat Revan tadi sibuk mengecupi lehernya dan melepas tautan pinggangnya.
" aduh perutku ", kata Revan sambil memeluk perutnya yang agak perih setelah di tendang bulan.
" Bulan kamu harus membantuku menyelesaikan ini ", kata Revan sambil masih membungkuk menahan perutku yang perih.
" Tidak mau, kamu selesaikan sendiri ", kata Bulan sambil berlari keluar dan menutup pintu kamar Revan. Bulan berlari ke arah kamarnya dan menutup pintu serta menguncinya.
*****
*****
" Uh selamat selamat ", kata bulan bersandar pintu kamarnya sambil mengelus dada dan masuk ke kamar mandi. Selesai mandi bulan memilih pakaian santai. Kaos kebesaran warna hitam dan juga celana pendek longgar. Rambut ia Cepol bebas sehingga tampak berantakan. Bulan berjalan menuju dapur setelah menuruni anak tangga. Bulan ingin membuat bubur ayam karena Revan kemarin demam, walaupun menurutnya hari ini sehat karena bisa menggodanya.
Selesai memasak bulan naik ke kamar Revan karena Revan tidak ada di belakangnya seperti biasa ketika ia masak. Bulan naik ke lantai kamar Revan sambil membawa nampan berisi bubur buatannya dan segelas air beserta obat. Bulan mendorong pintu kamar Revan dengan punggung kemudian masuk. Ia melihat Revan duduk bersandar dasboard kasur. Bulan mengernyitkan dahinya menatap Revan yang sudah berganti pakaian dan rambut setengah basah. Bulan meletakkan nampan di samping tempat tidur revan kemudian duduk di pinggir ranjang, Revan hanya mengamati gerakan bulan.
__ADS_1
" Kamu mandi ?", tanya bulan sambil menyentuh dahi dan rambut Revan.
" Iya, emang kenapa?",tanya Revan sambil menjauhkan tangan bulan dari dahinya.
" Kan kamu masih sakit ", kata bulan
" Ngga papa, udah sembuh kok ", kata Revan padahal sesekali ia mengernyitkan dahinya menahan pusing yang melanda.
" Emang bener ", kata bulan sambil memicingkan matanya ke arah Revan. Revan hanya mengangguk. Bulan mendorong tubuh Revan ke samping
" Aduh jangan dorong - dorong, lan ", kata Revan sambil memegang kepalanya.
" Makanya kalau belum jangan sok sok an udah ", kata bulan sambil mengambil bubur yang ia bawa.
" Kan kamu juga yang bikin aku mandi air dingin", kata Revan dalam hati. Bulan hanya mengernyitkan dahinya tidak paham.
" Ini makan ", kata bulan menyodorkan mangkuk bubur ke hadapan Revan. Revan menegakkan tubuhnya dan memberikan sendoknya kepada bulan.
" Suapin ", kata Revan dengan sendok ter ulur.
" makan sendiri ", kata bulan sambil memalingkan muka, enggan menerima sendok di tangan Revan.
__ADS_1
" Bulan, suapinnnn ", kata Revan sedikit merengek. Bulan yang merasa jengah mengambil sendok di tangan Revan dan mulai menyuapi si bayi besar.