Bunda Untuk Neira

Bunda Untuk Neira
Memutuskan Lola


__ADS_3

Denting suara garpu dan sendok beradu meramaikan pagi ini, diiringi celotehan riang nyonya dan tuan. Namun, Arjuna hanya diam saja. Sesekali melihat layar ponselnya, membaca pesan Lola yang tertulis dalam huruf kapital semua. Nampaknya, kekasihnya jadi marah sekali karena Juna mengabaikan panggilan telepon dan pesannya selama dia berada di Bandung kemarin.


"Sekar mana, Jun?" tanya tuan Beno menatap puteranya yang segera mengangkat wajah sekalian mengangkat bahu.


"Biar Mama yang panggilkan Sekar, Pa."


"Aku aja, Ma."


Arjuna membuat gerakan nyonya yang hendak beranjak itu terhenti. Perempuan itu tersenyum lalu mengangguk.


"Ajak dia turun dan makan bersama, Jun."


Juna mengangguk dan berjalan santai menapaki lantai dan menuju kamar Sekar. Sekar memang menempati kamar bawah berdekatan dengan kama pelayan semenjak tak ada Neira.


Arjuna mengetuk pintu, tak ada jawaban dari gadis itu. Kening Juna berkerut. Dia mendorong sedikit pintu yang ternyata tak terkunci itu. Ada suara air dari kamar mandi, berarti gadis itu sedang mandi.


Juna bukannya keluar tapi malah mengambil posisi duduk di pinggir jendela kamar yang Sekar buka. Tak lama kemudian suara air berhenti diikut bunyi gagang pintu yang dibuka perlahan dan Sekar hampir saja berteriak karena melihat Juna sudah bertengger santai di jendela pinggir jendela kamarnya.


Sekar juga segera meraih handuk kecil yang biasa dia gunakan untuk menggelung rambutnya. Arjuna sendiri masih diam, tatapannya lurus ke arah tubuh Sekar yang hanya terlilit handuk berwarna biru muda. Kulit putih bersih, tubuh yang indah dan berbentuk bak jam pasir. Baru kali ini Arjuna melihat jelas bentuk tubuh Sekar yang hanya tertutup handuk, tercetak sempurna membentuk dan melekuk. Selama ini, Sekar selalu memakai kaus besar santai. Kini, barulah, tubuh yang indah itu tampak terbias jelas dan ah ... Juna kesal mengakuinya jika tubuh itu begitu dia idamkan. Eva tak punya bentuk tubuh seperti itu dulunya. Eva langsing bak model terkenal yang kurang makan karena selalu diet padahal dia memang tak gemuk. Lola? Perempuan itu seksi sekali, bahkan beberapa bagian tubuhnya sudah mendapatkan beberapa sentuhan dokter kecantikan dan dokter bedah. Dan keseksian Lola terpampang ke semua pria, bahkan di club malam langganannya, seringkali perempuan itu hampir telanjang jika bajunya melorot ketika dia mabuk.


Sekar berbeda, dan Juna harus mengakui bahwa gadis itu benar-benar ranum dan segar. Untuk pertama kali, Juna jadi salah tingkah. Dialihkannya kemudian pandangan ke arah luar.


"Cepetan ganti baju, sarapan bareng. Lo udah ditungguin mama sama papa."


Sekar tak menyahut, hanya mengangguk kecil dengan masih saja menutup bagian atasnya dengan tambahan handuk kecil.


"Ya udah, lo keluar dulu, Mas. Kan gue mau ganti baju."


Arjuna tak menjawab lagi, dilangkahkannya kaki lalu keluar dari kamar perempuan itu. Sekar gegas menutup pintu. Dia menatap sebal selop kunci yang memang rusak jadi pintu itu tak bisa terkunci hanya bisa ditutup rapat saja.

__ADS_1


"Gue mesti perbaikin ini pintu. Bisa seenaknya dia masuk kalo gini terus."


Sekar mendesah lelah sambil memilah baju yang akan dikenakannya. Semenjak Sekar resmi diangkat anak oleh orang kaya ini, dia tak lagi diizinkan memakai seragam. Malah kemarin, nyonya memberi uang untuk membeli beberapa potong baju pilihan Sekar.


