Bunda Untuk Neira

Bunda Untuk Neira
Kejutan Dari Nyonya


__ADS_3

"Jun, nanti Ema ke sini sama Neira. Abis itu kayaknya mau nyusul kamu ke perusahaan."


Juna yang sedang menyantap makanannya menatap mamanya lalu hanya mengangguk kecil. Sekar sendiri hanya diam, dia makan dengan perlahan.


"Sekar, nanti ikut Ibu."


"Iya, Bu." Sekar menjawab pelan.


Juna dan Sekar saling berpandangan kemudian.


"Ema jadi tinggal di Jakarta, rumahnya yang di Jakarta Utara itu udah jadi, Pa."


"Gitu ya, Ma? Baguslah kalau begitu. Biar dia gak jauh juga mau nyamperin Neira."


"Loh iya, Pa, kan Ema juga mesti ngurusin perusahaan papanya juga yang di sini, makanya dia harus pindah ke Jakarta."


"Nah, beruntung kamu, Jun, nanti kalo mau ketemu Ema gak jauh-jauh lagi."


Arjuna hanya diam dan mengangguk atau menimpali sekedarnya saja. Dia menghabiskan sarapannya dengan cepat. Setelah itu pamit untuk langsung ke perusahaan.


Berbeda dengan Arjuna yang menanggapi malas kehadiran Ema, Sekar malah jadi tersenyum. Itu artinya, dia akan segera bersama Neira lagi. Namun, katanya nyonya mau mengajaknya keluar kelak, entah kemana, Sekar hanya ikut saja.


Betul memang, beberapa jam kemudian, nyonya sudah rapi dan terlihat anggun sekali. Sekar sendiri hanya memakai kaus biasa dan celana jeans juga sepatu. Rambutnya di kuncir kuda, terlihat fresh.

__ADS_1


"Nanti kalau udah sampai di tempatnya, kamu bebas pilih mau jurusan apa. Kebetulan memang sedang penerimaan mahasiswa baru."


Sekar belum terlalu mengerti apa yang nyonya besar itu katakan sepanjang perjalanan mereka. Namun, matanya membulat sempurna ketika melihat gerbang tinggi universitas impiannya sejak lama. Sekar memandang nyonya tak percaya.


"Bu?"


"Iya, Sekar. Ibu mau kamu kuliah."


"Tapi, Bu ..."


"Gak papa. Kamu pasti pengen kuliah kan?"


Sekar mau tak mau jadi mengangguk pelan. Dia sendiri bingung harus senang atau sedih. Dia senang karena akhirnya dia bisa kuliah di tempat yang sudah lama dia impikan, tapi dia sedih karena itu berarti dia pasti akan kehilangan banyak waktu untuk Neira.


"Nyonya Mira. Lama tidak bertemu."


Sekar melihat dua sebaya dengan kedudukan sama-sama tinggi itu saling bersalaman. Sekar duduk di sampingnya. Ia hanya diam menyimak apa saja yang dibicarakan oleh mereka. Secara garis besar, Sekar bisa dengan mudah diterima di sana.


"Semua sudah diurus, Sekar. Kamu tinggal mengikuti perkuliahan saja."


Sekar tidak langsung menanggapi, di hanya mengangguk kecil karena ibu masih ingin berbincang banyak hal dengan petinggi kampus itu.


"Bu, boleh Sekar minta sesuatu?" tanya Sekar pelan setibanya mereka di dalam mobil yang sudah mulai melaju pulang.

__ADS_1


"Boleh, Sekar. Katakan saja, Nak."


"Sekar mau tetap ikut test seperti yang lainnya, Bu. Juga ikut ospek kayak yang lain."


Nyonya tampak mengerutkan kening. Dia hanya ingin Sekar tak bersusah payah.


"Kamu tinggal ikut kuliah aja loh, Sekar. Ibu sudah urus semuanya. Ibu cuma gak mau kamu nanti capek-capek."


"Gak papa, Bu. Boleh ya, Bu?"


Akhirnya melihat wajah memelas Sekar, nyonya besar itu akhirnya mengangguk. Dia meraih ponsel dan kembali sibuk bicara dengan orang yang tadi ditemuinya di kampus.


"Udah beres, Sekar. Test nya dimulai minggu depan. Kamu persiapkan diri saja ya."


Sekar tersenyum lalu mengangguk. Dia betul-betul bersyukur dengan kehidupannya sekarang.


"Bu, makasih ya. Sekar rasanya malu, apa-apa Ibu selalu kasih Sekar yang terbaik."


"Kamu kan sudah ibu angkat anak sendiri, Sekar. Jadi, Ibu akan memperlakukan kamu sama kayak Juna."


"Tapi, Sekar tetap boleh asuh Neira kan, Bu?"


"Iya, tentu aja. Kalau kamu selesai kuliah, kamu bisa jaga Neira. Lagian Neira sekarang udah gak rewel lagi kok."

__ADS_1


Sekar tersenyum lalu mengangguk, dia benar-benar bersyukur dan berjanji tidak akan mengecewakan ibu dan ayah angkatnya itu.


__ADS_2