
"Kemana sih dia mau ajak gue?"
Di dalam kamar mandi, Sekar jadi bertanya-tanya. Dia sedang mandi di kamar belakang, kamar mandi yang memang diperuntukkan bagi para pelayan. Meski Sekar kini sudah diangkat anak oleh nyonya dan tuan, tapi dia tidak ingin para pelayan merasa cemburu sosial, lagipula bagi Sekar, tak ada yang perlu diistimewakan, dia sama saja dengan yang lain.
Sekar sesungguhnya baru saja pulang dari rumah baru Ema. Rumah yang cukup besar untuk ditinggali dia seorang. Sekar masih ingat bagaimana Ema seringkali mencuri pandang dan kedapatan seperti sedang menilik dirinya begitu lekat. Seolah ada yang salah, entah apa.
"Mama ajak Sekar?"
Sempat pula terlontar pertanyaan itu dari Ema. Sekar hanya tersenyum kecil, merasa tak enak sebab nampaknya, calon istri Arjuna pilihan nyonya itu tak begitu suka dengan kehadirannya, meski dia bertanya dengan nada yang dibuat ramah, dan wajah yang selalu tersenyum. Namun, Sekar seorang yang perasa, dia bisa merasakan bahwa sebetulnya, Ema nampak terganggu dengan kehadirannya.
"Iya, Em. Mama memang mengajak Sekar karena memang Mama suka ditemani Sekar kemana saja. Mama berasa punya anak gadis sekarang. Ditemani belanja atau ke tempat-tempat kesukaan Mama. Nanti juga mau Mama ajak ke tempat arisan, biar semua teman Mama kenal juga dengan Sekar."
"Oh, sedekat itu ya, Ma."
Ema tersenyum ke arah Sekar dan dibalas dengan hal yang sama. Lalu, nyonya dan Ema sudah terlibat dengan perbincangan serius mengenai rencana pertunangan Arjuna dan dia. Sekar hanya menyimak saja, meski ketika mendengarnya, ada rasa yang lain di dalam hati Sekar.
"Aku sudah bicara sama mama dan papa, gimana kalo pertunangan aku dan mas Juna dipercepat minggu depan, Ma?"
__ADS_1
Nyonya Mira tampak mengerutkan keningnya, Sekar hanya diam menyimak dengan perasaan yang kini jadi campur aduk. Dia sendiri heran kenapa hatinya begitu khawatir kini. Seperti ada yang berontak, apalagi ketika tatapannya dan Ema kembali bertemu kala itu.
"Loh, kenapa dirubah lagi, Em? Mama belum sempat bicara sama Juna. Kan sudah disepakati bulan depan karena sekarang Arjuna itu betul-betul sedang sibuk ngurusin proyek perusahaan."
"Ehmmmmm, gimana ya, Ma. Aku cuma pengen semua berjalan lancar aja sih, Ma. Soalnya, bulan depan juga aku kayaknya bakal sibuk banget. Mungkin ada perjalanan bisnis ke luar negeri juga."
Mendengar hal itu, nyonya jadi tampak berpikir sejenak. Dia akhirnya menatap Ema.
"Baiklah, Mama coba bicarakan dulu sama papa dan Juna."
"Aku yakin mereka pasti setuju juga kok, Ma. Iya kan, Sekar?"
Kini, lamunan Sekar berganti, seiring ketukan keras di pintu kamar mandi. Suara pelayan lain yang mungkin kebelet buang air kecil terdengar bersahutan dengan ketukan yang ia lakukan.
"Sebentar, Bi." Sekar berseru seraya menyudahi mandinya dan memakai handuk.
Sekar keluar dan pergi ke kamarnya. Dia segera berganti baju, tak lupa dikuncinya juga pintu. Waktu saat ini sudah menunjukkan pukul lima sore, sebentar lagi Arjuna pasti pulang.
__ADS_1
Sekarang, Sekar sudah rapi, bergegas dia menuju ke taman belakang dimana nyonya sedang bersama Neira. Neira sudah wangi karena Sekar sudah memandikannya sebelum dia sendiri mandi tadi.
"Juna sekarang pulangnya tepat waktu terus. Dia pasti kerasan tinggal di rumah semenjak kamu Ibu angkat jadi anak, Sekar."
Sekar tersenyum kecil, dia hanya mengangguk pelan. Sekarang dia sibuk mengajak Neira berjalan pelan di atas rerumputan, tangan keduanya bertaut, Neira tertawa-tawa riang membuat hati Sekar begitu sejuk.
"Neira ..."
Suara yang begitu familiar terdengar, membuat nyonya dan Sekar menoleh. Arjuna mendekat dengan membawa mainan untuk puterinya. Senyum Neira merekah, berlari-lari kecil diikuti Sekar di belakang yang memegangnya dengan hati-hati.
"Papa pulang, Sayang. Papa bawa ini buat Neira."
Nyonya melihat itu sambil tersenyum pula, dia suka dengan perubahan yang terjadi pada Arjuna sekarang. Sekar juga berada dalam jarak yang begitu dekat dengan Arjuna kini. Nyonya melihat mereka memang cocok sebagai kakak dan adik. Namun, tatapan yang Arjuna berikan justru tak seperti itu, tatapan itu seperti seorang lelaki yang memandang perempuan dewasa yang sudah layak untuk bercinta-cintaan.
Tak bisakah sang nyonya melihatnya?
"Habis Neira tidur entar, gue tunggu di gerbang belakang."
__ADS_1
Sambil menyerahkan Neira kepada Sekar, sekalian Arjuna berbisik pelan, tapi Sekar tentu bisa mendengarnya. Dan jarak mereka yang cukup dekat itu membuat aroma wangi rambut Sekar seolah menempel di hidung mancung lelaki itu. Membuatnya penasaran dengan aroma bagian yang lain. Sungguh, sebetulnya saat ini Arjuna sendiri merinding dengan sesuatu yang bergejolak nakal dalam benaknya.
Dan Sekar, entah mengapa, dia sendiri seolah bisa merasakannya dan sialnya dia tidak bisa menghindar. Sekar rasa, hatinya kini sedang tersesat.