Rencananya, hari ini dia akan pergi ke pasar. Tak mau ke mall karena dia yakin, baju disana pasti mahal harganya. Seperti biasa, Sekar meraih satu baju kaus oversize berwarna hitamnya lalu dengan celana jeans sebetis. Setelah mengeringkan rambut hingga lembab dan masih setengah basah, Sekar keluar.


"Nah, ini dia. Ayo Sekar, makan yang banyak, mumpung Neira lagi di Bandung jadi kamu bisa santai dan gak kerepotan."


"Iya, Bu," jawab Sekar sambil tersenyum lalu menyendokkan nasi goreng ke piringnya.


Saat sedang mengambil perkedel, Arjuna juga akan mengambil makanan yang sama rupanya. Sekar mengurungkannya, dia mempersilakan Juna mengambil duluan. Namun, ternyata Juna malah meletakkannya ke piring Sekar.


"Makasih, Mas."


Juna tak menyahut, tetap meneruskan makanannya.


"Iya, Pa. Mau ngomongin proyek yang di Medan."


"Oh, oke. Nanti kita barengan aja. Papa juga ikut ke perusahaan hari ini."


Juna mengangguk dan setelah selesai sarapan mereka segera pergi. Tinggal lah Sekar dan nyonya di meja makan.


"Jadi hari ini beli bajunya, Sekar?"


"Jadi, Bu. Mungkin sekitar dua jam Sekar keluar."


"Gak papa, Sekar. Kalau mau pergi ke tempat teman juga gak papa. Kan Neira juga lagi di Bandung."


"Sekar balik cepat, Bu. Selesai beli baju, langsung pulang kok. Paling, Sekar ke rumah adiknya mama dulu, ada beberapa barang yang masih tertinggal kemarin."

__ADS_1


"Ya sudah, kamu hati-hati. Nanti Ibu minta pak Nadim yang antarkan."


"Enggak usah, Bu, Sekar lebih suka naik angkot."


Bu Mira akhirnya mengangguk dan tersenyum juga.


Sementara Sekar sedang berbincang dengan bu Mira. Arjuna dan ayahnya sudah berada di ruang meeting. Arjuna menjelaskan beberapa planning yang diikuti tatapan puas dari tuan Beno. Anaknya memang sangat berwibawa jika sudah di perusahaan.


Sampai akhirnya, seorang karyawan masuk ke dalam ruangan meeting dengan tergopoh-gopoh dan berbisik kepada Arjuna. Mata Juna agak membesar sedikit mendengar informasi itu.


"Aku keluar dulu, Pa. Papa ambil alih sementara ya."


Tuan Beno mengangguk meskipun nampaknya dia sudah bisa menebak apa yang membuat puteranya harus keluar dari ruangan meeting.


Setibanya di dalam ruangan, Juna melihat tempat itu sudah amburadul dengan Lola yang terlihat acak-acakan. Arjuna menatap perempuan itu tanpa ekspresi lalu mendekat ke arah meja telepon.


"Satu petugas kebersihan ke ruangan saya."


Setelah mematikan sambungan telepon itu, Arjuna berbalik dan menatap Lola yang tampak mengatur nafasnya yang masih terengah-engah.


"Dan lo bisa pergi dari sini. Mulai hari ini, kita gak ada hubungan apapun."


"Jun!" pekik Lola tak mengira. Dia pikir Juna akan seperti dulu, mendiamkannya dengan segala cara. Namun, kenapa sekarang pria itu malah memutuskan hubungan dan menyuruhnya pergi.


"Security, bawa dia keluar!" titah Juna semakin membuat Lola berontak tapi dia tak bisa melawan sebab dua security berbadan besar sudah menyeretnya keluar.


Arjuna memejamkan mata sesaat, sebetulnya, dia sendiri sudah lelah dengan Lola. Apalagi restu tak kunjung diperoleh untuknya dalam memperjuangkan perempuan itu. Dan hari ini, Arjuna sudah sampai pada puncak frustasi akan hubungan mereka. Lebih baik tak usah dipaksa, lebih baik mereka berpisah .


Juna terduduk lemas di kursi kebesarannya, tak ada lagi gairah ingin kembali ke ruangan meeting sekarang. Dia hanya mau tenang, diraih kunci mobil dan ia keluar lalu masuk ke dalam lift yang akan mengantarnya ke basement perusahaan. Entah kemana dia akan pergi setelah ini.

__ADS_1


__ADS_2