
Nyonya Mira melepaskan kepergian Ema menuju perusahaan yang sekarang dipimpin oleh putera tampannya itu. Ia melambaikan tangan dengan sukacita.
Perjalanan Ema menuju perusahaan Arjuna tak terlalu lama, dia segera turun dan meminta agar supirnya segera pulang karena ingin bersama Arjuna lebih lama.
Arjuna yang tengah berada di dalam ruangan dan sedang mencermati sebuah proposal, mendengar sekretaris di depan sedang bicara di depan bel.
"Ada tamu untuk Pak Juna."
"Siapa, Hes?"
"Namanya Ibu Ema, Pak."
Juna diam sebentar, menarik nafasnya panjang kemudian sebelum akhirnya menjawab.
"Suruh masuk saja."
Tak lama berselang, Ema masuk. Perempuan itu nampak cantik, Arjuna tersenyum sekilas menatapnya.
"Baru sampe Jakarta?" tanya Arjuna berbasa basi.
"Udah satu jam-an yang lalu, Mas. Mas Juna lagi sibuk?"
"Sedikit, Em."
"Kalo gitu, aku tunggu mas Juna ya."
__ADS_1
Arjuna mengangguk saja. Ema duduk di sofa kini sambil membaca sebuah majalah. Di sana ada foto Arjuna yang tampak tampan dengan kemeja ketat berwarna putih yang kancingnya terbuka beberapa. Garis otot perutnya membuat Ema menahan nafas dan membayangkan betapa mendamba dirinya jika berada dalam kungkungan lelaki itu.
Saat tengah asyik berkhayal, baik Arjuna maupun Ema terkejut ketika seseorang menerobos masuk. Lola berdiri dengan marah, tatapannya terarah lurus kepada Ema.
"Jadi dia yang bikin kamu mutusin aku, Jun?!" teriak perempuan itu sementara sekretaris Arjuna kawalahan menyeret Lola untuk keluar.
Arjuna berdiri, didekatinya Lola dengan tatapan lelah dan tak suka.
"Kamu siapa? Saya Ema, saya akan segera menikah dengan Arjuna."
Belum sempat Juna menenangkan Lola, Ema menambah amukan perempuan itu. Lola bersiap hendak menjambak rambut Ema tetapi Ema melawan dengan menahan tangannya.
"Sialan lo ya! Arjuna itu cowok gue dari lama! Elo, sama kakak lo yang udah mati itu sama-sama gak tahu malu udah ngerebut Arjuna dari gue!"
"Gue kenapa?! Gak ada yang salah dari gue!"
Ema menggeleng melihat Lola yang kesetanan. Arjuna kemudian menarik Lola dari hadapan Ema, membawa perempuan itu keluar. Ema menatap keduanya dengan pandangan menyelidik.
"Kita gak ada hubungan apapun lagi, La. Gue udah capek sama hubungan kita. Lagipula, selama ini gue sadar, kita emang gak akan bisa bersatu."
"Tapi aku yang udah temenin kamu dari lama, Jun! Aku bakal berubah, aku ubah penampilanku, aku bakal sayang sama Neira. Bila perlu aku gak jadi model lagi. Aku janji, Jun."
"Gak perlu, La. Semuanya udah selesai. Kalo lo mau berubah harusnya dari kemarin. Sekarang udah telat. Sekarang gue minta sama lo, buat gak temuin gue lagi."
Arjuna berbalik, sudah beberapa langkah kakinya, suara Lola kembali terdengar membuatnya menghentikan langkah.
__ADS_1
"Aku yakin bukan karena Ema kamu ninggalin aku, Jun! Aku tahu gimana kamu kalo lagi jatuh cinta! Dan aku sama sekali enggak lihat kamu jatuh cinta sama Ema!"
Arjuna terdiam, tak dihiraukannya Lola yang masih saja berteriak seperti orang gila. Namun, setibanya di ruangan, dia jadi kepikiran apa yang dikatakan oleh Lola barusan. Memang betul, bukan karena Ema dia meninggalkan Lola. Ada hal lain, sesuatu yang sulit untuk dia jabarkan sendiri.
Lalu pandangan Arjuna berkeliling, baru disadarinya Ema tak lagi ada di ruangan itu. Arjuna tidak berusaha mencari, lebih bagus memang jika Ema pergi.
"Apa maksud kamu, Arjuna meninggalkan kamu bukan karena saya?"
Lola berbalik, ternyata, Ema sempat mengikuti kemana Juna dan Lola pergi bertengkar tadi dan sekarang dia kembali berhadapan dengan mantan kekasih Arjuna itu.
"Gue lebih dulu kenal Juna daripada lo, bahkan jauh sebelum dia menikah sama kakak lo yang udah mati itu. Gue tahu siapa Arjuna. Lo jangan ge-er. Belum tentu Juna itu punya perasaan yang sama kayak lo ke dia."
"Kamu cuma gak bisa menerima kenyataan kalau saya adalah perempuan yang pantas untuk Arjuna."
"Hahaha, percaya sama gue, Ema, Arjuna itu gak ada sedikit pun perasaan sama lo. Lo harus tahu, Arjuna gak mudah jatuh cinta kecuali sama perempuan yang benar-benar bisa mengusik hati dia. Dan gue gak lihat itu dari tatapannya ke elo."
"Terserah apa kata kamu, yang jelas saya dan Arjuna akan menikah gak lama lagi."
"Lo terlalu percaya diri. Gue berani jamin, Arjuna sekarang bukan lagi suka sama lo, tapi sama orang lain."
"Orang lain? Kamu terlalu mengada-ada. Arjuna juga udah setuju dengan rencana pernikahan kami kelak!"
"Percaya diri lo, sebentar lagi lo pasti kegeser sama anak bau kencur itu!"
Ema mengerutkan dahi, sementara Lola berjalan cepat meninggalkan perempuan itu. Lalu pikiran Ema tertuju pada satu nama, Sekar.
__ADS_1